Lebak -- Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, menekankan pentingnya bekal literasi media bagi kalangan pelajar di tanah air. Melalui literasi, pelajar akan mampu memahami peran dan fungsi media secara jelas dan proporsional.  

“Generasi muda harus dibekali kemampuan literasi media agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi menyesatkan atau konten negatif. Dengan memahami cara kerja media, mereka dapat menjadi pengguna yang kritis dan produktif,” katanya dalam sambutan membuka kegiatan literasi bersama KPID Provinsi Banten dengan tema “Peran Lembaga Penyiaran untuk Membangun Masyarakat Cerdas Bermedia di Tengah Banjir Konten Media Baru”, di SMKN 1 Rangkasbitung dan SMAN 2 Rangkasbitung di Kabupaten Lebak, Banten, Senin (27/10/2025).

Ubaidillah juga menyampaikan bahwa literasi media merupakan salah satu program KPI untuk memastikan masyarakat, khususnya pelajar, dapat memahami fungsi media secara proporsional. 

Kegiatan literasi ini juga menghadirkan dua komisioner KPID Banten sebagai narasumber, yakni Talitha Almira, Komisioner Bidang Kelembagaan, dan Hazairin Rowiyan, Komisioner Bidang Pengawasan Isi Siaran. Keduanya memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai pentingnya menjadi pengguna media yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab di tengah maraknya arus informasi di era digital.

“Literasi media bukan hanya tentang memahami isi siaran, tetapi juga tentang membentuk karakter bermedia yang beretika. Masyarakat, terutama pelajar, harus mampu memilah dan menilai informasi agar tidak menjadi korban dari konten yang menyesatkan,” ujar Talitha Almira di hadapan para siswa SMKN 1 Rangkasbitung.

Sementara itu, Hazairin Rowiyan menekankan pentingnya memahami isi siaran secara kritis, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh tayangan yang berpotensi menimbulkan disinformasi.

“Literasi media menjadi langkah penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu menilai, mengkritisi, dan memilih tayangan yang sehat. Siswa sebagai generasi digital harus mampu menjadi pengguna media yang cerdas dan bertanggung jawab,” ujar Hazairin Rowiyan.

Kegiatan di SMKN 1 Rangkasbitung diterima langsung oleh Edi Ruslani selaku perwakilan sekolah, yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran KPID Banten dan KPI Pusat.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Literasi media seperti ini penting agar siswa kami memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana menyikapi isi siaran dan informasi di media digital,” ungkap Edi Ruslani.

Sementara itu, kegiatan literasi media di SMAN 2 Rangkasbitung diterima Laela, yang menyambut baik kegiatan edukatif tersebut.

“Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran baru bagi siswa untuk memahami media secara bijak. Harapan kami, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut di sekolah-sekolah lain,” ujar Laela.

Kegiatan ini berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab antara narasumber dan peserta. Melalui kegiatan ini, KPID Banten berharap dapat memperluas jangkauan literasi media dan menanamkan kesadaran bermedia sejak usia sekolah, demi terwujudnya masyarakat yang cerdas, kritis, dan beretika dalam bermedia.

Program literasi media ini merupakan bagian dari kegiatan sosialisasi rutin yang dilaksanakan KPID Banten di sekolah-sekolah dan berbagai komunitas masyarakat di wilayah Provinsi Banten. Melalui kegiatan tersebut, KPID Banten berkomitmen memperkuat kesadaran publik terhadap fungsi lembaga penyiaran serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi derasnya arus informasi di era media baru. Red dari KPID Banten

 

 

Jayapura – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV menggandeng sejumlah mitra strategis untuk bekerja sama dalam pengembangan pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif dan berdampak nyata di Provinsi Papua. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPI) Papua menjadi salah satu lembaga yang diajak dalam kerja sama tersebut. 

Terkait kerja sama ini, LLDIKTI dan KPID Papua secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) pada Senin, (13/10/2025) di Jayapura. Penandatanganan MoU ini dilakukan Suriel Semuel Mofu selaku Kepala LLDIKTI Wilayah XIV dan Rusni Christine Abaidata, selaku Ketua KPID Papua sebagai Pihak Kedua.

Penandatanganan disaksikan pula oleh staf dan pejabat struktural lainnya di LLDIKTI Wilayah XIV Papua dan Melkias Mansoeben, Koordinator Bidang Kelembagaan serta Nahria, selaku Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPID Papua.

Adapun kerja sama strategis ini bertujuan untuk:

1. meningkatkan literasi media dan kesadaran masyarakat, khususnya sivitas akademika, terhadap isi siaran yang melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS)

2. mendukung upaya pengawasan KPID Papua melalui riset dan pemantauan isi siaran yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen (misalnya melalui mata kuliah Penyiaran atau Komunikasi. Menghasilkan SDM penyiaran yang profesional, beretika, dan memahami konteks kearifan lokal melalui program magang dan pelatihan.

3. memastikan lembaga penyiaran di Papua menjalankan fungsinya sebagai media edukasi, informasi, dan hiburan yang sehat.

Selain itu, MoU ini juga mencakup sejumlah bidang kolaborasi yang meliputi :

4. Pendidikan dan Pelatihan Penyiaran: Program magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di KPID, workshop penyiaran profesional, dan pengembangan kurikulum yang relevan dengan regulasi KPID.

5. Riset dan Pemantauan Media: Penelitian bersama mengenai dampak isi siaran terhadap masyarakat Papua, evaluasi program siaran lokal, dan pemanfaatan Laboratorium/Pusat Studi Komunikasi PTS untuk pemantauan isi siaran.

6. Edukasi dan Literasi Media: Pelaksanaan Sosialisasi P3SPS dan literasi media kepada masyarakat, mahasiswa, dan pelajar, serta kampanye penyiaran sehat.

7. Perumusan Kebijakan Penyiaran: Pemberian masukan/kajian akademik dari PTS kepada KPID Papua terkait kebijakan penyiaran lokal dan perizinan.

Kepala LLDIKTI Wilayah XIV Papua, Suriel S mengatakan, kerja sama ini merupakan langkah krusial dalam memperkuat posisi LLDIKTI Wilayah XIV sebagai institusi pemerintah yang mendukung penuh pengembangan pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif dan berdampak nyata di Provinsi Papua. 

“Oleh karena itu, salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan bersama adalah melalui kerjasama resmi antar LLDIKTI dengan mitra-mitra strategis dalam rangka mendukung visi misi kementerian pendidikan tinggi sains dan teknologi berdampak (DIKTI SAINTEK BERDAMPAK). Dengan penandatanganan MOU dengan mitra-mitra kami hari ini berbagai kegiatan dan program pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat dapat ditindaklanjuti melalui perjanjian kerja sama antara Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah XIV se-Tanah Papua dengan mitra-mitra strategis kami,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua KPID Papua, Rusni Christine Abaidata, menyambut baik kerja sama ini sebagai bentuk komitmen bersama dalam membangun jejaring yang saling menguntungkan. Penandatanganan MoU ini diharapkan menjadi tonggak awal dari berbagai kegiatan kolaboratif yang berkelanjutan di tengah keterbatasan daya dan anggaran yang dihadapi oleh KPID Papua.

“Keterbatasan anggaran yang kami alami sejak akhir tahun 2022 lalu hingga kini telah menghambat implementasi tupoksi dan program kerja kami sebagai lembaga independen negara yang sekaligus juga merupakan regulator media penyiaran di Papua. Namun kami tidak pernah putus asa, kami selalu berusaha mencari solusi dan strategi kreatif termasuk kolaborasi dengan pihak lain seperti LLDIKTI Wilayah XIV Papua ini. Undangan kolaborasi ini bagi kami ibarat oase di padang pasir. Semoga berdampak nyata bagi masyarakat,” katanya. Red dari berbagai sumber

 

 

 

Tanjung Selor -- Sebanyak 30 orang peserta Calon Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) Periode 2026-2029 berhasil lulus dari Uji Kompetensi (Tes CAT) yang diselenggarakan Tim Seleksi (Timsel) Calon Anggota KPID Provonsi Kaltara. Ke 30 orang peserta yang lulus berhak mengikuti rangkaian tes kompetensi selanjutnya. 

Komisioner KPI Pusat, Muhammad Hasrul Hasan, salah satu Timsel Calon Anggota KPID Kaltara mengatakan, setelah melihat hasil tes CAT, dari 52 orang peserta, hanya 30 yang berhasil lulus. “30 peserta yang lulus tersebut akan ikut tes kompetensi berikutnya yakni tes psikologi,” katanya.

Rencananya, tes psikologi akan digelar pada Jumat (24/10/2025) di Lab CAT BKD Provinsi Kaltara, dan Sabtu (25/10/2025) di Aula Gedung Gabungan Dinas Lantai 1 Jalan Rambutan, Tanjung Selor.

Berikut nama-nama 30 orang peserta lulus ujian CAT:

 

 

Pekanbaru -- Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Riau terus mendorong hadirnya siaran yang sehat, edukatif, dan beretika. Bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Riau (Fikom UIR) sebagai tuan rumah, KPID Riau menggelar kegiatan Sekolah Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), Rabu (22/10/2025).

Sekolah P3SPS ini menjadi langkah konkret KPID Riau untuk membumikan penyiaran yang sesuai nilai budaya lokal, edukatif, dan selaras dengan semangat digitalisasi informasi yang sehat.

Wakil Rektor III Universitas Islam Riau, Dedi Purnomo, menyampaikan terima kasih kepada KPID Riau yang telah mempercayakan UIR sebagai tuan rumah. Ia menilai kegiatan ini sangat strategis dalam membangun kesadaran akan pentingnya penyiaran yang berkualitas.

“Arus informasi saat ini sangat deras, maka diperlukan penyiaran yang beretika dan tidak menyesatkan. UIR siap menjadi mitra strategis dalam membangun penyiaran yang sehat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua KPID Riau, Bambang Suwarno, menekankan bahwa era digital telah mengubah perilaku masyarakat, khususnya generasi muda. Menurutnya, saat ini mayoritas masyarakat mengakses informasi melalui internet dan media sosial, bukan hanya dari media konvensional.

“Sebanyak 80 persen penduduk Indonesia mengakses internet, mayoritas dari kalangan muda. Ini menjadi tantangan pengawasan penyiaran. Karena itu, revisi terhadap Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran sangat penting,” katanya.

Bambang juga mengajak perguruan tinggi untuk ikut mendorong revisi undang-undang tersebut agar pengawasan isi siaran dapat lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Ia juga mengusulkan agar lembaga penyiaran mengalokasikan 10 persen kontennya untuk konten lokal bekerja sama dengan mahasiswa.

“Kami terbuka terhadap kolaborasi. Mahasiswa bisa dilibatkan dalam menciptakan konten lokal yang mengangkat budaya dan identitas daerah,” tegasnya.

Plt Kadis Kominfotik Riau, Teza Darsa, menyatakan dukungan penuh terhadap program KPID Riau. Ia menegaskan pentingnya sinergi antar lembaga untuk memperkuat literasi media di masyarakat.

“Kita ingin Riau bersinar di dunia penyiaran. Siaran bukan hanya hiburan, tapi juga sarana pendidikan, pembentukan karakter, dan perekat bangsa,” ujarnya. Red dari berbagai sumber

 

 

Bandung -- Di tengah derasnya arus digitalisasi dan banjir konten daring, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menggagas pendekatan literasi media yang menyentuh akar: anak-anak dan orang tua. Bertempat di SD Plus Baiturrahman, Kota Bandung, kegiatan storytelling menjadi medium edukatif yang menggugah kesadaran akan pentingnya memilih tayangan yang sehat dan aman bagi generasi muda.

Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, menegaskan bahwa kolaborasi lintas Lembaga mulai dari Diskominfo, Komisi I DPRD Jabar, RSGM Unjani, hingga DKPP dan Eiger yang merupakan bentuk komitmen bersama dalam membentengi anak-anak dari dampak negatif media berbasis internet.

“Kami ingin anak-anak dan orang tuanya memahami bahwa tidak semua tontonan layak dikonsumsi. Jangan sampai anak tantrum, lalu diberi HP begitu saja. Ini sangat berbahaya karena bisa merusak kognisi mereka,” ujar Adiyana. Jumat (17/10/2025).

Ketika disinggung menyoal kualitas konten, Adiyana menegaskan, konten yang di produksi Lembaga penyiaran, jauh lebih aman dan layak disaksikan maupun di dengarkan oleh anak ketimbang konten di media berbasis internet yang sampai saat ini masih belum ada regulasi yang jelas didalamnya.

“Kalau di lembaga penyiaran ya di televisi dan radio kan sebenarnya sesungguhnya relatif aman gitu karena memang aturannya sudah jelas. Nah, problemnya yang kami khawatirkan itu ketika ibu-ibunya memberikan HP yang bebas gitu untuk anak-anaknya ini menonton. Apalagi disana belum ada aturan main yang jelas. Nah ini ini yang kemudian kami coba narasikan dalam storytelling,”ungkapnya.

Selain sesi storytelling, kegiatan juga dirangkai dengan pemeriksaan kesehatan gigi dan simulasi pelestarian lingkungan, memperkuat pesan bahwa literasi media tak bisa dipisahkan dari pembentukan karakter dan kepedulian sosial.

Hal senada di ungkapkan, Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, Sidkon Djampi. Dirinya menyambut baik inisiatif KPID yang terus berupaya di tengah keterbatasan menyelamatkan mata dan telinga anak anak bangsa dengan berbagai cara salah satunya literasi media berbasis storytelling ini. 

Tidak hanya itu di tengah derasnya arus informasi di dunia digital tanpa regulasi yang jelas saat ini, pesantren dan lembaga pendidikan seperti SD Plus Baiturrahman memiliki peran vital sebagai benteng moral yang harus dijaga.

“Saya regreg, dalam arti menaruh harapan besar. Pesantren dan sekolah seperti ini adalah jalur generasi masa depan dengan akhlakul karim. Tapi 70% tanggung jawab tetap ada di orang tua,” tegas Sidkon.

Ia mengingatkan bahwa kontrol orang tua terhadap konsumsi media anak-anak harus menjadi prioritas, terlebih di era di mana konten digital begitu mudah diakses tanpa filter.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala SD Plus Baiturrahman, Dini Anggini, menyampaikan rasa bangga atas dipilihnya sekolahnya sebagai lokasi kegiatan. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini bukan hanya akademik, tetapi juga pembentukan karakter.

“Kami sangat terbantu dengan kehadiran KPID. Literasi adalah PR besar yang tak bisa diselesaikan sendiri. Harus ada kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat,” ungkap Dini.

Ia berharap kegiatan storytelling ini menjadi pemantik semangat membaca dan berpikir kritis. Tidak hanya bagi siswa dan guru, tapi juga seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Red dari berbagai sumber

 

Hak Cipta © 2026 Komisi Penyiaran Indonesia. Semua Hak Dilindungi.
slot