Ciamis - Jika tayangan televisi tidak memberi manfaat dan tidak aman bagi pemirsanya khususnya anak-anak dan remaja, sebaiknya segera lakukan “Diet Media”. Upaya ini dinilai cukup efektif mencegah dampak buruk akibat tayangan yang tidak aman.
Wakil Ketua KPI Pusat, Ezki Suyanto menilai, diet media bukan berarti melarang pemirsa menonton televisi. Diet media lebih kepada usaha kita melakukan penyaringan atau selektif pada acara-acara televisi, film, game dan internet. “Ada batasan jam untuk menonton televisi, bermain game, menonton film dan mengakses internet,” jelasnya di depan peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Lembag Penyiaran di Jawa Barat yang diselenggarakan KPID Jabar di Hotel Tyara Ciamis, Kamis, 22 November 2012.
Menurut Ezki yang pernah cukup lama menjadi wartawan cetak dan radio, diet media lebih ditujukan pada kalangan khusus seperti anak-anak dan remaja. Pasalnya, anak-anak dan remaja memiliki kecenderungan mudah meniru dari apa yang mereka tonton. Padahal, mereka (anak-anak) belum memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan bagi dirinya.
“Jika memang siaran itu kreatif dan efeknya positif, tidak perlu ada diet seperti ini. Jadi, buatlah siaran yang kreatif dan baik agar masyarakat memang ditujuan menonton sebuah siaran yang baik,” katanya.
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam diet media yakni dengan membuat aturan menonton di rumah, kebutuhan televisi cukup satu, jangan membuat ruangan menonton terlalu nyaman, dan jangan memiliki pesawat televisi yang membuat nyaman. Televisi dan komputer sebaiknya diletakan di ruang publik di rumah untuk mempermudah pengawasan.
“Biasakan saat memulai nonton televisi dilakukan proses pemilihan acara dengan demokratis. Peran orangtua dalam hal ini sangat penting untuk memberikan pembelajaran dan informasi terkait tayangan yang ditonton,” jelas Ezki berdasarkan pengalamannya saat anak-anak.
Hal lain yang perlu perhatikan para orangtua adalah jangan membiarkan anak-anaknya menonton berita tanpa pendampingan. Menurut Ezki, penyajian berita terkadang terlalu vulgar untuk kasus-kasus kekerasaan atau konflik. “Saya khawatir anak-anak menganggap biasa dengan menenteng senjata tajam atau juga menghina orang lain,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, Ezki berharap lembaga penyiaran bisa lebih berhati-hati dalam menayangkan suatu program, baik itu berita maupun program acara lain. “Berita itu harus bersifat fakta, tidak boleh opini. Jika berita disimpulkan bisa menimbulkan masalah. Kreatif boleh saja, tapi harus realistis,” sahutnya. Red
“Diet Media” Usaha Hindari Anak-anak dan Remaja dari Efek Buruk Media
- Detail
- Dilihat: 8309

