Washington DC -- Pemerintahan Presiden Donald Trump memperingatkan media penyiaran di Amerika Serikat bahwa izin siaran mereka dapat dicabut jika terus menayangkan liputan yang dinilai terlalu kritis terhadap perang melawan Iran. 

Peringatan itu disampaikan setelah pemerintah menuduh sejumlah media melakukan “distorsi berita” terkait konflik tersebut. 

Pernyataan tersebut memicu kritik tajam dari politisi dan pegiat kebebasan berekspresi. Mereka menilai ancaman itu berpotensi menjadi bentuk sensor terhadap pemberitaan perang.

Kontroversi ini muncul di tengah meningkatnya perdebatan publik di AS mengenai konflik yang dilancarkan Washington bersama Israel terhadap Iran.

FCC peringatkan media soal izin siaran 

Ketua Federal Communications Commission (FCC) Brendan Carr menyampaikan peringatannya melalui media sosial pada Sabtu (14/3/2026). Ia menegaskan bahwa lembaga penyiaran harus “memenuhi kewajiban melayani kepentingan publik” jika ingin mempertahankan lisensinya.

“Penyiar harus beroperasi demi kepentingan publik, atau mereka bisa kehilangan lisensinya,” tulis Carr. “Penyiar yang menjalankan hoaks dan distorsi berita — yang juga dikenal sebagai berita palsu — sekarang punya kesempatan untuk memperbaiki arah sebelum lisensi mereka diperbarui,” kata Carr. 

Pernyataan itu disebut sebagai ancaman terbaru dari Carr, yang sebelumnya beberapa kali menuai sorotan karena komentar yang dianggap menekan media agar sejalan dengan prioritas Trump. 

Pernah tekan program Jimmy Kimmel 

Tahun lalu, Carr juga sempat mendesak jaringan televisi ABC dan distributor programnya untuk mengambil tindakan terhadap komedian Jimmy Kimmel, yang kerap mengkritik Trump dalam narawicara malam hari. “Kita bisa melakukan ini dengan cara mudah atau cara sulit,” kata Carr saat itu dalam sebuah podcast. Setelah komentar tersebut, acara Kimmel sempat dihentikan sementara oleh ABC. 

Tuai kecaman 

Pernyataan Carr terbaru segera memicu kecaman dari sejumlah politisi dan kelompok advokasi kebebasan berpendapat. Senator dari Hawaii, Brian Schatz, menilai peringatan itu sebagai tekanan agar media memberitakan perang secara positif. 

“Ini adalah arahan yang jelas untuk memberikan liputan perang yang positif, atau lisensi mereka mungkin tidak diperpanjang,” tulis Schatz. 

Ia menilai situasi ini jauh lebih serius dibanding kontroversi sebelumnya terkait program komedi. “Ini jauh lebih buruk daripada urusan komedian itu. Taruhannya jauh lebih tinggi. Dia tidak berbicara tentang acara larut malam, dia berbicara tentang bagaimana perang diliput,” ujarnya. 

Sementara itu, Aaron Terr dari organisasi Foundation for Individual Rights and Expression (FIRE) juga mengecam upaya pemerintah membungkam liputan kritis. “Amandemen Pertama tidak mengizinkan pemerintah menyensor informasi tentang perang yang sedang dilakukannya,” kata Terr. 

Trump serang media 

Komentar Carr muncul setelah Trump menuduh media “berita palsu” melaporkan bahwa pesawat pengisian bahan bakar militer AS terkena serangan Iran di Arab Saudi. Trump membantah laporan tersebut dalam unggahan di platform Truth Social.

“Pangkalan itu memang terkena serangan beberapa hari lalu, tetapi pesawatnya tidak ‘terkena’ atau ‘hancur’,” kata Trump. 

“Empat dari lima pesawat hampir tidak mengalami kerusakan, dan sudah kembali beroperasi,” lanjutnya. Ia juga menuduh media sengaja menyesatkan publik. “Media dan ‘koran’ rendahan sebenarnya ingin kita kalah dalam perang ini,” tulis Trump. Red dari berbagai sumber