
Bogor – Pemenuhan konten lokal oleh lembaga penyiaran tidak hanya soal menggugurkan kewajiban regulasi. Lebih dari itu adalah siaran ini akan mendorong pemberdayaan masyarakat dan ekonomi di setiap daearah.
“Program lokal ini penting. Karena ia berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat dan ekonomi daerah,” kata Komisioner KPI Pusat, Tulus Santoso, dalam paparannya di workshop penguatan konten lokal dengan tema “Menggali Kearifan Lokal untuk Daya Tarik Penyiaran” yang digelar KPI Pusat di Cikeas, Bogor, Senin (2/3/2026) kemarin.
Selain itu, konten lokal mendorong pemerataan informasi, sekaligus menghadirkan diversifikasi konten dan demokratisasi penyiaran di daerah. ”Daerah tidak hanya menjadi obyek siaran dari pusat, tetapi juga menjadi subjek yang memproduksi dan menyebarkan narasinya sendiri,” jelasnya di depan puluhan peserta workshop tersebut.
Namun demikian, lanjut Tulus, ada tantangan yang mesti dihadapi yaitu platfomr digital yang perkembangannya begitu cepat. Akibat itu, industri penyiaran terdisrupsi yang kemudian memunculkan sejumlah pertanyaan.
”Apakah kita akan memperkuat program lokal atau justru terjebak dalam cross culture program yang kurang merepresentasikan identitas daerah. Ini menjadi refleksi bersama,” ujar Koordinator bidang Pengawasan Isi Siaran KPI Pusat ini.
Menurut Tulus, KPI akan terus mendorong pemerataan informasi melalui program konten lokal. Pihaknya akan meminta masukan dari para stakeholders serta memastikan kehadiran konten lokal tetap kuat di tengah arus digitalisasi. ”Konten lokal bukan sekadar kewajiban regulasi, tetapi bagian dari upaya menjaga identitas, keberagaman, dan keadilan informasi di Indonesia,” tuturnya.
Pendapat serupa juga disampaikan Komisioner KPI Pusat, Aliyah. Kehadiran konten lokal, lanjutnya, justru akan mendorong lahirnya penyiaran menghadirkan value dan potensi daerah yang relevan dalam kehidupan masyarakat.

“Kami juga ikut mendorong peningkatan sumber daya manusia penyiaran yang dapat memproduksi konten yang berbasis lokalitas dengan kualitas unggul,” katanya dalam laporan awal kegiatan workshop tersebut.
Di tempat yang sama, Tokoh Pemuda, Lifany Khusnul Kurnia menyampaikan, siaran lokal harus memperhatikan unsur penguatan identitas daerahnya. Terkait ini, lanjutnya, penyiaran mesti mengangkat potensi wilayah yang sesuai kebutuhan masyarakatnya. Kemudian, menonjolkan produk unggulan dan juga membangun budaya yang dikonstruksikan secara positif.
”Potensi yang bisa dikembangkan itu banyak. Dari sisi fisik ada sumber daya alam seperti perikanan, pertanian, peternakan, pertambangan, produk olahan, kerajinan lokal, bangunan tradisional dan modern, pariwisata alam, hingga kuliner lokal. Dari sisi nonfisik ada adat istiadat, ritual, sejarah, cerita rakyat, kesenian tradisional, jasa lokal, dan berbagai bentuk budaya yang dikonstruksikan seperti festival atau desa wisata,” jelas Lifany.
Kendati demikian, guna mewujudkan harapan itu tantangannya tidak sedikit. ”Partisipasi masyarakat dan kesadaran kolektif masih rendah. Sumber daya, informasi, dan akses terbatas. Investasi minim. Kapasitas dan kompetensi SDM perlu ditingkatkan. Selain itu, aspek keberlanjutan program harus dipikirkan sejak awal,” paparnya sekaligus memastikan bahwa penyiaran bisa menjadi instrumen strategis dalam mengembangkan potensi daerah jika program siaran lokal dilakukan secara konsisten.

Dalam sambutannya, Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, menyatakan bahwa lokalitas merupakan kekayaan yang harus dirawat sampai kapanpun. Aspek ini, menurutnya, berdampak pada aktivitas sosial seperti tumbuhnya kebersamaan dan toleransi atau dalam konteks ekonomi yakni mengenalkan dan menumbuhkan pariwisata di daerah-daerah.
Ia juga berharap para pemuda menjaga keunikan tersebut. ”Saya hanya ingin menitipkan bahwa adalah tugas kita menjaga lokalitas itu. Adalah tugas kita memperhatikan lembaga penyiaran, mengontrolnya, agar televisi dan radio tetap mendampingi lokalitas kita sebagai sebuah kekuatan sosial, budaya dan ekonomi,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Anton Sukartono, mengatakan kearifan lokal merupakan bentuk nyata dari kebudayaan kita yang harus dirawat dan dijaga. Menurutnya, tugas tersebut tidak mudah namun harus dilakukan.
”Kita merasa budaya kita kurang bagus dari pada budaya yang lain. Setiap kearifan lokal bukan hanya budaya, tapi ialah kekuatan dari Sabang sampai Merauke. Kita juga bisa menggunakannya sebagai bahan persatuan. Mari jadikan konten lokal sebagai raja di rumahnya sendiri, jadikan primadona di dunia global,” tukas Anton. ***/Foto: Andre
