- Detail
- Dilihat: 10963
Jakarta - Penghinaan terhadap almarhum Benyamin Sueb yang merupakan seniman nasional dari Betawi, bukan hanya menyinggung pihak keluarga. Tapi juga melukai perasaan masyarakat Betawi dan bangsa Indonesia secara umum. Hal ini juga dikarenakan kontribusi Benyamin Sueb yang sangat besar bagi perkembangan budaya populer di negeri ini. Hal tersebut disampaikan sejarawan, JJ Rizal, yang datang ke Komisi Penyiaran Indonesia bersama putra ketiga almarhum Benyamin Sueb, Biem Triani Benyamin (25/6).
Kehadiran Biem bersama perwakilan masyarakat Betawi ini diterima KPI Pusat seusai melakukan klarifikasi dengan Trans TV atas adanya dugaan penghinaan terhadap Benyamin Sueb dalam program Yuk Keep Smile.
Dalam kesempatan yang juga dihadiri oleh jajaran direksi Trans TV, termasuk Direktur Utama Trans TV Atiek Sri Wahyuni, Biem menyampaikan langsung protesnya atas tayangan Yuk Keep Smile pada 20 Juni 2014 lalu. Menurutnya, pelecehan terhadap orang tuanya tersebut sebenarnya bukan terjadi kali ini saja. “Sebelumnya dalam YKS pun ada yang menyamakan ayah saya dengan ular”, ujar Biem. Dirinya sendiri mengakui masalah ini sudah di luar kuasa pihak keluarga, karena sosok ayahnya bukanlah milik keluarga semata namun juga milik masyarakat Betawi dan bangsa Indonesia. “Jadi ketersinggungan ini bukan cuma dari saya dan keluarga, tapi dari masyarakat dan rakyat luas”, tambah Biem.
Lebih jauh, Biem berharap pihak Trans TV betul-betul memahami apa yang sudah diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) dari KPI. Biem sendiri mengaku memahami masalah penyiaran, karena dirinya juga mengelola lembaga penyiaran Bens Radio.
Sehari sebelumnya, ratusan massa dari berbagai kelompok masyarakat Betawi telah mendatangi kantor Trans TV untuk protes atas tayangan Yuk Keep Smile yang dianggap menghina figur Benyamin Sueb. Dalam tayangan tersebut, pengisi acara dihipnotis sehingga memanggil hewan anjing dengan Benyamin.
Menurut JJ Rizal, mengasosiasikan Benyamin dengan anjing merupakan penghinaan yang sangat telak bagi masyarakat Betawi. “Benyamin sebagai entitas budaya, dan Islam sebagai entitas agama masyarakat Betawi”, ujarnya. Rizal pun meminta Trans TV yang menjadikan program YKS sebagai master piece atau maha karyanya, melakukan pembenahan yang serius.
Sementara itu, Direktur Utama Trans TV, Atik Sri Wahyuni menyampaikan permohonan maaf baik pada keluarga Benyamin Sueb maupun masyarakat Betawi secara umum atas kelalaian yang terjadi pada tayangan YKS dimaksud. Atiek mengakui tidak ada maksud dari YKS untuk melukai atau menyinggung perasaan masyarakat Betawi lewat tayangan tersebut. “Semua yang muncul itu semata hanya kelalaian”, ujar Atiek.
Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta Trans TV memperhatikan betul aturan yang telah ditetapkan dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS). Segala sesuatu yang dapat merendahkan martabat manusia, secara tegas dilarang dalam aturan yang dikeluarkan oleh KPI tersebut. Bahkan, dalam Undang-Undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran juga menyebutkan bahwa isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan martabat manusia. Hal ini disampaikan KPI Pusat dalam pertemuan klarifikasi dengan Trans TV yang didasari aduan masyarakat dan hasil pemantauan langsung KPI terhadap program Yuk Keep Smile yang dinilai telah melecehkan seniman Betawi, Benyamin Sueb.
Jakarta – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mengundang dua stasiun televisi di bawah grup Trans Crop, Trans TV dan Trans7, untuk mendengarkan catatan atas dua program acaranya yakni Show Imah (Trans TV) dan On The Spot (Trans7) yang berpotensi melanggar P3 dan SPS KPI, Rabu, 25 Juni 2014, di kantor KPI Pusat, Jakarta.

