
Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberikan penghargaan lifetime achievement (prestasi seumur hidup) kepada mendiang Abdulrachman Saleh dalam ajang Anugerah KPI 2025. Penghargaan ini diberikan atas jasa besar Almarhum terhadap perkembangan penyiaran di tanah air. Salah satunya menggagas berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) beberapa bulan setelah Indonesia merdeka.
Penghargaan diberikan langsung Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, kepada perwakilan keluarga Almarhum pada acara puncak Anugerah KPI 2025 yang disiarkan secara langsung oleh Nusantara TV, Rabu (10/12/2025) malam.
“Kami atas nama keluarga mengucapkan terima kasih atas penghargaan ini. Ini adalah penghargaan yang kami terima setelah almarhum meninggal sekitar tahun 1947. Terima kasih,” kata perwakilan keluarga Almarhum sesaat setelah menerima penghargaan tersebut.
Abdulrachman Saleh lahir di Kampung Ketapang (Kwitang Barat), Batavia, Hindia Belanda (sekarang Jakarta, Indonesia) pada tanggal 1 Juli 1909. Orang tuanya adalah Mohammad Saleh, seorang dokter terkenal, dan Emma Naimah Saleh (née Moehsin). Ia mengikuti jejak ayahnya dan belajar untuk menjadi dokter di sebuah perguruan tinggi kedokteran untuk orang Indonesia, School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Karena STOVIA ditutup sebelum ia menyelesaikan studinya, ia melanjutkan studinya di perguruan tinggi kedokteran lain, Geneeskundige Hoge School (GHS). Karena rambutnya yang keriting, teman-temannya mulai memanggilnya "Karbol" yang diambil dari bahasa Belanda Krullebol yang berarti "rambut keriting".
Selama kuliah kedokteran, Karbol bergabung dengan berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, organisasi kepanduan Indonesische Padvinderij Organisatie, dan klub olahraga lainnya. Ia juga mengembangkan minatnya di bidang penyiaran radio dan penerbangan. Ia bergabung dengan klub penerbangan di Batavia dan berhasil memperoleh lisensi pilot.
Setelah menamatkan pendidikan kedokteran pada tahun 1937, ia melanjutkan pendidikan di bidang fisiologi dan menjadi dosen di perguruan tinggi kedokteran Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya pada tahun 1942. Ia kemudian kembali ke Batavia sebagai dosen di almamaternya, GHS, dan dipromosikan menjadi profesor penuh.
Di luar karier medisnya, Saleh juga diangkat sebagai pimpinan organisasi penyiaran radio bernama Vereniging voor Oosterse Radio Omroep (VORO). Pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia dengan keahliannya berperan penting dalam menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan ke seluruh negeri. Saat itu, ia secara sembunyi-sembunyi mendirikan tiang pemancar untuk menyebarkan berita tersebut.
Seperti kutipan yang sering dikaitkan dengannya, "Kemerdekaan harus diperjuangkan dengan segala daya dan upaya, termasuk melalui media". Hingga kemudian Karbol terlibat dalam pendirian Lembaga Penyiaran Publik Indonesia (Radio Republik Indonesia/RRI) pada tanggal 11 September 1945.
Setelah merasa yakin bahwa lembaga radio Indonesia berada di tangan yang tepat, ia mengundurkan diri dari jabatannya di sana dan bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia untuk membantu pembentukan TNI Angkatan Udara bersama Agustinus Adisoetjipto, mantan muridnya di GHS. Ia kemudian bertugas sebagai instruktur penerbangan di Sekolah Penerbangan yang baru didirikan di Yogyakarta, di Lapangan Udara Maguwo.
Dalam aksi pertama dari dua aksi polisionil Belanda terhadap Republik Indonesia, Agresi Militer Belanda I, Saleh dan Adisoetjipto diperintahkan untuk terbang ke India. Mereka berhasil menembus blokade udara yang dilakukan oleh Angkatan Udara Belanda, yang meliputi wilayah udara dari Indonesia ke India dan Pakistan. Namun, dalam perjalanan pulang dari Singapura, saat mengangkut bantuan obat-obatan sumbangan dari Palang Merah Malaya di Singapura, pesawat Dakota yang mereka tumpangi ditembak jatuh oleh dua pesawat P-40 Kittyhawk milik Belanda di Dusun Ngoto pada tanggal 29 Juli 1947. Abdulrachman Saleh gugur dalam tugas mulia tersebut. Sisa-sisa pesawat yang ditumpanginya dapat dilihat di Museum Dirgantara Mandala.
Abdulrachman Saleh telah lama meninggalkan kita dan bangsa ini. Namun semangat juang, keberanian, dan juga perhatiannya terhadap penyiaran di tanah air tidak akan lekang oleh waktu. Kami bangga padamu Karbol. ***


