Mahasiswa Jangan Asyik Respon Politik

Jakarta - Peran serta masyarakat mewujudkan penyiaran yang sehat dan berkualitas sangatlah penting. Hal tersebut diungkapkan oleh Idy Muzayyad ketika menerima kunjungan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Nasional (UNAS) di kantor KPI Pusat, Jakarta. Menurut Idy, KPI tidak dapat berjalan sendirian, butuh kerjasama dari berbagai pihak termasuk masyarakat.

Kalangan masyarakat lapisan bawah (grassroot) menjadi penonton terbanyak televisi. Penonton pasif yang belum bisa memilih dan memilah program tayangan yang baik. “Ini menjadi tugas utama masyarakat kelas menengah yang mayoritas berpendidikan tinggi untuk mendampingi dan mengajarkan mereka agar lebih sadar media dan menjadi penonton aktif,” ajaknya.

Idy mengimbau mahasiswa UNAS agar gerakan mahasiswa tidak terlalu asyik menanggapi isu-isu politik saja tetapi juga isu media penyiaran yang tidak kalah penting. Gerakan mahasiswa menanggapi media penyiaran merupakan perwujudan sikap kritis mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. Ketika ditanya berkaitan dengan diversity of content dan diversity of ownership, Idy menjawab televisi yang menggunakan frekuensi harus dimiliki oleh publik. Dengan begitu, televisi mewakili suara rakyat yang lebih banyak. “Jika televisi yang menggunakan frekuensi hanya dimiliki oleh sebagian orang atau keleompok tertentu maka televisi tersebut hanya mewakili kelompok kecil saja,” terangnya.

Sebelumnya, Nina Mutmainnah, Wakil Ketua KPI Pusat dalam sambutannya menyampaikan kondisi KPI saat ini. Nina menggambarkan industri penyiaran di Indonesia yang telah lahir dan berkembang maju lebih dulu daripada KPI. "Idealnya regulasi lahir lebih dulu, baru industrinya," jelas Nina. Meskipun kondisinya seperti ini, menurut Nina, KPI tetap menjalankan tugas, fungsi, dan wewenangnya sesuai dengan amanat Undang-Undang no. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. [Red/AN]