Peran Vital Televisi dalam Pendidikan dan Membangun Karakter Bangsa
Media dalam hal ini televisi, memiliki peran vital dalam dunia
pendidikan. Fungsi itu terletak dari dampak positif yang diakibatkannya.
Karenanya, fungsi-fungsi baik tersebut mesti diperluas dengan juga
mencegah dan mempersempit dampak negatif yang ditimbulkan dari siaran
televisi.
Demikian diungkapkan Wakil Menteri Pendidikan
Nasional, Fasli Djalal, saat menjadi narasumber acara media gathering
KPI Pusat yang bertemakan “Pendidikan dan Penyiaran: Mewujudkan Program
Siaran yang Mendidik,” di kantor KPI Pusat, Rabu, 22 Desember 2010.
Siaran-siaran
televisi yang baik dan mempunyai unsur pendidikan bagi publik harus
dibuat lebih banyak dan disiarkan. “Kita akan mencoba berdialog langsung
dengan produser-produser program acara. Upaya ini sebagai bentuk
pemberian masukan soal motivasi dan hal-hal yang baik yang harusnya
masuk dalam sebuah program tersebut,” jelas Fasli Djalal.
Sementara
itu, ditempat yang sama, anggota Komisi X DPR RI, Dedi S. Gumilar atau
biasa dipangil Miing, menekankan sejumlah hal soal pendidikan dalam
penyiaran dari sisi politis. Menurutnya, penyiaran atau siaran yang baik
adalah produk siaran tersebut bermanfaat bagi masyarakat luas.
Persaingan
tidak sehat dengan menjadikan rating sebagai kiblat utama membentuk
program siaran, dianggap Dedi tidak pernah memperhatikan akibat yang
terjadi di masyarakat di masa berikutnya terhadap karakter bangsa.
Menurutnya, kehilangan karakter bangsa merupakan hal yang sangat
berbahaya.
“Jika bangsa ini mau beradab dan berbudaya medium
utamanya ada di pendidikan. Dan itu, bisa dilakukan melalui siaran
televisi,” jelas Dedi di depan peserta yang sebagian besar datang dari
praktisi penyiaran.
Dalam kesempatan itu, Dedi juga sempat
menyinggung persoalan tayangan kebanci-banci di televisi. Menurutnya,
efek lucu dari tayangan tersebut tidak akan lama justru yang paling
panjang adalah efek sosialnya. “Pada saat saya masih sering melawak di
televisi, tidak pernah saya membawa peran banci dalam acara tersebut.
Kita tidak pernah memikirkan ongkos sosial akibat tayangan kebancian.
Saya harap ini dipikirkan juga,” ungkapnya.
Wakil ketua KPI
Pusat, Nina Mutmainnah, ketika memberikan sambutan di awal acara
menyatakan akan mengupayakan literasi media masuk ke dalam kurikulum
sekolah. Saat ini, katanya, KPI sedang membicarakan adanya MoU dengan
Kementrian Diknas terkait persoalan tersebut. “Kita ingin mewujudkan isi
siaran yang sehat, cerdas dan punya efek baik, salah satu caranya isi
siaran tersebut bermuatan unsur yang mendidik,” harapnya.
Selain
kehadiran ke dua narasumber tersebut, turut hadir perwakilan dari ATVSI
sebagai salah satu narasumber dalam acara tersebut. Sebagai moderator di
acara tersebut, anggota KPI Pusat bidang Kelembagaan, Idy Muzayyad. Red/RG