Digempur Platform Digital, KPI Percaya Radio Tetap Menjadi Sumber Informasi Terpercaya bagi Publik

Jakarta – Radio masih memiliki tempat di tengah derasnya perkembangan platform digital dan media sosial. Di usia ke-81 Radio Republik Indonesia (RRI), momentum Hari Radio Nasional pada 11 September 2026 menjadi pengingat bahwa radio tidak sekadar bertahan, tetapi terus beradaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat. Hal tersebut disampaikan Widhie Kurniawan selaku anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bidang pengembangan kebijakan dan sistem penyiaran dalam program Jendela Negeri di TVRI, Jumat, (11/9/2026).
Jurnalis senior yang lebih dari tiga puluh tahun bersama RRI ini meyakini bahwa kekhawatiran radio akan ditinggalkan masyarakat akibat kehadiran media digital belum sepenuhnya terbukti. Widhie mengungkap, dalam surveu Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masih ada dua puluh lima juta pendegar radio di Indonesia.
Dalam konferensi Asian Broadcasting Union (ABU) beberapa tahun silam, ungkap Widhie, diputuskan bahwa radio harus melakukan interactivity dengan platform media lainnya. Jadi kalau radio sudah punya playlist yang hendak diputar misalnya, media sosial dapat digunakan untuk menjaring minat pendengar. “Spill sedikit apa lagu yang mau diputar, kenangannya seperti apa, kemudian ajak audiens mendengarkan lewat radio,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai Vice President ABU.

Radio punya kekuatan pada integritas informasi yang dapat dipercaya. Di tengah maraknya hoaks di media sosial, radio harus mengambil peluang memperkuat posisi sebagai sumber informasi yang terpercaya di tengah masyarakat. “Karena kemampuan dasar bagi penyiar radio adalah jurnalistik yang mewajibkan adanya verifikasi informasi secara disiplin,” tambahnya.
KPI sendiri, sebagaimana yang dipesankan Menteri Komunikasi dan Digital dalam pengukuhan, tidak sekedar menjadi pengawas yang memberikan sanksi atas segala kesalahan lembaga penyiaran. KPI juga harus ikut serta menjaga ekosistem penyiaran berlangsung dengan adil dan dapat berkontribusi pada peningkatan perekonomian nasional.
Widhi juga mengingatkan radio agar tidak melihat digitalisasi sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang kolaborasi. Radio dapat memadukan siaran audio dengan visual dan interaksi melalui media sosial tanpa kehilangan karakter utamanya. Dia menilai, prinsip terpercaya, berdampak dan relevan yang diusung RRI harus dijadikan fondasi penyiaran radio saat ini. Bagaimana pun juga, kecepatan informasi tidak cukup apabila tidak diikuti verifikasi dan kualitas jurnalistik, tegasnya.
Sedangkan dari sisi bisnis, Widhie melihat banyak peluang yang harus dapat diambil radio swasta melalui kegiatan off air dan berinovasi pada program digital. Kedekatan yang menjadi karakteristik utama radio dengan pendengar, harus dikelola menjadi kekuatan yang juga membantu radio tetap bertahan di tengah gempuran beragam platform digital. Widhie mengungkap eksistensi radio di negara-negara Eropa salah satunya karena informasi yang dekat dengan masyarakat dan membumi.
Widhi yakin jika prinsip terpercaya, berdampak dan relevan ini dijalankan, radio akan terus eksis dan menjadi teman paling nyaman bagi publik dalam kehidupan mereka sehari-hari,” pungkasnya.