
Jakarta -- Wakil Presiden RI periode 2019-2024 sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Ma’ruf Amin menilai tayangan ramadan merupakan bagian dari visi dan misi menjaga serta melindungi umat dari cara berpikir maupun perilaku yang menyimpang. Menurutnya, pikiran dan perilaku menyimpang bisa berujung pada kerusakan masyarakat secara luas. Oleh karena itu, media dan penyiaran memiliki peran strategis dalam mencerdaskan umat dan mengarahkan mereka pada jalan pikir yang lurus sesuai tuntunan agama.
Hal itu disampaikannya saat memberikan kata sambutan di acara puncak Anugerah Syiar Ramadan (ASR) yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bersama Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jumat, (23 Mei 2025).
Beliau mengingatkan penyiaran harus dijauhkan dari kepentingan sesaat atau hawa nafsu yang menyesatkan. “Dalam era post-truth saat ini, di mana batas antara kebenaran dan kebohongan menjadi samar, media justru harus hadir sebagai penjernih dan penuntun.
Ditekankan pula bahwa komitmen keagamaan dan kebangsaan harus menjadi pilar utama dalam pembangunan karakter bangsa. Ma’ruf Amin menyampaikan 2 amanah yang dipegang MUI yaitu, perjanjian dengan Tuhan (MUI sebagai pewaris tugas kenabian untuk menjaga umat), serta perjanjian kebangsaan dengan komitmen terhadap Pancasila, UUD 1945, dan keutuhan NKRI. Kedua komitmen ini saling menguatkan, bukan bertentangan.
Syiar Ramadan melalui media adalah bagian dari tanggung jawab besar tersebut. Oleh karena itu, seluruh lembaga penyiaran diajak untuk terus menjaga semangat ini demi ketahanan bangsa. “Malam ini harus jadi momentum untuk bekerja lebih keras, karena tantangan ke depan akan semakin berat,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, mengatakan kegiatan ini menjadi wujud komitmen kolektif menjaga kemuliaan bulan Ramadan melalui siaran publik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan membangun karakter bangsa.

“Ramadan bukan sekadar momentum spiritual, tetapi juga ruang kebudayaan dan edukasi di mana nilai-nilai keislaman bertemu dengan media, seni, dan kesadaran kolektif bangsa. ASR 2025 hadir sebagai sarana menjaga etika siaran publik serta memberi apresiasi kepada karya-karya syiar Islam yang menginspirasi,” ujar Abu Rokhmad.
Ketua KPI Pusat Ubaidillah menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan kompetisi tahunan untuk program-program siaran televisi dan radio terbaik selama bulan Ramadan. “Kami ingin memberikan apresiasi terhadap karya-karya Ramadan terbaik yang diproduksi insan media penyiaran. Melalui anugerah berkelanjutan ini kami berharap dapat mendorong industri penyiaran untuk terus berkarya menghasilkan program-program Ramadan terbaik dari waktu ke waktu,” kata Ubaidillah dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa siaran Ramadan yang berkualitas dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Ubaidillah juga berharap program-program tersebut dapat menjadi pedoman bagi umat Islam.
“Kami juga menginginkan dan mendorong media penyiaran, baik TV maupun radio, menjadi medium utama bagi masyarakat dalam menerima informasi serta hiburan yang baik dan positif di tengah kegaduhan yang datang dari media baru,” ujarnya.
Ketua MUI Bidang Infokom, Masduki Baidlowi menyampaikan bahwa MUI menambahkan penghargaan di tiga bidang penting, yakni literasi ekonomi syariah, literasi dan edukasi halal life style, serta literasi media digital. Ketiga penghargaan ini, menurut MUI, sejalan dengan ruh MUI yang berakar pada fatwa, dakwah, dan pendidikan publik.
Selain mencerminkan semangat kolaborasi pentahelik antara pemerintah, masyarakat, lembaga agama, dan media, ASR 2025 juga dipandang sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas lembaga penyiaran nasional, di tengah tantangan industri media yang sedang mengalami disrupsi besar dan gelombang PHK.
Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Phil H. Kamarudin Amin berkata, “Dakwah hari ini tidak cukup dipahami sebagai ceramah mimbar semata, melainkan sebagai aktivitas peradaban yang membina spiritualitas individu sekaligus memperkuat kesatuan sosial. Dakwah tidak sekedar menyampaikan teks, tapi menafsirkan konteks. Rasulullah membangun masyarakat dengan akhlak dan keteladanan, bukan sekadar retorika”.

Beliau mengidentifikasi ada tiga tantangan utama dakwah media. Pertama, menjangkau generasi digital (Gen Z dan Alpha) dengan pendekatan yang komunikatif dan relevan; meningkatkan kualitas pengamalan ajaran Islam di tengah dominasi konten hiburan; serta menjadikan agama sebagai pendorong pembangunan manusia, bukan hanya pembangunan fisik.
Kementerian Agama RI menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem dakwah moderat dengan mengembangkan pelatihan dai digital, meningkatkan literasi dakwah media, dan menerapkan kurikulum cinta yang mengusung nilai kasih sayang, toleransi, dan penghormatan. Syiar Ramadan diharapkan menjadi kanal utama penyebaran nilai-nilai tersebut ke ruang publik.
Pada kesempatan yang sama perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital, Staf Ahli Bidang Teknologi, Mochamad Hadiyana menyampaikan "Ramadan bukan hanya momen ibadah, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai kemanusiaan dan peran kita dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Siaran Ramadan tidak boleh hanya menjadi hiburan musiman, tapi harus membawa pesan yang membentuk pola pikir, sikap, dan moral publik”. ASR 2025 menjadi pengingat bahwa siaran berkualitas yang selaras dengan nilai agama adalah pilar penting dalam memperkokoh ketahanan sosial dan identitas bangsa.
Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, serta harapan agar ASR terus menjadi sarana memperkuat ketahanan moral dan komitmen keimanan umat di tengah tantangan zaman. **/Anggita Rend/Foto: Agung R
