Peringatan Harsiarnas ke 92: Menuju Indonesia Emas, KPI Ajak Masyarakat Pilih Siaran Berkualitas
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 2783

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih siaran yang berkualitas. Hal ini selaras dengan upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Harapan ini disampaikan Komisioner KPI Pusat, Mimah Susanti, di acara "Show Mimah" yang digelar di sela-sela kegiatan Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke 92 di bilangan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu pagi (1/6/2025).
Menurutnya, proses menyeleksi ini sangat penting muncul di publik. Sehingga informasi maupun hiburan yang masyarakat konsumsi merupakan konten tayangan yang edukatif, informatif, menghibur, dan tanpa mengandung hoaks.
Dia juga menyampaikan bahwa Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) yang diperingati setiap 1 April, merupakan momentum untuk mengenang lahirnya SRV pada 1 April 1933, sebagai siaran radio pertama milik pribumi Indonesia.
“Mewarnai kampanye siaran sehat, KPI juga menyelenggarakan kegiatan sehat pada hari ini, yaitu jalan sehat atau fun walk dan zumba. Selain itu KPI ada banyak program, seperti literasi,” ujarnya.
Di panel informasi yang disediakan di sebelah pintu masuk area peringatan Harsiarnas, ditampilkan berbagai program siaran yang mendapatkan penghargaan, baik dari Anugerah Syiar Ramadhan (ASR), Anugerah Penyiaran Ramah Anak (APRA), maupun Anugerah KPI. Ajang penghargaan tersebut bertujuan mengapresiasi lembaga penyiaran yang berkomitmen terhadap konten siaran yang berkualitas.

Menguatkan apa yang disampaikan Mimah, Komisioner KPI Pusat, Evri Rizqi Monarshi, menekankan pentingnya peran masyarakat. “Karena sebetulnya, pondasi awal untuk bisa menjaga bagaimana kemudian nanti keluarga bisa terinformasi ya masyarakat, harus pandai memilah dan memilih siaran berkualitas, tayangan yang sesuai martabat bangsa,” katanya.
Sementara itu, Komisioner KPI Pusat, Aliyah, menyampaikan bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diimplementasikan dalam tayangan. Menurutnya, banyak siaran yang sudah mengangkat nilai keagamaan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial dalam program-program mereka.
Sebagai penutup, dua bintang tamu dari kalangan muda, Novia dan Gunawan dari ajang bakat, mengajak generasi muda untuk lebih bijak dalam mengonsumsi media digital. “Jangan mudah terpengaruh oleh konten yang belum jelas kebenarannya. Kita harus memilah dan memilih informasi yang kita terima,” pesan Novia.
“Jarang anak muda sekarang memperhatikan sopan santun dan attitude di media sosial, jadi ke depannya bisa lebih menjaga komunikasi di media massa,” imbuh Gunawan.
Peringatan Harsiarnas ini juga menjadi wadah strategis bagi KPI untuk terus menyosialisasikan pentingnya siaran yang sehat dan mendidik. Masyarakat diharapkan berperan aktif dalam mewujudkan penyiaran berkualitas untuk masa depan, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. ***/Anggita Rend/Foto: Agung R

Saksikan Peringatan Hari Penyiaran Nasional ke 92 di Car Free Day Sudirman
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 1714

Jakarta -- Setiap tanggal 1 April, setiap tahunnya, dirayakan sebagai Hari Penyiaran Nasional (HARSIARNAS). Hari peringatan ini telah ditetapkan dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 9 Tahun 2019 tentang Hari Penyiaran Nasional. Di tahun ini, peringatan Harsiarnas memasuki usia ke 92 dengan tema “Siaran Berkualitas Menuju Indonesia Emas”.
Meskipun tanggal 1 April telah berlalu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bersama-sama asosiasi penyiaran (ATVSI) akan menggelar peringatan Harsiarnas ke 92 pada hari Minggu, tanggal 1 Juni 2025, di sela-sela kegiatan Car Free Day (CFD) di Kawasan Jalan Jenderal Besar Sudirman.
Rencananya, gelar peringatan Harsiarnas ke 92 akan diisi sejumlah kegiatan dan hiburan diantaranya Flashmob, Zomba dan Diskusi “Show Mimah”. Kegiatan ini dapat disaksikan secara langsung di Jakarta Creative Zone Riverview (JXB) di dekat Stasiun BNI City, tepatnya di samping Sungai Ciliwung mulai pukul 06.00 WIB pagi. ***

Penyiaran Pilar Utama Cerdaskan Kehidupan Bangsa
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 1913

Mamuju -- Penyiaran tidak hanya sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi pilar penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Mohamad Reza, dalam sambutan di kegiatan KPID Expo Penyiaran 2025 yang digelar KPID Sulawesi Barat (Sulbar) di Mall Matos, pekan lalu.
Dalam sambutannya, Reza juga menyinggung perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini bisa memanfaatkan foto seseorang untuk membuat gambar bergerak atau video.
Ia juga mengingatkan potensi penyalahgunaan teknologi tersebut yang dapat merugikan individu.
“Kita perlu waspada terhadap perkembangan teknologi seperti AI. Sekarang hanya dengan foto, orang bisa membuat video seolah-olah itu kita. Ini tentu bisa membahayakan,” ujarnya.
Reza turut mengapresiasi pelaksanaan KPID Expo yang menurutnya merupakan kegiatan positif dimana terdapt pulah kegitan lomba Baca berita yang menututnya sangat baik.
“Ini kegiatan pertama yang digelar KPID Sulbar dan saya sangat mengapresiasinya, dimana ada satu lomba baca berita yang menurut saya sangat baik, Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut untuk meningkatkan literasi penyiaran di masyarakat,” tutupnya. **
Sinergi DPRD dan KPI Pusat dalam Penguatan Tata Kelola KPID Sumsel
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 2093

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menerima kunjungan kerja Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatra Selatan (Sumsel) dalam rangka peningkatan pemahaman sekaligus koordinasi terkait mekanisme seleksi dan penguatan kelembagaan KPID. Pertemuan berlangsung di Kantor KPI Pusat, Jakarta, dihadiri Komisioner KPI Pusat, Komisi I DPRD serta perwakilan KPID Sumsel, Rabu (28/05/2025).
Ketua Komisi I DPRD Sumsel, Meilinda menyampaikan rencana rekrutmen Anggota KPID Sumsel masa bakti berikutnya. Menurutnya, berlandaskan amanat UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, menempatkan DPRD sebagai fasilitator dalam proses seleksi anggota KPID, pengusulan nama calon, serta pengawasan kinerja lembaga tersebut.
Terkait hal ini, Dia berharap mendapat pemahaman komprehensif terkait mekanisme seleksi ideal, struktur kelembagaan, serta peran strategis DPRD dalam mengawal independensi KPID.
Menanggapi hal ini, Komisioner Bidang Kelembagaan, I Made Sunarsa menyampaikan, proses seleksi KPID diatur dalam PKPI Nomor 1 Tahun 2024 dan KKPI Nomor 3 Tahun 2024. Pihaknya juga menekankan pentingnya seleksi yang transparan dan menghindari kekosongan jabatan.
Soal kekhawatiran adanya kekosongan jabatan ini, Made Sunarsa menyampaikan bisa diatasi melalui perpanjangan sementara masa jabatan KPID hingga terpilihnya anggota baru (berdasarkan SK Gubernur atas usulan DPRD), merespon kekhawatiran Wakil Ketua Komisi I, Anwar Al Syadat, atas berakhirnya periode kepengurusan KPID pada Juli 2025.
“Kami sudah pernah mendatangi KPID di wilayah lain, ternyata ada perbedaan masa periode dan ada yang diperpanjang, tapi kami tidak ingin salah langkah”.

Sejumlah Anggota Komisi I DPRD ikut mengangkat isu lain terkait independensi calon anggota KPID, potensi intervensi politik, perlunya standar kompetensi yang tegas bagi calon anggota, pentingnya uji kelayakan yang objektif dan seleksi yang tidak didominasi oleh kepentingan politik. Bahkan, disampaikan wacana peran KPI dalam mengawasi media sosial yang kini lebih masif dibandingkan televisi dan radio.
Untuk bisa menghadirkan Komisioner KPID yang baik, KPI Pusat menyoroti pentingnya pembentukan tim seleksi yang terdiri dari unsur akademisi, tokoh masyarakat, perwakilan pemerintah, agar proses seleksi berjalan kredibel.
Mengenai persyaratan usia dan domisili, I Made Sunarsa menegaskan tidak terdapat batasan khusus yang diatur dalam undang-undang, berbeda dengan lembaga seperti Komisi Informasi. KPI tidak memiliki kewenangan untuk menambahkan syarat teknis secara sepihak, namun kualitas calon tetap bisa diuji melalui forum FPT (fit and proper test) yang dilaksanakan DPRD.
Kunjungan ini menjadi momen penting dalam membangun tata kelola penyiaran daerah yang profesional, bebas intervensi politik, serta adaptif terhadap perkembangan media digital dan sosial media yang semakin kompleks.
“Kami percaya, dan KPI Pusat punya keinginan kuat (komisioner) yang terpilih punya kredibilitas dan mumpuni. Pertarungan berjalan ketat karena revisi menuntut KPI punya kualitas untuk berurusan dengan media baru,” pungkas Komisioner Bidang Kelembagaan, Mimah Susanti. **/Anggita Rend

Syiar Ramadan sebagai Upaya Bersama Menjaga Umat dan Bangsa
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 2575

Jakarta -- Wakil Presiden RI periode 2019-2024 sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Ma’ruf Amin menilai tayangan ramadan merupakan bagian dari visi dan misi menjaga serta melindungi umat dari cara berpikir maupun perilaku yang menyimpang. Menurutnya, pikiran dan perilaku menyimpang bisa berujung pada kerusakan masyarakat secara luas. Oleh karena itu, media dan penyiaran memiliki peran strategis dalam mencerdaskan umat dan mengarahkan mereka pada jalan pikir yang lurus sesuai tuntunan agama.
Hal itu disampaikannya saat memberikan kata sambutan di acara puncak Anugerah Syiar Ramadan (ASR) yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bersama Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jumat, (23 Mei 2025).
Beliau mengingatkan penyiaran harus dijauhkan dari kepentingan sesaat atau hawa nafsu yang menyesatkan. “Dalam era post-truth saat ini, di mana batas antara kebenaran dan kebohongan menjadi samar, media justru harus hadir sebagai penjernih dan penuntun.
Ditekankan pula bahwa komitmen keagamaan dan kebangsaan harus menjadi pilar utama dalam pembangunan karakter bangsa. Ma’ruf Amin menyampaikan 2 amanah yang dipegang MUI yaitu, perjanjian dengan Tuhan (MUI sebagai pewaris tugas kenabian untuk menjaga umat), serta perjanjian kebangsaan dengan komitmen terhadap Pancasila, UUD 1945, dan keutuhan NKRI. Kedua komitmen ini saling menguatkan, bukan bertentangan.
Syiar Ramadan melalui media adalah bagian dari tanggung jawab besar tersebut. Oleh karena itu, seluruh lembaga penyiaran diajak untuk terus menjaga semangat ini demi ketahanan bangsa. “Malam ini harus jadi momentum untuk bekerja lebih keras, karena tantangan ke depan akan semakin berat,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, mengatakan kegiatan ini menjadi wujud komitmen kolektif menjaga kemuliaan bulan Ramadan melalui siaran publik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan membangun karakter bangsa.

“Ramadan bukan sekadar momentum spiritual, tetapi juga ruang kebudayaan dan edukasi di mana nilai-nilai keislaman bertemu dengan media, seni, dan kesadaran kolektif bangsa. ASR 2025 hadir sebagai sarana menjaga etika siaran publik serta memberi apresiasi kepada karya-karya syiar Islam yang menginspirasi,” ujar Abu Rokhmad.
Ketua KPI Pusat Ubaidillah menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan kompetisi tahunan untuk program-program siaran televisi dan radio terbaik selama bulan Ramadan. “Kami ingin memberikan apresiasi terhadap karya-karya Ramadan terbaik yang diproduksi insan media penyiaran. Melalui anugerah berkelanjutan ini kami berharap dapat mendorong industri penyiaran untuk terus berkarya menghasilkan program-program Ramadan terbaik dari waktu ke waktu,” kata Ubaidillah dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa siaran Ramadan yang berkualitas dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Ubaidillah juga berharap program-program tersebut dapat menjadi pedoman bagi umat Islam.
“Kami juga menginginkan dan mendorong media penyiaran, baik TV maupun radio, menjadi medium utama bagi masyarakat dalam menerima informasi serta hiburan yang baik dan positif di tengah kegaduhan yang datang dari media baru,” ujarnya.
Ketua MUI Bidang Infokom, Masduki Baidlowi menyampaikan bahwa MUI menambahkan penghargaan di tiga bidang penting, yakni literasi ekonomi syariah, literasi dan edukasi halal life style, serta literasi media digital. Ketiga penghargaan ini, menurut MUI, sejalan dengan ruh MUI yang berakar pada fatwa, dakwah, dan pendidikan publik.
Selain mencerminkan semangat kolaborasi pentahelik antara pemerintah, masyarakat, lembaga agama, dan media, ASR 2025 juga dipandang sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas lembaga penyiaran nasional, di tengah tantangan industri media yang sedang mengalami disrupsi besar dan gelombang PHK.
Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Phil H. Kamarudin Amin berkata, “Dakwah hari ini tidak cukup dipahami sebagai ceramah mimbar semata, melainkan sebagai aktivitas peradaban yang membina spiritualitas individu sekaligus memperkuat kesatuan sosial. Dakwah tidak sekedar menyampaikan teks, tapi menafsirkan konteks. Rasulullah membangun masyarakat dengan akhlak dan keteladanan, bukan sekadar retorika”.

Beliau mengidentifikasi ada tiga tantangan utama dakwah media. Pertama, menjangkau generasi digital (Gen Z dan Alpha) dengan pendekatan yang komunikatif dan relevan; meningkatkan kualitas pengamalan ajaran Islam di tengah dominasi konten hiburan; serta menjadikan agama sebagai pendorong pembangunan manusia, bukan hanya pembangunan fisik.
Kementerian Agama RI menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem dakwah moderat dengan mengembangkan pelatihan dai digital, meningkatkan literasi dakwah media, dan menerapkan kurikulum cinta yang mengusung nilai kasih sayang, toleransi, dan penghormatan. Syiar Ramadan diharapkan menjadi kanal utama penyebaran nilai-nilai tersebut ke ruang publik.
Pada kesempatan yang sama perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital, Staf Ahli Bidang Teknologi, Mochamad Hadiyana menyampaikan "Ramadan bukan hanya momen ibadah, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai kemanusiaan dan peran kita dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Siaran Ramadan tidak boleh hanya menjadi hiburan musiman, tapi harus membawa pesan yang membentuk pola pikir, sikap, dan moral publik”. ASR 2025 menjadi pengingat bahwa siaran berkualitas yang selaras dengan nilai agama adalah pilar penting dalam memperkokoh ketahanan sosial dan identitas bangsa.
Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, serta harapan agar ASR terus menjadi sarana memperkuat ketahanan moral dan komitmen keimanan umat di tengah tantangan zaman. **/Anggita Rend/Foto: Agung R




