Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta lembaga penyiaran ikut terlibat aktif dalam peningkatan penyampaian informasi publik terkait bencana. Diantaranya dengan memberikan informasi yang konsisten dan menghindari sensasi dalam pemberitaan bencana. Hal tersebut disampaikan Muhammad Hasrul Hasan, menyikapi erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan hujan abu vulkanik, di sela penyelenggaraan Evaluasi Tahunan Lembaga Penyiaran, Senin (7/9/2026).

 

Dalam situasi bencana, Hasrul mengingatkan, penyiaran memiliki peran lebih dari sekadar menyampaikan berita. Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (PS & SPS) KPI Pusat telah menetapkan prinsip jurnalistik yang harus diikuti dalam penyiaran bencana. Informasi kebencanaan harus mengedepankan akurasi, keberimbangan, verifikasi dan kepentingan publik. Karenanya, penting bagi lembaga penyiaran untuk tetap merujuk lembaga pemilik otoritas dalam penanganan kebencanaan, sehingga informasi yang disebarkan juga dapat dipertanggungjawabkan. 

 

Hal lain yang juga penting diperhatikan adalah perlindungan terhadap korban bencana. “P3SPS mengatur secara rinci penayangan program yang melibatkan pihak yang menjadi korban bencana,” ujarnya. Diantaranya, tidak menambah penderitaan atau trauma, tidak mengganggu proses tanggap darurat dan tidak mengeksploitasi gambar atau suara korban bencana. “Masyarakat butuh konsistensi informasi dan tidak butuh gimmick dalam pemberitaan bencana!” tegasnya. 

 

Sebagai negara pada posisi geografis dengan sebutan “Ring of Fire”, bencana alam di Indonesia memang tidak dapat dihindari, namun resiko dan dampak tentu dapat dikurangi dengan pemanfaatan teknologi yang optimal. Hasrul menilai, selain penggunaan alat deteksi dini bencana, keterlibatan lembaga penyiaran dalam memberi edukasi terkait mitigasi bencana tentu sangat membantu masyarakat mengambil langkah antisipatif.

 

Dalam situasi siaga atas erupsi Gunung Anak Krakatau, KPI berharap lembaga penyiaran menempatkan peran strategisnya dengan mengedepankan kepentingan publik. Akurasi dan kredibilitas informasi selalu disematkan pada pemberitaan di televisi dan radio yang hingga saat ini masih memegang teguh prinsip-prinsip jurnalistik. “Saatnya lembaga penyiaran membuktikan, bahwa televisi dan radio masih menjadi saluran informasi yang dapat diandalkan publik, terutama dalam situasi darurat bencana,” pungkas Hasrul.