Mataram – Televisi-televisi swasta lokal di daerah harus berubah dan melepaskan diri dari ketergantungan mencontoh siaran Jakarta. Perubahan itu membuat televisi lokal lebih berbeda dengan televisi Jakarta dan upaya untuk menjaring pengiklan menjadi terbuka.
“Kita harus berbeda dengan mereka karena kita susah bersaing dengan mereka. TV lokal itu harus kaya. Karena itu, kita harus berubah dan melupakan Jakarta,” kata Wilson Sitorus, Manager Produksi O Channel, dalam acara Sosialisasi P3 dan SPS KPI tahun 2012 di Mataran, NTB, Senin, 29 Oktober 2012.
Menurutnya, ada peluang yang bisa diambil televisi lokal untuk mendapatkan keuntungan dimana televisi nasional tidak melihatnya. Eksplorasi lokalitas yang ada dan buat program yang menarik dengan melihat pangsa pasar di lapangan yang menjadi daya tarik pengiklan atau sponsor.
“Di jakarta itu, banyak orang yang tidak tahu Jakarta sesungguhnya. Kita buat program yang tidak pernah disentuh TV nasional dan itu ternyata menarik pemirsa dan rating kami naik. Tentunya ini bisa mempengruhi pengiklan,” kata Wilson.
Kearifan lokal itu menarik dan kaya, ini bisa menjadi sumber inspirasi menciptakan program. “Saya pikir di NTB banyak peluang untuk itu. Saya pikir banyak produk yang ingin membuka peluang di lokal. Jangan lagi ada televisi lokal yang hidupnya antara ada dan tiada,” papar Wilson disaksikan Wakil Ketua KPI Pusat, Ezki Suyanto dan Komisoner KPI Pusat, Nina Mutmainnah.
Selain itu, Wilson meminta kepada praktisi penyiaran untuk berhati-hati dalam membuat dan menayangkan program siaran. Untuk mencegah dampak buruk dari siaran yang ditayangkan, alangkah baiknya jika aturan yang dibuat KPI yakni P3 dan SPS untuk dipatuhi. “Pengalaman saya adalah patuhilah P3 dan SPS untuk melindungi anak-anak kita,” katanya.
Ketua KPID NTB, Badrun AM mengatakan, dari sembilan televisi lokal di NTB hanya ada dua televisi lokal yang bersiaran di atas 4 jam. Problem yang terjadi adalah biaya. Selama ini, sebagian besar televisi lokal di sini masih bergantung Pemda. Jika tidak demikian, mereka tidak ada pemasukan.
Menurutnya, ketergantung tersebut bisa dilepaskan televisi lokal dengan usaha yakni mencipatkan kreatifitas seperti yang disampaikan Wilson. “Bagi saya, masih banyak industri lokal yang bisa kita manfaatkan untuk sumber pemasukan. Kami sangat berharap televisi lokal untuk terus eksis dan hidup tanpa harus mengandalkan subsidi pemerintah. Kalau kita kreatif, kita bisa dikasih iklan. Kami harap teman-teman media bisa menciptakan program yang baik,” jelas Badrun. Red
TV Lokal Harus Kreatif dan Lepas dari Ketergantungan
- Detail
- Dilihat: 20757

