Dikusi Pekan Komunikasi UI: Frekuensi Harus Dimanfaatkan Bagi Kepentingan Publik
Jakarta - Frekuensi yang digunakan televisi merupakan ranah publik, karena itu keberadaan televisi harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemaslahatan publik. Pendapat tersebut disampaikan Roy Thaniago, perwakilan dari remote TV, disela-sela diskusi bertema “Masih Kreatifkah Industri Pertelevisian di Indonesia” meyambut Pekan Komunikasi Universitas Indonesia (UI) di Pusat Perpustakaan UI, Kamis, 8 Maret 2012.
Sayangnya, kata Roy, 60% mahasiswa yang dimintai keterangan Remote TV dalam penelitiannya tidak mengetahui jika frekuensi yang digunakan televisi merupakan milik publik.
Roy juga menyoroti kondisi saat ini yang terjadi di masyarakat yang begitu percaya kepada media. “Kondisi politik sekarang, publik sudah dipintarkan mengenai hal ini oleh media. Media harusnya mengangkat hal-hal mengenai publik. Kebebasan media juga harus diawasi oleh masyarakat,” jelasnya.
Nurul Utami, mahasiswa fakultas komunikasi UI, menyatakan sependapat dengan Roy. Menurutnya, penonton itu hanya dijadikan objek oleh media. Perlu ada satu solusi yang dipertimbangkan. “Memang kita tidak bisa mengandalkan TV sebagai pembentuk karakter bangsa, tapi masih banyak masyarakat yang sangat tergantung pada TV. Bagaimana TV bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat yang butuh hiburan dan masyarakat yang butuh isi TV yang baik,” tuturnya.
Nina Mutmainnah, anggota KPI Pusat bidang Isi Siaran yang menjadi salah satu pembicara pada diskusi, menyatakan bahwa tidak semua fakta harus ditampilkan dalam siaran televisi. Jika pun harus ditampilkan mesti nurut dengan aturan yang ada. “Media penyiaran itu menggunakan highly regulated,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Nina mendorong televisi untuk berperspektif gender. Pasalnya, potret perempuan di tanah air terbilang menyedihkan. Menurut data, hanya 23% perempuan Indonesia yang menikmati dunia pendidikan tinggi. Bahkan, angka kematian ibu menempati peringkat paling tinggi.
Nina pun berharap setiap orang yang masuk di industi penyiaran, dapat membuat perubahan walau sekecil apapun dan menjadi virus yang baik. “Namun saya khawatir, jika nanti anda anda masuk ke industry merasa tidak bisa mengubah dan melakukan perubahan tersebut,” keluhnya.
Sementara itu, Bambang Elfiantono, perwakilan Trans 7, menyatakan kreatifitas itu bagaimana cara melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda, mencari alternatif unik, dan referensi tentang budaya serta pemikiran. “Saya melihat kreatifitas itu adalah sintesa dialektik. Untuk menjadi kreatif kita harus memiliki wawasan,” katanya.
Menurut Bambang, permasalahan di TV itu tidak hanya soal kreatifitas. Kreatifitas ini adalah salah satu unsur dalam kegiatan bisnis TV. “Industri TV itu membutuhkan duit yang besar, tapi memang seharusnya karena menggunakan frekuensi publik harus ada tanggungjawab sosial. Kreatifitas harus bisa dijual, disukai penonton, dan menampilkan pengisi acara yang mampu menarik banyak penonton,” jelasnya. RG