Adopsi AI dalam Penyiaran Harus Tetap Jaga Kepercayaan Audiens

Jakarta -- Konvensi Penyiaran Afrika Bagian Selatan (Southern Africa Broadcasters Convention) ke-10 telah resmi dibuka di Seychelles, Kamis (22/10/2026) kemarin. Di kutip dari broadcastmediaafrica.com, acara ini mempertemukan para eksekutif penyiaran, praktisi media, dan mitra industri dari seluruh Afrika maupun wilayah lainnya untuk menjajaki masa depan penyiaran di tengah lanskap digital yang berkembang pesat.

 

Mengusung tema “Membayangkan Kembali Masa Depan: AI, Cloud, dan Masa Depan Media Penyiaran di Afrika,” konvensi ini mengkaji kehadiran kecerdasan buatan (AI), teknologi cloud, dan infrastruktur digital dapat membantu lembaga penyiaran dalam meningkatkan operasional, menjalin interaksi dengan audiens, serta memperkuat penyiaran layanan publik.

 

Upacara pembukaan diisi dengan pidato dari Wakil Presiden Seychelles, Sebastien Pillay, dan CEO Seychelles Broadcasting Corporation (SBC), Berard Dupré. Selain itu, terdapat sambutan selamat datang dari Mlamuli Dlamini, CEO eSwatini TV sekaligus Penjabat Presiden Southern African Broadcasting Association (SABA), serta Benjamin Pius, CEO Broadcast Media Africa (BMA).

 

Dalam pidato utamanya, Anice Hassim membahas transformasi media di era AI. Ia menekankan pentingnya bagi lembaga penyiaran untuk mengadopsi teknologi baru sembari tetap menjaga kepercayaan audiens dan membangun hubungan yang bermakna dengan komunitas.

 

Berbagai sesi dalam konvensi ini mengeksplorasi modernisasi infrastruktur penyiaran. Brahim Jelassi dari LAWO (perusahaan teknologi asal Jerman yang merancang dan memproduksi perangkat keras serta perangkat lunak berbasis IP untuk penyiaran) memaparkan pendekatan untuk mentransformasi alur kerja lama (legacy workflows) melalui sistem berbasis IP, interoperabilitas, dan keamanan siber.

 

Diskusi mengenai ruang redaksi (newsroom) yang terus berkembang menyoroti tantangan dalam menyeimbangkan kecepatan dengan akurasi di tengah siklus berita 24 jam. Para peserta menekankan pentingnya pemeriksaan fakta (fact-checking), penerapan AI secara bertanggung jawab, serta menjaga kredibilitas editorial di tengah maraknya disinformasi digital.

 

Para panelis juga mendiskusikan strategi untuk menjangkau audiens yang lebih muda melalui konten lokal yang relevan, distribusi multi-platform, serta kolaborasi dengan kreator independen dan influencer.

 

Pendanaan berkelanjutan untuk penyiaran layanan publik menjadi topik diskusi penting lainnya. Perwakilan dari berbagai negara Afrika membahas cara menyeimbangkan dukungan pemerintah dengan sumber pendapatan tambahan, seperti iklan, layanan OTT, dan platform digital lainnya.

 

Dalam diskusi mengenai penyiaran 5G, Joe France memaparkan potensi teknologi ini untuk memperluas akses terhadap konten tanpa memerlukan kartu SIM atau pembelian data seluler. Para peserta juga menyerukan perlunya peningkatan perangkat pengukuran audiens agar lembaga penyiaran dapat menunjukkan tingkat keterlibatan audiens dengan lebih baik serta menyajikan data yang akurat kepada pengiklan.

 

Selain itu, konvensi ini juga menjadi wadah untuk membahas kolaborasi regional serta pengembangan konten yang relevan secara lokal. Olga Lisogo, Kepala Sputnik, memaparkan kegiatan editorial organisasinya di Tanzania dan Afrika Selatan, serta rencana untuk berekspansi ke pasar negara-negara Afrika yang berbahasa Prancis.

 

Seiring berjalannya rangkaian acara, para delegasi mengeksplorasi pendekatan praktis terkait inovasi teknologi, perlindungan konten, model bisnis yang berkelanjutan, serta hubungan yang lebih kuat dengan audiens.

 

Konvensi Penyiaran Afrika Bagian Selatan (Southern Africa Broadcasters Convention) ke-10 ini diselenggarakan oleh Broadcast Media Africa bekerja sama dengan Southern African Broadcasting Association, dengan Seychelles Broadcasting Corporation sebagai tuan rumah. Red dari berbagai sumber