Menghidupkan Budaya Pantun Lewat Gelombang Radio

Pontianak -- Lembaga penyiaran (TV dan radio) tak hanya sekadar menyampaikan informasi, hiburan dan edukasi. Lebih dari itu, media ini dapat menjadi ruang penting dalam menjaga identitas bangsa serta mewariskan kekayaan budaya kepada generasi berikutnya seperti seni berpantun.

 

Upaya ini coba diwujudkan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Barat (Kalbar) melalui program Kelas Bakti Penyiaran Seri 5 bertema “Rima di Udara: Dari Penyiaran untuk Kebudayaan” yang digelar Senin, (19/10/2026) kemarin. Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkenalkan kembali seni berpantun kepada generasi muda sekaligus menunjukkan bagaimana lembaga penyiaran dapat berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal. 

 

Ketua KPID Kalbar, Ramdan, mengatakan selama ini dunia penyiaran di Kalimatan Barat berperan sebagai salah satu pilar dalam menjaga kelestarian budaya. Melalui siaran radio dan televisi, berbagai kekayaan budaya daerah dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas sekaligus memberikan ruang bagi pelaku seni dan budaya lokal untuk berkarya.

 

“Penyiaran bukan hanya menjadi sarana penyampaian informasi dan hiburan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan. Melalui radio dan televisi, kekayaan budaya lokal dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat, termasuk generasi muda,” ujar Ramdan.

 

Ia menambahkan, melalui Kelas Bakti Penyiaran bertema “Rima di Udara: Dari Penyiaran untuk Kebudayaan,” KPID berharap dapat mengambil bagian dalam pelestarian tradisi berpantun sekaligus mendekatkan generasi muda dengan dunia penyiaran.

 

Menurut Ramadan, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk lembaga penyiaran, pelaku seni, komunitas, dan generasi muda. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak ruang bagi budaya lokal untuk terus tumbuh dan dikenal luas.

 

Melalui kegiatan ini, KPID Kalbar berharap agar pantun tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Dengan dukungan dunia penyiaran, tradisi merangkai kata dan menyampaikan pesan melalui pantun diharapkan tetap lestari serta diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Sementara itu, Penyiar Senior RRI Pontianak, Fitri Febelena, mengatakan pantun tidak hanya menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. Karena itu, seni berpantun perlu terus diperkenalkan dan dipraktikkan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

 

Ia juga berpesan agar generasi muda tidak melupakan pantun sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa. Kreativitas dalam merangkai kata dan keberanian untuk menampilkan pantun menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi tersebut agar tetap relevan bagi masyarakat masa kini.

  

Ucup, mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak yang mengikuti kegiatan tersebut, mengaku kegiatan ini mengingatkannya kembali pada seni berpantun yang pernah dipelajari saat masih bersekolah.

 

Ia pun tanpa ragu menampilkan pantun buatannya, mulai dari pantun nasihat, pantun cinta, hingga pantun jenaka. Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa pantun masih memiliki tempat di kalangan generasi muda ketika diberikan ruang untuk dipelajari dan diekspresikan secara kreatif. Red dari berbagai sumber