- Detail
- Dilihat: 8326
Jakarta - Program siaran Ramadhan di televisi tahun ini semakin semarak. Demikian juga dari segi jumlah, dari 15 Sistem Siaran Jaringan (SSJ) ada 62 program acara Ramadhan yang tayang di televisi.
Hal itu dikemukakan Ketua KPI Pusat Judhariksawan dalam acara Penghargaan Program Siaran Ramadhan 2015 di Ruang Serbaguna Kominfo, Jalan Medan Merdeka Barat No. 9, Jakarta Pusat, Jumat, 31 Juli 2015. Menurut Judha, KPI mengapresiasi upaya Lembaga Penyiaran dalam menyajikan siaran televisi bagi umat Islam selama pelaksanaan Ramadhan.
"Dari 62 program acara itu bersifat tuntunan dan tontonan. Kami bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) senantiasa megawasi program siaran Ramadhan dan kami akan sampaikan penghargaan untuk program acara terbaik," kata Judha. Lebih lanjut Judha menjelaskan, KPI dan MUI juga menemukan siaran yang tidak sesuai dengan spirit Ramadhan.
Judha mencontohkan masih ditemukan siaran yang masih menggunakan kata-kata kasar, merendahkan martabat manusia, dan yang lainnya. Menurutnya, siaran seperti itu agar tidak diproduksi pada Ramadhan berikutnya.
Dalam acara itu juga hadir Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq, Ketua Bidang Infokom MUI Pusat S. Sinansari Ecip, dan perwakilan pimpinan lembaga negara lainnya.
Sinansari Ecip menjelaskan, tayangan Ramadhan tahun ini mengalami peningkatan kualitas dibandingkan dengan Ramadhan tahun lalu. Menurutnya, tantangan televisi setelah Ramadhan adalah tetap menjaga kualitas siaran usai Ramadhan. Sedangkan Mahfudz Siddiq dalam sambutannya mengatakan televisi memiliki peluang besar dalam menyampaikan kebaikan kepada penonton. Mahfudz berharap kualitas siaran Ramadhan akan sama baiknya dengan bulan-bulan lainnya.
Dalam sesi sambutan Rudiantara mengaku senang dengan semakin membaiknya kualitas siaran televisi selama Ramadhan. Rudiantara juga meminta kepada KPI agar membuat raport tentang kualitas program siaran televisi. "Isinya apa saja yang harus diperbaiki. Raport ini nanti kami gunakan sebagai bahan acuan perpanjangan izin siaran Lembaga Penyiaran," ujar Rudiantara.
Acara ditutup dengan pembacaan program acara terbaik dan apresiasi program acara Ramadhan dan penyerahan tanda penghargaan kepada perwakilan Lembaga Penyiaran.
Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Mejelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menyelenggarakan Penghargaan Program Siaran Ramadhan 2015. Acara ini adalah ajang penghargaan untuk program siaran yang tayang selama Ramadhan dengan parameter siaran yang sesuai dengan aturan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), relevan dengan spirit Ramadhan, dan siaran yang menghibur sekaligus mendidik bagi pemirsa.
Jakarta – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mengundang I-News TV untuk berdialog mengenai beberapa program acara di televisi tersebut. Dialog yang berlangsung pada Kamis siang, 30 Juli 2015, di ruang rapat kantor KPI Pusat, dihadiri langsung Koordinator bidang Isi Siaran sekaligus Komisioner KPI Pusat, Agatha Lily dan Komisioner KPI bidang Isi Siaran Sujarwanto Rahmat Arifin.
Menanggapi masukan KPI Pusat, perwakilan I-News TV, Driantama menyampaikan terimakasihnya. Drian menilai, masukan dari KPI Pusat penting untuk membangun kualitas isi tayangan lembaga penyiaran. “Kami siap bekerjasama dan kami memang memerlukan masukan-masukan seperti ini. Kami juga minta KPI Pusat melakukan sosialisasi aturan P3 dan SPS di lingkungan I-News TV,” tuturnya yang langsung diamini dua Komisioner KPI Pusat tersebut. ***
Jakarta – KPI Pusat mengundang diskusi TVRI membahas sejumlah program siaran yang ada di lembaga penyiaran publik tersebut, Rabu, 29 Juli 2015. Hadir dalam diskusi yang berlangsung di kantor KPI Pusat Koordinator bidang Isi Siaran sekaligus Komisioner KPI Pusat, Agatha Lily dan Komisioner KPI Pusat bidang Isi Siaran, Sujarwanto Rahmat Arifin. Adapun TVRI dihadiri langsung Direktur Program TVRI, Markus RA Prasetyo.
Sementara itu, S. Rahmat Arifin menegaskan, TVRI memiliki beban lebih berat ketimbang lembaga penyiaran swasta. Pasalnya, TVRI merupakan televisi milik publik. Karenanya, lanjut Rahmat, apa yang diinginkan publik merupakan acuan bagi TVRI untuk membuat sebuah program, bukannya rating.

