- Detail
- Dilihat: 15598
Jakarta - Keikutsertaan media penyiaran dalam sistem peringatan dini bencana dinilai sangat strategis. Terutama untuk meminimalisir dampak kerugian atas bencana yang terjadi. Mengingat tidak semua bencana dapat diperkirakan sebelumnya, sehingga sosialisasi kesiagaan masyarakat atas terjadinya bencana harus sering dilakukan, tidak saja lewat instansi pemerintah namun juga lewat media. Hal tersebut terungkap dalam acara Workshop Perencanaan Media sebagai bagian yang terintegrasi dalam sistem peringatan dini tsunami di Indonesia, di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (4-5/6).
Dalam workshop dua hari yang diikuti Azimah Subagijo dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, media diminta berperan dalam mata rantai sistem peringatan dini bencana, terutama pada gempa yang berpotensi tsunami. Hal ini mengingat hasil penelitian BMKG, potensi tsunami di Indonesia rata-rata dapat terjadi hanya dalam kisaran sepuluh menit setelah terjadinya gempa pertama. “Disinilah media berperan menginformasikan pada masyarakat untuk menyelamatkan diri dan meminimalkan kerugian”, ungkap Azimah.
Akan tetapi, tambahnya, mengondisikan masyarakat untuk sigap menghadapi bencana tidak bisa hanya pada saat bencana terjadi. Masyarakat butuh diedukasi terus menerus oleh media, tegasnya. Secara rinci, komisioner KPI Pusat bidang kelembagaan menyatakan ada tiga fungsi media dalam keadaan darurat bencana, ujarnya. Yakni pra bencana (mitigasi), tanggap darurat, serta Rehabilitasi dan Recovery.
Dalam fase pra bencana, media diharapkan mengedukasi masyarakat agar siap menghadapi bencana. “Apalagi datangnya bencana tersebut jarang dapat diprediksi”, ujar komisioner KPI bidang kelembagaan ini. Selanjutnya fase tanggap darurat yang meminta media punya frame berpikir penuh empati pada korban bencana, selain tentu saja menyajikan informasi yang lengkap dan akurat. Terakhir yang juga tak kalah penting, ujar Azimah, adalah saat rehabilitasi dan recovery. “Media punya peran control sosial agar lembaga-lembaga berwenang menjalankan fungsi yang optimal dalam menyalurkan bantuan”, tegas Azimah.
Sementara itu, menurut Bogi Sujatmiko, belajar dari penanganan bencana Badai Katerina di New Orleans, Amerika Serikat, media penyiaran di sana menunjukan sensitivitas tinggi atas krisis. “Seluruh siaran terhenti dan terus memutakhirkan citra awan spiral dan badai Katerina di televisi. Sehingga masyarakat dapat segera meninggalkan lokasi yang diperkirakan terjadi bencana dan ketika badai Katerina menerjang New Orleans, wilayah tersebut sudah kosong”, papar Bogi dari Biro kerjasama dan pemasyarakatan LIPI.
Pengorbanan media untuk menghentikan program, yang sebenarnya berdampak pada pendapatan, untuk kemudian menyiarkan update berita di saat genting inilah yang menurut Bogi harus ditiru oleh media di tanah air. Dalam aturan yang dibuat oleh KPI di Pedoman Perilaku Penyiaran dan Sistem Program Siaran (P3 & SPS) memang sudah diatur mengenai tayangan peliputan bencana. Namun belum memberi kewajiban pada lembaga penyiaran untuk menghentikan tayangan apapun, untuk menyiarkan STOP PRESS atau BREAKING NEWS terkait bencana, baik gempa ataupun tsunami. Azimah berjanji, akan menjadikan hal ini sebagai pertimbangan dalam penataan siaran ke depan.
Kupang – KPI Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan Grand Design Penyiaran NTT 2012-2018, Selasa, 5 Juni 2012. Ini menempatkan KPI Daerah NTT sebagai pioner pelaksanaan Grand Design Penyiaran di Indonesia.
Jakarta - Beberapa tahun terakhir ini perkembangan pertelevisian dan multimedia, baik di China maupun negara lainnya termasuk Indonesia sangat cepat. Situasi ini turut mendasari kerja sama Indonesia dan China di bidang penyiaran.
Kupang - Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) Mutiara Mauboi mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan KPI Daerah di beberapa wilayah di NTT, ditemukan sebanyak 67 persen anak-anak di daerah ini pernah mengunduh film porno.

