- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 598

Jakarta - Komisioner KPI Pusat, Aliyah mengatakan, tujuan utama kegiatan “Ngaji Penyiaran” adalah memberikan pemahaman kepada para santri tentang pentingnya literasi media, khususnya dalam menilai dan mengawasi tayangan di televisi dan radio.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin adik-adik santri bisa mereview tayangan televisi dan radio ketika kembali ke rumah, serta mengetahui bahwa seluruh tayangan tersebut diawasi oleh Komisi Penyiaran Indonesia,” ujarnya saat memberi sambutan pada sosialisasi bertajuk “Ngaji Penyiaran” dengan tema Santri Pelopor Konten Positif di pesantren Asshiddiqiyah, Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Lebih lanjut, Aliyah menyampaikan perbedaan antara tayangan televisi dan radio yang berada di bawah regulasi KPI dengan konten di media sosial yang hingga kini belum memiliki lembaga pengatur dan pengawas khusus.
“Berbeda dengan tayangan di media sosial yang belum diatur oleh regulasi tertentu. Jadi, bila adik-adik menemukan tayangan televisi atau radio yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesantrian atau ke-Indonesiaan, silakan sampaikan aduan tersebut ke KPI,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, pengasuh ponpes Asshiddiqiyah, KH. Ahmad Mahrus Iskandar mengatakan, dunia penyiaran ibarat sebuah kapal besar yang memiliki nahkoda dan arah yang jelas agar tidak terombang-ambing oleh gelombang informasi yang bisa merusak nilai moral dan kebangsaan. Oleh karena itu, setiap program siaran baik berita, reality show, maupun hiburan lainnya harus tunduk pada aturan atau rules yang telah ditetapkan dalam regulasi penyiaran Indonesia.
“Penyiaran bukan hanya tentang tontonan entertainment saja, tetapi juga ada aturan yang harus dipahami. Jangan sampai penyiaran hanya menjadi tontonan, tetapi tidak menjadi tuntunan atau panutan bagi masyarakat untuk pendidikan dan kebaikan bangsa,” katanya dalam kegiatan tersebut.
Melalui sosialisasi ini, KPI berharap para santri dapat memahami alur penyiaran di Indonesia serta berperan aktif dalam menciptakan konten-konten yang edukatif, beretika, dan inspiratif. “Semoga dari kegiatan ini akan lahir para kreator konten positif dari kalangan santri, khususnya santri-santri Asshiddiqiyah, baik di media sosial maupun di media nasional,” tambah Aliyah. Syahrullah















