altYogyakarta - Kondisi penyiaran radio di Indonesia saat ini dalam kondisi memprihatinkan. Selain pesatnya pertumbuhan industri radio yang tak terkontrol, iklan yang belum memadai juga gencarnya serbuan radio online menjadikan persaingan penyiaran radio tidak sehat.

Ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia DIY, H Zamawie AMdRO menyampaikan hal tersebut di sela pelatihan dan Sidang Paripurna Daerah (SPD) II PRSSNI DIY di Aula PT BP Kedaulatan Rakyat Jalan Pangeran Mangkubumi No 44-46 Yogyakarta, Kamis, 29 November 2012. SPD II PRSSNI DIY diikuti 19 anggota.

Kegiatan ini dihadiri Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY, Rahmat S Arifin, Ketua Bidang Organisasi PRSSNI Pusat Budi Purwanto, Kepala Balai Monitoring Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kabalmon Kominfo) DIY, Drs Sri Anom dan penggelola radio siaran swasta di DIY.

Dalam pengamatan Zamawie, pertumbuhan industri radio yang pesat sejak terbukanya era informasi dan kebebasan komunikasi. Banyak orang berlomba mendirikan stasiun dan industri penyiaran. Ironisnya, pertumbuhan tersebut belum diimbangi dengan membaiknya industri periklanan di radio.

Imbasnya, banyak pengelola radio yang terseok-seok, bahkan gulung tikar dan tidak jarang saling menyerang satu dengan lainnya. Cara yang dilakukannya bisa melalui penggunaan power siaran yang melampaui batas sehingga mengganggu siaran radio lain sampai jual beli stasiun radio.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY Rahmat M Arifin mengatakan bahwa persaingan usaha bidang siaran radio swasta komersial semakin berat, baik di tingkat pusat maupun daerah. Radio swasta komersial hidup dari perolehan jasa periklanan. Sementara peluang pemasang iklan di radio kian tipis hanya sekitar 0,9 persen.

Dia mengungkapkan sekarang di DIY terdaftar 40 radio swasta yang terdiri dari: 38 radio  masuk dalam frekuensi FM dan 2 diantaranya masuk AM yakni Konco Tani dan Suara Kenanga.  Karena itu, kata Rahmat,  maklum saja jika ada radio yang hanya satu sampai dua tahun kemudian tutup. Menurut dia, idealnya di DIY jumlah radio di Yogyakarta hanya 16 radio.

Di tingkat nasional ada 2.800 pemohon radio swasta komersial. Hal itu  akan membuat kue iklan semakin kecil.  Sementara anak muda sekarang banyak yang meninggalkan media radio dan mereka lebih suka menggunakan internet. Hal ini bisa dilihat dari jumlah audiens radio yang turun drastis dibandingkan tahun 1990-an.

''Waktu itu ketika cerita saur sepuh disiarkan melalui radio, audiensnya mencapai 90 persen, sedangkan sekarang audiens radio hanya tinggal 37 persen,''ungkap dia seperti dikutip Republika. Red dari sejumlah sumber