
Jakarta -- Melihat Perkembangan Praktik Penyiaran DVB di Negara Eropa, Huawei Technologies membagikan bagaimana standar DVB-I (DVB Interactive) dan DVB-NIP (DVB Native IP) telah diterapkan oleh industri penyiaran di berbagai negara Eropa.
Sebagai informasi, DVB-I dan DVB-NIP merupakan dua standar yang dikembangkan oleh Digital Video Broadcasting (DVB) untuk mendukung transisi dari penyiaran tradisional ke sistem berbasis IP yang lebih modern dan fleksibel.
DVB-I berfungsi sebagai lapisan aplikasi untuk penyiaran interaktif, sementara DVB-NIP memungkinkan sistem penyiaran beroperasi sepenuhnya melalui protokol IP.
Direktur Senior Departemen Strategi dan Pengembangan Industri Huawei Technologies, Paul Higgs, mengungkapkan bahwa tahap awal penerapan DVB di Jerman dilakukan melalui penyediaan daftar layanan terpadu untuk pasar, yang juga dapat diatur oleh regulator.
“Tahap awal ini menunjukkan daftar layanan terpadu untuk pasar Jerman, yang dapat ditetapkan oleh regulator, mencakup layanan hibrida dengan saluran yang menggunakan siaran DVB,” papar Paul Higgs dalam kegiatan ATVSI Workshop ‘DVB-I and DVB-NIP’ di Jakarta, Senin (2/6/2025).
Sementara di Italia, negara tersebut telah melakukan uji coba rantai penyiaran DVB-I dalam lingkungan nyata, di mana pengguna akhir dapat langsung membeli televisi yang telah terintegrasi dengan fitur DVB-I.
“Italia juga memberikan ruang bagi entitas lain untuk menyampaikan kepada AGCOM (regulator Italia) bahwa penerapan DVB-I tidak mengganggu ekosistem penyiaran yang sudah mapan,” jelasnya.
Adapun di Irlandia, adopsi DVB-I dimulai dengan strategi ‘Smart Follower’, yang menekankan pendekatan risiko rendah namun berdampak besar terhadap pengembangan fitur dan produk secara bertahap.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan strategi nasional untuk mengadopsi standar DVB dalam industri penyiaran domestik.
Peninjau Kebijakan Teknis Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Andi Zulkifli, menjelaskan bahwa langkah pertama dalam strategi nasional adalah menyusun peta jalan guna memberikan panduan komprehensif bagi masa depan penyiaran.
“Langkah kedua adalah memperkuat koordinasi, diplomasi teknologi, dan partisipasi global guna membangun kolaborasi dan posisi Indonesia di kancah internasional,” ujar Andi Zulkifli dalam workshop tersebut.Langkah ketiga adalah membentuk Regulation Sandbox sebagai wadah pengujian standar baru seperti keluarga DVB dalam lingkungan yang terkontrol.
Selanjutnya, pemerintah juga akan terus memperbarui kurikulum dan literasi penyiaran guna meningkatkan kapasitas SDM menghadapi teknologi masa depan.
Senada, Ketua DVB Project, Peter McAvock, menyatakan bahwa Indonesia perlu menjalin kolaborasi erat antara pemerintah dan industri untuk memastikan keberhasilan adopsi teknologi DVB dan penyusunan regulasinya.
“Saya kira pesannya jelas: industri perlu bekerja sama, termasuk dengan regulator, untuk mewujudkan sesuatu. Kita telah mendengar banyak kabar baik hari ini. Namun yang paling penting, industri TV Indonesia harus bersatu dalam upaya tersebut,” katanya.“Indonesia sudah berada di jalur yang tepat dalam hal penerapan jaringan DVB dan DVB-S2. Namun sayangnya, Anda kini menghadapi persaingan ketat dari wilayah lain,” imbuhnya. Red dari berbagai sumber

