Libatkan Lansia Wujudkan Penyiaran Sehat
Bandung - Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat (Jabar) terus memperluas jangkauan literasi media guna memproteksi masyarakat dari paparan konten negatif di ruang digital. Langkah ini dilakukan secara inklusif dengan merangkul seluruh lini generasi, mulai dari usia anak hingga kelompok lanjut usia (lansia).
Upaya membendung ancaman informasi destruktif tersebut mengemuka saat jajaran KPID Jawa Barat menerima audiensi pengurus dan para peserta Sekolah Lansia Bahagia Antapani di Kantor KPID Jawa Barat, Rabu (7/11/2026). Pertemuan ini menjadi pijakan awal kolaborasi dalam memperkuat literasi penyiaran yang sehat dan aman.
Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet mengungkapkan, kehadiran para lansia menjadi suntikan semangat untuk memasifkan ikhtiar kebaikan di bidang literasi media. Menurutnya, kelompok lansia memiliki peran vital sebagai benteng pertahanan informasi di lingkungan keluarga.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang hadir pada hari ini bisa menyampaikan kembali ke cucu-cucunya, ke orang-orang terdekat, supaya mewaspadai tayangan-tayangan atau program di televisi dan radio, apalagi di media berbasis internet," ujar Adiyana Slamet.
Sebagai langkah nyata, KPID Jawa Barat tengah merancang program kolaborasi berkelanjutan dengan melibatkan divisi internal Sekolah Lansia Bahagia. Salah satu wacana yang disiapkan adalah mengintegrasikan potensi lansia dalam program edukasi penyiaran sehat ke sekolah-sekolah.
"Insyaallah ke depan kita berkolaborasi mengadakan program. Apalagi di sana banyak bidang, ada program Senior Go to School. Kita bisa kolaborasi bagaimana Bapak dan Ibu ini bisa berpartisipasi dalam rangka mewujudkan penyiaran yang sehat dan baik di Jawa Barat," kata Adiyana menjelaskan.
Tak sekadar rencana literasi, KPID Jawa Barat juga langsung melibatkan Sekolah Lansia Bahagia dalam momentum Peringatan Hari Penyiaran Daerah (Harsiarda) mendatang di Kabupaten Bandung Barat. Para lansia dijadwalkan unjuk kebolehan memainkan seni musik angklung yang sebelumnya pernah dipentaskan di hadapan tamu internasional.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Dahlia Sari, Heru Paku Sujanto menyambut baik dengan rencana kolaborasi dan edukasi kepada lansia yang digagas KPID Jawa Barat, menurutnya ditengah perkembangan teknologi dan distrupsi informasi saat ini, lansia sebagai orang tua sekaligus pengayom dalam keluarga mempunyai peran vital dalam mengingatkan anak anaknya hingga cucunya tentang tayangan tayang yang boleh disaksikan anak ataupun tidak.
"Insyaallah kami sangat siap terlibat. Kami berharap keberadaan KPID dan bidang-bidang yang ada bisa menjadi salah satu filter utama, terutama untuk menjaga generasi kita serta anak cucu kita dari dampak buruk media," ucap Heru.
Apalagi saat ini dikatakan Heru, maraknya tayangan media maupun konten digital yang kurang ramah bagi kesehatan mental tidak hanya anak anak namun hingga orang tua.
"Isi media kadang-kadang meresahkan dan sangat mengganggu, terutama bagi lansia, karena bisa menimbulkan stres dan depresi. Kami datang ke KPID Jawa Barat karena melihat tempat ini cocok untuk menyampaikan keluh kesah, sekaligus melihat prestasi dan inovasi KPID," tutur Heru Paku Sujanto.
Heru menegaskan, masyarakat sangat membutuhkan asupan informasi yang berintegritas, humanis, serta mampu memberi dorongan moral. Sajian informasi yang edukatif dan menyejukkan dinilai sangat krusial dalam menjaga fungsi kognitif serta mempertahankan kualitas dan angka harapan hidup para lansia.
Hadir Wakil Ketua KPID Jawa Barat, Almadina Rakhmaniar, juga memberikan Literasi Media kepada seluruh Lansia yang berjumlah 50 Orang dari Sekolah Lansia Bahagia, pemaparan dari mulai pengetahuan Regulasi P3SPS, sampai dampak psikologi Media dilhat dari 3 aspek psikologi media, yaitu Kognisi, afektif dan konatif berdasarkan hasil riset KPID Jabar.
Oleh sebab itu Kolaborasi antara KPID bersama lansia dalam mewujudkan Jawa Barat Istimewa yang terbebas dari paparan konten negative di ruang digital sangat dibutuhkan, demi menyongsong Indonesia Emas 2045. Red dari berbagai sumber