Peran Mahasiswa Mewujudkan Eksosistem Media yang Sehat, Kritis dan Berbudaya

Sumenep -- Mahasiswa Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura diajak berperan aktif dalam mewujudkan ekosistem media yang sehat, kritis, dan berbudaya. Tak hanya menjadi konsumen informasi maupun pembuat konten, mahasiswa juga diharapkan mampu menjaga kualitas informasi serta memperkenalkan kekayaan budaya lokal melalui media.

 

Pesan tersebut disampaikan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur dalam kegiatan stadium general bertema “Harmoni Penyiaran di Jawa Timur: Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Ekosistem Media Sehat dan Berbudaya” yang digelar di Aula Pesantren UNIBA Madura, Rabu (14/10/2026) lalu.

 

Dalam paparannya, Komisioner KPID Jatim Rosnindar Eko Rahardjo, menyoroti perubahan pola akses informasi masyarakat. Menurutnya, kehadiran media sosial dan telepon pintar membuat generasi muda semakin banyak memperoleh informasi melalui platform digital dibandingkan media penyiaran konvensional seperti televisi dan radio.

 

“Perubahan ini tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan kepedulian terhadap dunia penyiaran. Mahasiswa harus memahami perkembangan media sekaligus menjalankan tanggung jawabnya sebagai pengguna dan pembuat konten,” ujarnya.

 

Dia menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa memilah informasi, mengenali hoaks, serta membedakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dari konten yang berpotensi menyesatkan masyarakat. Kemampuan akademik yang dimiliki mahasiswa diharapkan menjadi bekal untuk bersikap kritis ketika menerima maupun menyebarkan informasi. “Popularitas dan viralitas bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah konten. Kebenaran, kualitas, dan manfaat bagi masyarakat harus menjadi pertimbangan utama,” kata Rosnindar.

 

Pihaknya (KPID Jatim), juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam memperkenalkan budaya lokal. “Mahasiswa Madura memiliki peluang besar memanfaatkan media digital untuk mengangkat potensi daerah, tradisi, dan kekayaan budaya agar semakin dikenal masyarakat luas,” ucapnya.

Komisioner KPID Jawa Timur (Jatim) saat menjadi narasumber dalam kegiatan stadium general bertema “Harmoni Penyiaran di Jawa Timur: Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Ekosistem Media Sehat dan Berbudaya” yang digelar di Aula Pesantren UNIBA Madura, Rabu (14/10/2026) lalu.

 

Rosnindar menambahkan bahwa ruang digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dan pertukaran informasi, tetapi juga dapat menjadi wadah memperkuat identitas budaya daerah. Dengan kreativitas yang dimiliki, mahasiswa dapat ikut menceritakan potensi daerahnya melalui konten yang menarik sekaligus bertanggung jawab.

 

Sementara itu, Komisioner KPID Jatim, Malik Setyawan, menyatakan masyarakat bukan semata-mata hanya penonton, melainkan pihak yang dapat berpartisipasi mengawasi isi siaran dan menyampaikan pengaduan jika menemukan tayangan yang diduga tidak sesuai ketentuan. “Masyarakat memiliki hak untuk mengawasi isi siaran dan menyampaikan pengaduan. Partisipasi publik menjadi bagian penting agar isi siaran tetap memperhatikan etika, norma, dan kepentingan masyarakat,” jelasnya.

 

Malik menambahkan, pengawasan penyiaran diperlukan untuk mendorong lembaga penyiaran lebih bertanggung jawab dalam menyajikan informasi dan hiburan kepada masyarakat. Meski televisi, radio, dan media sosial memiliki karakteristik serta mekanisme pengawasan yang berbeda, masyarakat tetap perlu membangun kebiasaan bermedia yang kritis, menghormati orang lain, dan tidak sembarangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

 

Menutup kegiatan ini, Ketua KPID Jawa Timur, Royin Fauziana, menyampaikan peran mahasiswa tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kontribusi dalam menjaga ruang informasi yang sehat dan memperkenalkan budaya lokal kepada publik. “Mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pengguna teknologi. Peran mereka sangat penting dalam menjaga ruang informasi yang sehat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada publik,” ujar Royin.

 

Bahkan, lanjutnya, terwujudnya ekosistem media yang sehat dan berbudaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari lembaga penyiaran, lembaga pengawas, hingga masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa sebagai generasi yang aktif memanfaatkan ruang digital. “Kolaborasi semua pihak menjadi kunci. Lembaga penyiaran, lembaga pengawas, dan masyarakat, termasuk mahasiswa, harus bersama-sama menjaga ekosistem media yang sehat dan berbudaya,” pungkasnya. Red dari KPID Jatim