Pemberitaan Media Berperspektif Perempuan Masih Buruk

altAliansi Jurnalis Independen (AJI) divisi Perempuan memaparkan hasil studi Pemetaan Berita bertema Perempuan dengan Pendekatan Analisis Gender, di rumah makan Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, 16 Maret 2011. Eko Bambang Subyantoro dan Luviana tim peneliti AJI menjelaskan studi ditujukan untuk mengetahui gambaran umum bagaimana media massa memberitakan perempuan serta kuantitas berita bertema perempuan. Penelitian ini juga ditujukan untuk mengetahui latar belakang penulisan berita perempuan dan bagaimana fokus serta sikap pemberitaan media massa terhadap tema perempuan. Studi ini dilakukan terhadap tujuh surat kabar yang beredar nasional pada kurun waktu tiga bulan yaitu periode Juli-Agustus 2010.

Dari ketujuh surat kabar yang diteliti, Kompas paling banyak menyajikan berita bertema perempuan yaitu sebanyak 37 kali. Sedangkan Media Indonesia dan Indopos sebanyak 32 berita. Koran Tempo 27 berita, Republika 26 berita, Warta Kota 23 berita, dan Suara Pembaruan 18 berita.

Studi juga dilakukan terhadap pemberitaan di empat stasiun TV yaitu Seputar Indonesia Siang dan Petang (RCTI), Liputan 6 Siang dan Petang (SCTV), Metro Hari ini (Metro TV) serta Kabar Siang dan Petang (TV ONE). Dari stasiun TV tersebut, RCTI menempati urutan tertinggi yaitu 38 kali pemberitaan bertema gender. Disusul SCTV dengan 31 berita, Metro TV 28 berita, dan terakhir TV One dengan 27 berita.

Dalam pembukaan diskusi,Nezar Patria, Ketua AJI, menyampaikan AJI khawatir isu perempuan di media menjadi isu pinggiran. Nezar menambahkan AJI juga melakukan studi pemetaan pekerja perempuan di media di delapan Kota. Hasil pemetaan akan diinformasikan kepada publik dan melakukan road show ke berbagai perusahaan media cetak dan elektronik.

Diskusi dipandu oleh aktivis perempuan, Ayu Utami, menghadirkkan tiga pembicara, salah satunya Ezki Suyanto, Koordinator Isi Siaran KPI Pusat. Ezki menjelaskan pemberitaan media berperspektif perempuan di Indonesia masih sangat buruk, terutama di TV. "Sering sekali dalam kasus asusila, wajah korban tidak disamarkan bahkan keluarga, sekolah, dan rumah korban ditayangkan," ungkapnya. Ezki menambahkan korban juga kerap diwawancarai dan ditanya mengenai kronologis kejadian, "Wartawan kerap berperilaku seperti polisi melakukan interogasi bukan wawancara,”ujarnya.

Hal sama juga pada program non berita seperti sinetron dimana perempuan digambarkan sangat jahat, tidak berdaya, pengejar harta dan suka kekerasan. Sedangkan di program variety show, perempuan kerap dimarjinalkan dan menjadi korban olok-olok.

Santi Indra Astuti, pengajar Komunikasi di Universitas Paramadina, menyampaikan penggambaran perempuan di media massa lebih menonjolkan sisi komersil ketimbang jati dirinya. Di media cetak, perempuan diperlakukan sebagai citra feminim dan bukan menonjolkan keahliannya. Sedangkan di media elektronik, perempuan kerap diperlakukan sebagai citra permen, seperti perempuan penggoda atau dimunculkan untuk memperingan acara-acara yang bertema "berat."

Pembicara lainnya, Bina Bektiati, Redaktur Pelaksana Majalah Tempo menyarankan AJI membuat program peningkatan kapasitas jurnalis yang profesional.. "Wartawan harus melatih diri untuk lebih sensitif," ungkap Bina.  Media juga harus didorong untuk memiliki agenda terhadap satu atau dua isu perempuan dalam Koran,majalah atau televisi.Red/SH