- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 1

Malang - Perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi, pergeseran belanja iklan, serta dinamika industri media menuntut lembaga penyiaran untuk tetap menghadirkan konten yang berkualitas, sehat, dan konstruktif bagi publik.
Pandangan ini disampaikan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Ubaidillah, saat membuka kegiatan Dialog Partisipasi Masyarakat dengan tema “Penyiaran Sebagai Media Penguatan Karakter Bangsa” di Malang, Jawa Timur, Senin (11/5/2026).
“Media penyiaran memiliki tanggung jawab besar sebagai medium penyampai pesan yang mampu memperkuat nilai edukasi, persatuan, dan pembangunan karakter bangsa. Karena itu, KPI terus bersama masyarakat mendorong penguatan pengawasan terhadap isi siaran agar tetap berpedoman pada regulasi dan etika penyiaran yang berlaku,” kata Ubaidillah.
Ia juga menekankan pentingnya sektor pendidikan dalam mendukung terciptanya tata kelola informasi yang konstruktif. Institusi pendidikan dinilai memiliki peran strategis sebagai lokus literasi digital, sekaligus ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami penggunaan media secara bijak dan bertanggung jawab.
Upaya tersebut, lanjut Ubaidillah, dapat diperkuat melalui materi pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan literasi media dan digital.

Anggota DPR RI, Muhamad Nur Purnamasidi, yang hadir sebagai pembicara kunci dialog mengatakan, penyiaran memiliki peran strategis dalam membangun pendidikan yang berkarakter. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi media, lembaga penyiaran dituntut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mampu menjadi sarana edukasi yang menanamkan nilai semangat kebangsaan kepada masyarakat.
Menurutnya, melalui tayangan berkualitas dan ramah anak, televisi maupun radio, dapat membentuk pola pikir serta perilaku masyarakat, khususnya generasi muda. “Penyiaran yang sehat juga menjadi benteng dalam menghadapi berbagai tantangan era digital, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa,” kata Nur Punamasidi,
Ia menilai kolaborasi antara lembaga penyiaran, pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat sangat penting untuk menghadirkan siaran yang mendidik sekaligus memperkuat karakter bangsa. Dengan demikian, penyiaran dapat menjadi media penguatan literasi digital, persatuan nasional, dan ketahanan sosial di tengah perubahan lanskap media yang semakin dinamis, lanjut Nur Purnamasidi.

Di tempat yang sama, Komisioner KPI Pusat sekaligus penanggung jawab kegiatan Dialog Partisipasi Masyarakat, Aliyah, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada masyarakat yang telah hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Menurutnya, kehadiran dan antusiasme masyarakat menjadi wujud nyata dukungan terhadap terciptanya ekosistem penyiaran yang berorientasi pada kepentingan publik.
Aliyah juga tak lupa mengajak masyarakat untuk aktif berperan sebagai agen penyiaran sehat dengan turut mengawasi tayangan yang sesuai dengan nilai budaya bangsa.
“Partisipasi publik dinilai menjadi elemen penting dalam menjaga kualitas siaran di tengah perkembangan media digital yang semakin pesat. Semangat kolaborasi antara masyarakat dan lembaga penyiaran dapat terus terjalin guna memperkuat karakter bangsa melalui siaran yang positif, inspiratif, dan mampu memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” katanya. */Syahrullah















