Jakarta - Perkembangan media dan teknologi yang sangat pesat memberikan pengaruh yang besar dan mendominasi seluruh sektor kehidupan masyarakat. Termasuk di dalamnya anak-anak dan remaja sebagai elemen masyarakat. Perhatian ini menjadi penting karena media bisa seperti dua ujung pedang yang memberikan efek positif juga negatif kepada masyarakat. Pemahaman dan literasi media menjadi suatu hal yang penting untuk membuat masyarakat melek atas guna mengkonsumsi media yang sehat dan memiliki strategi pembelajaran yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Ada banyak definisi mengenai literasi media. Secara singkat Sonia Livingstone (2003) menjelaskan bahwa literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan dalam berbagai bentuk medium. Melalui pendidikan bermedia diharapkan seseorang dapat merefleksikan nilai-nilai pribadinya, menguasai berbagai teknologi informasi, mendorong kemampuan berfikir kritis, memecahkan masalah, dan mendorong demokratisasi.
Hal ini disampaikan pada acara Bedah Buku dan Stadium General” “Gerakan Literasi Media di Indonesia” yang diadakan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) bekerjasama dengan Rumah Sinema di Auditorium Arifin Panigoro UAI pada Rabu, 5 Desember 2012. Dalam riset yang dilakukan Rumah Sinema, ada 4 metode yang coba dikembangkan dalam pendidikan bermedia.

Pertama adalah Protectionist Model. Model ini mengharuskan khalayak memilih tontonan yang baik dan menghindari tontonan yang buruk. Bentuk kegiatannya adalah Diet Media, pengaturan jadwal menonton, dan sejenisnya. Menurut Dyna Herlina S, MSc (peneliti Rumah Sinema), model ini cocok untuk khalayak yang punya kemampuan dan pendidikan terbatas.

Kedua, adalah model Uses dan Gratification. Model ini membekali khalayak dengan kemampuan memilih dan memilih konten media. Bentuk kegiatannya adalah mempelajari kerja media. Dengan demikian khalayak mampu membuat keputusan sendiri dalam memilih media.

Ketiga, adalah model Cultural Studies. Model ini mengajak khalayak untuk menganalisis dan mengkrisitisi media. Bentuk kegiatannya dapat berupa Kampanye Hari Tanpa TV, Advokasi UU Penyiaran, Boikit Media, dan lain.lain.

Keempat, adalah model Active Audience. Model ini melatih khalayak agar mampu menginterpretasi konten media berdasarkan latar belakang masing-masing. Baik secara sosial maupun kultural. Bentuk kegiatannya sampai kepada memproduksi media sesuai dengan aspirasinya.
Dyna mengajak peserta yang hadir untuk turut serta dalam gerakan literasi media ini. Pemilihan model literasi media bisa disesuaikan sesuai dengan kondisi khalayak dan situasi setempat.

Di lain kesempatan, Azimah Subagijo (Komisioner KPI Pusat/Koordinator Program Literasi Media KPI) menyampaikan bahwa saat ini dunia penyiaran masih terlalu prematur memasuki era reformasi kebebasan berpendapat. Pengelola media terutama televisi yang seharusnya menyediakan informasi dan pendidikan yang sehat pada khalayak masih tergagap-gagap menggunakan media dengan bijaksana. Sementara khalayak konsumen media masih belum punya keterampilan yang cukup untuk mengkonsumsi media dengan kritis. KPI sebagai regulator pun tidak memiliki wewenang yang cukup untuk mengintervensi media dan melindungi khalayak dari efek negatif media. Untuk itu KPI berinisiatif membuat program literasi media.

Menyadari pentingnya partisipasi dan peran khalayak dalam dunia penyiaran, KPI kemudian memberikan fasilitasi untuk program Literasi Media. Mulai 2011, KPI mulai membuat sebuah Grand Desain untuk Literasi Media Televisi. KPI memulainya dengan menyelenggarakan workshop untuk pembuatan modul panduan Literasi Media Televisi. Panduan ditujukan agar KPI memiliki standar sosialisasi literasi media televisi kepada khalayak. Modul tersebut kemudian diluncurkan pada 1 April 2011 sebagai panduan sosialisasi literasi media televisi. Kemudian program ini berlanjut dengan pelatihan untuk penggunaan panduan sosialisasi literasi media televisi.

Selain itu KPI juga mengajak khalayak untuk turut serta dalam mengawasi dunia penyiaran dengan menginisiasi forum masyarakat peduli penyiaran. KPI berharap dengan adanya forum masyarakat ini, khalayak semakin peduli dengan guna, dampak, dan konten penyiaran. Selain itu melalui forum ini, khalayak semakin berdaya mempengaruhi dunia penyiaran sehingga demokratisasi penyiaran bisa berjalan dengan baik. (AQUA)

Hak Cipta © 2026 Komisi Penyiaran Indonesia. Semua Hak Dilindungi.
slot