Diet TV, Alternatif Kurangi Dampak Isi Siaran
Denpasar - Diet televisi dinilai bisa menjadi benteng terhadap pengaruh buruk isi siaran bagi anak-anak dan remaja. Dengan diet televisi, setiap orangtua juga bisa menyaring mana yang baik dan mana yang buruk untuk menjadi perhatian.
Pernyataan tersebut disampaikan Anggota KPI Pusat bidang Kelembagaan, Azimah Soebagyo, saat menyampaikan materinya di sesi ke III Training of Trainer (ToT) Literasi Media KPI di Hotel Dhyana Pura, Bali, Kamis, 14 Juli 2011.
Menurut Azimah, ada beberapa prinsip terkait diet televisi yakni menonton televisi tidak lebih dari 2 jam sehari, menyiapkan sajian televisi yang seimbang, dan berusaha menciptakan suasana demokrasi bukan kediktatoran ketika menonton televisi.
“Kita harus mencoba tips pelaksanaan diet televisi seperti tidak menempatkan pesawat televisi di dalam kamar, membuat tempat menonton televisi menjadi tidak nyaman, mematikan televisi pada saat makan, menyetop penggunaan remote untuk pilih program televisi, menggunakan jadwal acara televisi di surat kabar sebagai panduan, dan berhenti berlangganan televisi berbayar dengan mengalihkan anggarannya untuk beli buku atau alat olahraga,”jelas Azimah.
Dalam kesempatan itu, Azimah juga mengingatkan tentang pentingnya literasi media bagi publik. Menurutnya ada beberapa pertimbangan mengenai ini antara lain, perkembangan media yang luar biasa cepat dengan penetrasi yang sangat tinggi dan persaingan antar lembaga penyiaran yang berorientasi komersil dan tidak memikirkan aspek edukasi serta dampaknya di masyarakat.
“Setiap orang perlu memahami “bahasa” yang digunakan oleh setiap jenis media agar bisa memahami isi media dengan optimal. Selain itu, perilaku bermedia pada kebanyakan keluarga di Indonesia masih belum kritis dan cerdas, sehingga sering terjadi dampak negatif. Melalui literasi media, publik bisa lebih dioptimalkan,” kata Azimah. (Red/RG)