
Jakarta -- Ribuan reporter dan staf di lembaga penyiaran nasional Australia (ABC), melakukan mogok kerja menuntut upah yang lebih baik. Aksi mogok 24 jam dimulai pukul 11:00 pagi pada tanggal 25 Maret (waktu setempat). Alasan utama di balik gelombang protes yang kuat ini berakar pada keluhan yang sudah lama ada mengenai pendapatan dan stabilitas pekerjaan.
Serikat pekerja yang mewakili karyawan stasiun telah menyerukan penolakan terhadap rancangan perjanjian yang akan memberikan kenaikan gaji total sebesar 10% selama tiga tahun, termasuk 3,5% untuk tahun pertama dan 3,25% untuk setiap tahun berikutnya.
Program-program berita utama, termasuk program berita pagi hari Kamis di televisi, buletin berita pukul 19.30 hari Rabu, dan semua program berita radio dari pagi hingga malam, akan digantikan oleh program dari BBC.
Erin Madeley, CEO dari Media, Entertainment and Arts Alliance (MEAA), menyatakan: “Karyawan ABC mengambil langkah ini karena mereka menginginkan upah yang adil yang sejalan dengan biaya hidup, jaminan pekerjaan yang nyata, dan kondisi kerja yang memungkinkan mereka untuk terus melayani masyarakat Australia dengan integritas.”
Di tengah gelombang pemogokan, CEO ABC Hugh Marks yakin kenaikan gaji tersebut cukup menyeimbangkan kebutuhan karyawan dan pemirsa, sambil memperingatkan bahwa tawaran yang lebih tinggi dapat membahayakan konten dan layanan ABC.
Mogok kerja tersebut berdampak langsung dan luas pada jadwal siaran stasiun televisi nasional, yang menjangkau 65% populasi Australia. Red dari berbagai sumber

