KPI Ajak Mahasiswa Tonton Siaran TV dan Dengarkan Radio
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 4750

Jakarta – Menurunnya minat masyarakat khususnya generasi muda dalam mengakses lembaga penyiaran (TV dan radio) sangat disayangkan Komisioner KPI Pusat, Amin Shabana. Padahal secara isi, informasi dan hiburan dari kedua media ini termasuk yang paling dapat dipercaya serta dipertanggungjawabkan.
“Sayang sekali minat khususnya generasi muda untuk menyaksikan TV dan mendengarkan radio makin menurun,” ujarnya di sela-sela menerima kunjungan mahasiswa Universitas Dian Nusantara di Kantor KPI Pusat, Rabu (4/6/2025).
Kendati demikian, lanjut Komisoner bidang Kelembagaan KPI Pusat ini, penurunan ini jangan diratapi tapi harus disikapi secara bijak oleh lembaga penyiaran. Menurutnya, TV dan radio harus menyikapinya dengan cara meningkatkan kualitas dan jangkauan siarannya.
“Penurunan ini bisa jadi acuan lembaga penyiaran untuk lebih meningkatkan kualitas dan jangkauan siarannya,” katanya.
Terkait hal ini, Amin menyarankan kalangan akademisi khususnya dosen jurusan penyiaran untuk mendorong para mahasiswa menyaksikan TV dan mendengarkan siaran radio.

Di tengah paparannya, Amin menyampaikan kondisi penyiaran di tanah air. Saat ini, dunia penyiaran sedang menghadapi disrupsi teknologi digital. Oleh karenanya, lanjutnya, variabel arus globalisasi juga patut dipertimbangkan oleh para pemain utama industri penyiaran dalam menavigasikan entitas usahanya.
“Hadirnya ‘pemain baru’ yang bernama internet mengubah dinamika industri penyiaran di Indonesia. Melalui internet, banyak sumber pemasukan utama lembaga penyiaran beralih tempat, secara khusus menuju media digital,” tuturnya.
Amin juga menjelaskan perihal tugas dan fungsi KPI berdasarkan Undang-Undang (UU) Penyiaran No.32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Berdasarkan UU tersebut, katanya, KPI hanya mengawasi lembaga penyiaran (televisi dan radio).
Dia juga menegaskan jika pihaknya menerima secara terbuka kerja sama dengan pihak kampus. “Kami terbuka untuk kolaborasi dengan pihak-pihak eksternal dalam memperkuat ekosistem penyiaran di tengah disrupsi teknologi digital, khususnya bersama perguruan tinggi,” tutur Amin Shabana. ***/Foto: Syahrullah

Rakornas KPI 2025: Perkuat Penyiaran Nasional, Perlu Ada Regulasi Adaptif
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 6845

Jakarta -- Usai memperingati Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke 92 di bilangan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) langsung menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2025 di Hotel Tavia, Cempaka Putih, Jakarta, Minggu siang (1/6/2025). Rakornas yang kali ini dilakukan secara sistem hybrid akan membahas sejumlah kebijakan strategis termasuk memperkuat sinergi, mengevaluasi capaian, sekaligus merumuskan arah penyiaran nasional ke depan.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, dalam sambutannya mengatakan forum Rakornas tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, melainkan juga ruang strategis untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun ekosistem penyiaran yang sehat dan berkualitas. Terkait hal ini, ia menekankan pentingnya inovasi penyiaran di tengah transformasi digital dan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan sektor penyiaran yang solid dengan seluruh pemangku kepentingan. Mari jaga semangat dan integritas dalam menghadirkan inovasi siaran yang mencerminkan nilai kebangsaan dan berpihak pada kepentingan publik,” ujar Rano Karno.

Di sambutan lain, Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, menegaskan bahwa forum ini menjadi ruang evaluasi atas dinamika dunia penyiaran yang terus berubah dengan cepat. Ia mengakui masih terdapat berbagai tantangan kelembagaan yang perlu dibenahi, namun sangat penting adanya regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan media digital. Seperti yang disampaikan Rano Karno sebelumnya bahwa media sosial tidak hanya sebagai media komunikasi dan interaksi personal, tetapi menghadirkan sumber informasi bagi masyarakat. Berbagai inovasi dan kecepatan membuat masyarakat dengan mudah membuat karya digital hanya dengan memasukkan teks atau instruksi yang dikenal dengan prompt. Hal ini berdampak pada banyak aspek, misalnya SDM (dalam penyiaran) dan iklan.
“Penyiaran yang berkualitas hanya dapat dicapai manakala ekosistem yang ada ikut menghadirkan kualitas informasi yang benar, mendidik, dan sesuai dengan nilai-nilai luhur bernegara,” tutur Ubaidillah yang juga menekankan perlunya adaptasi regulasi yang adaptif dan relevan akan media dengan segala bentuk perkembangannya.
Dalam kesempatan ini, Ubaid berharap peringatan Harsiarnas yang berbarengan dengan Hari Lahir Pancasila dapat menjadi momentum yang bisa dijadikan penopang dasar dalam memperkuat tatanan penyiaran nasional. “Penyiaran berkualitas merupakan pilar penting dalam menciptakan masyarakat yang cerdas dan berdaya saing,” tuturnya.

Sebelum membuka kegiatan Rakornas KPI, Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, menyoroti tentang kesadaran publik yang dinilainya masih belum maksimal. Bahkan, dia menanyakan apakah keberadaan UU Penyiaran dan KPI sudah cukup untuk menjawab tantangan terkait investasi, penciptaan lapangan kerja, dan meningkatkan kecerdasan masyarakat.
Selain mengingatkan pentingnya kerja sama dan dukungan terhadap KPI di tiap tingkatan, Utut menyatakan pihaknya akan terus mengawal kebijakan penyiaran agar berjalan selaras dengan kepentingan nasional dan menjunjung tinggi prinsip keberpihakan kepada publik. “Tugas utama KPI tidak melahirkan generasi anti Pancasila, anti NKRI, anti Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.

Rakornas KPI tahun ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi dan kebijakan strategis yang tidak hanya menjawab tantangan kontemporer, tetapi juga memperkuat posisi penyiaran Indonesia dalam menghadapi era digital dan kecerdasan buatan secara menyeluruh.
Turut hadir dalam pembukaan Rakornas KPI antara lain Deputi 5 Bidang Koordinasi, Komunikasi, dan Informasi Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Marsekal Muda TNI Eko Dono Indarto, Staf Khusus Gubernur Bidang Kesejahteraan Rakyat, Beno Mohammad, jajaran Komisioner KPI Pusat dan KPID dari berbagai daerah (sebagian secara daring), serta perwakilan lembaga penyiaran. **/Anggita Rend/Foto: Agung R

Peringatan Harsiarnas ke 92: Menuju Indonesia Emas, KPI Ajak Masyarakat Pilih Siaran Berkualitas
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 2901

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih siaran yang berkualitas. Hal ini selaras dengan upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Harapan ini disampaikan Komisioner KPI Pusat, Mimah Susanti, di acara "Show Mimah" yang digelar di sela-sela kegiatan Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke 92 di bilangan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu pagi (1/6/2025).
Menurutnya, proses menyeleksi ini sangat penting muncul di publik. Sehingga informasi maupun hiburan yang masyarakat konsumsi merupakan konten tayangan yang edukatif, informatif, menghibur, dan tanpa mengandung hoaks.
Dia juga menyampaikan bahwa Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) yang diperingati setiap 1 April, merupakan momentum untuk mengenang lahirnya SRV pada 1 April 1933, sebagai siaran radio pertama milik pribumi Indonesia.
“Mewarnai kampanye siaran sehat, KPI juga menyelenggarakan kegiatan sehat pada hari ini, yaitu jalan sehat atau fun walk dan zumba. Selain itu KPI ada banyak program, seperti literasi,” ujarnya.
Di panel informasi yang disediakan di sebelah pintu masuk area peringatan Harsiarnas, ditampilkan berbagai program siaran yang mendapatkan penghargaan, baik dari Anugerah Syiar Ramadhan (ASR), Anugerah Penyiaran Ramah Anak (APRA), maupun Anugerah KPI. Ajang penghargaan tersebut bertujuan mengapresiasi lembaga penyiaran yang berkomitmen terhadap konten siaran yang berkualitas.

Menguatkan apa yang disampaikan Mimah, Komisioner KPI Pusat, Evri Rizqi Monarshi, menekankan pentingnya peran masyarakat. “Karena sebetulnya, pondasi awal untuk bisa menjaga bagaimana kemudian nanti keluarga bisa terinformasi ya masyarakat, harus pandai memilah dan memilih siaran berkualitas, tayangan yang sesuai martabat bangsa,” katanya.
Sementara itu, Komisioner KPI Pusat, Aliyah, menyampaikan bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diimplementasikan dalam tayangan. Menurutnya, banyak siaran yang sudah mengangkat nilai keagamaan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial dalam program-program mereka.
Sebagai penutup, dua bintang tamu dari kalangan muda, Novia dan Gunawan dari ajang bakat, mengajak generasi muda untuk lebih bijak dalam mengonsumsi media digital. “Jangan mudah terpengaruh oleh konten yang belum jelas kebenarannya. Kita harus memilah dan memilih informasi yang kita terima,” pesan Novia.
“Jarang anak muda sekarang memperhatikan sopan santun dan attitude di media sosial, jadi ke depannya bisa lebih menjaga komunikasi di media massa,” imbuh Gunawan.
Peringatan Harsiarnas ini juga menjadi wadah strategis bagi KPI untuk terus menyosialisasikan pentingnya siaran yang sehat dan mendidik. Masyarakat diharapkan berperan aktif dalam mewujudkan penyiaran berkualitas untuk masa depan, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. ***/Anggita Rend/Foto: Agung R

Peringatan Harsiarnas 92 dan Rakornas KPI di Hari Lahir Pancasila: Sinergi Nilai Pancasila dan Penyiaran Nasional
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 2622

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bekerja sama dengan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) dan Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih (YPP) menggelar peringatan Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke-92 di sela-sela kegiatan Car Free Day (CFD) di bilangan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu, (1/6/2025).
Peringatan Harsiarnas tahun ini digelar secara khusus bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. Momen ini dipilih sebagai simbol sinergi antara nilai-nilai kebangsaan dan pentingnya menjaga kualitas penyiaran nasional di tengah tantangan era digital dan disrupsi media.
Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, menjelaskan bahwa peringatan Harsiarnas yang biasanya digelar setiap 1 April, tahun ini diselenggarakan pada 1 Juni karena dinilai lebih relevan secara momentum.
“Hari ini adalah Hari Lahir Pancasila. Tentu ini tidak hanya kebetulan. Penyiaran dan falsafah hidup kita beriringan. Kita berharap lembaga penyiaran, baik yang TV maupun radio, baik yang induk jaringan maupun anak jaringan, semuanya bisa menggaungkan nilai-nilai Pancasila melalui lembaga penyiaran. Baik dalam pemberitaan maupun program-program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya dalam sambutan membuka kegiatan tersebut.
Ubaidillah juga berharap peringatan Harsiarnas ke 92 dapat mendorong penyiaran nasional ke arah yang lebih baik. “Dari segi bisnisnya dan kontennya semakin sehat, sehingga masyarakat dapat terus mendapatkan informasi dan hiburan yang sehat khususnya anak-anak,” kata Ketua KPI Pusat yang biasa disapa Gus Ubaid.

Selain memperingati Harsiarnas ke 92, siang harinya KPI akan menggelar kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) secara hybrid. Kegiatan ini akan dihadiri KPID dari seluruh provinsi.
“Kita berharap dalam kegiatan ini akan dirumuskan hal-hal terkait penyiaran kita dengan tantangannya ke depan. Apa yang harus dibenahi oleh lembaga penyiaran maupun bagi kami, baik secara kelembagaan di KPI Pusat dan KPID,” jelas Ubaid dalam sesi wawancara dengan awak media.
Dalam kesempatan ini, Ubaid ikut menyinggung kondisi yang terjadi di lembaga penyiaran saat ini. Menurutnya, KPI sebagai regulator telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak seperti Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan asosiasi lembaga penyiaran. Pasalnya, jalan keluar setiap lembaga penyiaran memiliki perbedaan.
“Kita sudah berdikusi dengan asosiasi, cara menyelesaikan mereka berbeda-beda. Kita berharap ini PR bersama. Saya kira tantangan tidak hanya lembaga penyiaran, KPI sebagai regulator juga KPID sama-sama mencari jalan keluar. Kolaborasi juga harus kita lakukan baik dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah,” jelasnya.
Ketika penyiaran mengalami kemunduran dan banyak dihentikan, lanjut Ubaid, informasi yang sehat dan akurat di tingkat masyarakat akan berkurang. “Karena banyak lembaga penyiaran yang mengurangi pegawainya. Kita berharap dan sama-sama cari jalan keluarnya. Formulanya yang terbaik bagi Indonesia ketika era disrupsi ketika teman-teman bisa tetap eksis, adaptif dan tentunya inovatif. Ini akan bisa dirumuskan dalam Rakornas,” katanya.
Komisioner sekaligus Koordinator Bidang Kelembagaan KPI Pusat, I Made Sunarsa, yang juga menjadi penanggung jawab Rakornas, menyebut forum ini menjadi ruang untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan penyiaran, mulai dari disrupsi teknologi, ketimpangan regulasi antara media konvensional dan digital, hingga pengurangan tenaga kerja di sejumlah lembaga penyiaran.
“Kita ingin cari jalan keluar bersama. Kami sebagai regulator tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada sinergi antara KPI, KPID, lembaga penyiaran, pemerintah pusat dan daerah, serta masyarakat,” tutup Made.
Rencananya, kegiatan Rakornas KPI tahun 2025 berlangsung di Hotel Tavia Heritage Jakarta mulai Minggu siang (1/6/2025) hingga selesai. Pembukaan forum ini dijadwalkan akan dihadiri Menteri Komdigi dan Ketua Komisi I DPR RI. ***/Foto: Agung R

Saksikan Peringatan Hari Penyiaran Nasional ke 92 di Car Free Day Sudirman
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 1813

Jakarta -- Setiap tanggal 1 April, setiap tahunnya, dirayakan sebagai Hari Penyiaran Nasional (HARSIARNAS). Hari peringatan ini telah ditetapkan dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 9 Tahun 2019 tentang Hari Penyiaran Nasional. Di tahun ini, peringatan Harsiarnas memasuki usia ke 92 dengan tema “Siaran Berkualitas Menuju Indonesia Emas”.
Meskipun tanggal 1 April telah berlalu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bersama-sama asosiasi penyiaran (ATVSI) akan menggelar peringatan Harsiarnas ke 92 pada hari Minggu, tanggal 1 Juni 2025, di sela-sela kegiatan Car Free Day (CFD) di Kawasan Jalan Jenderal Besar Sudirman.
Rencananya, gelar peringatan Harsiarnas ke 92 akan diisi sejumlah kegiatan dan hiburan diantaranya Flashmob, Zomba dan Diskusi “Show Mimah”. Kegiatan ini dapat disaksikan secara langsung di Jakarta Creative Zone Riverview (JXB) di dekat Stasiun BNI City, tepatnya di samping Sungai Ciliwung mulai pukul 06.00 WIB pagi. ***



