Banjarmasin - Masyarakat harus aktif memberikan masukan pada televisi atas semua tayangan yang disiarkan, sehingga industri dapat melakukan evaluasi terhadap materi siar mereka. Apalagi undang-undang sudah memberikan ruang partisipasi public tersebut, lewat kehadiran KPI. Hal itu disampaikan oleh Imam Wahyudi, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, dalam acara Training of Trainers Literasi Media yang diselenggarakan KPI Pusat di Banjarmasin (26-28/9).
Menurut Imam, selama ini jumlah pengaduan masyarakat ke KPI boleh dikatakan masih sedikit. Bisa jadi karena masyarakat yang saling mengandalkan orang lain untuk mengadukan sebuah tayangan yang bermasalah. Untuk itu, Literasi Media yang merupakan usaha menyadarkan masyarakat tentang fungsi dan dampak media harus sering dilakukan.
Industri televisi sendiri, menurut Imam, jika mendapatkan aduan dari masyarakat melalui KPI akan berbenah diri dan mengevaluasi programnya. Kalau sudah ada interaksi yang intens antara masyarakat, KPI dan industry, Imam meyakini kualitas siaran di televisi dan radio kita akan lebih baik. “Selama ini kan tidak ketahuan, maunya publik seperti apa. Dikasih yang jelek juga ratingnya tetap bagus kok”, tutur Imam.
Dalam kesempatan tersebut Imam sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia televisi ini menjelaskan mekanisme kerja media, dan membandingkannya antara cetak dan elektronik. Jika pada media cetak, eksekusi akhir sebuah berita ada di tangan redaktur, dalam media elektronik khususnya televisi lain lagi. “Reporterlah yang lebih sering tampil mengeksekusi berita”, ujarnya. Bahkan untuk beberapa stasiun televisi berita yang menuntut kecepatan, intervensi redaktur sering tidak ada. Padahal di Indonesia jenjang karir reporter justru yang paling muda. Imam berpendapat, seharusnya reporter yang tampil di televisi adalah para jurnalis senior dengan pengalaman dan profesionalitas yang sudah teruji. Sehingga materi siaran yang diterima pemirsa di layar kaca lebih berkualitas.
ToT Literasi Media yang diselenggarakan KPI Pusat, selain diikuti oleh KPI Daerah di wilaydaah Indonesia Timur, juga oleh beberapa lembaga lokal di Kalimantan Selatan. Setidaknya ada perwakilan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Media Watch, LSM Pemuda, BEM Universitas Lambung Mangkurat dan IAIN setempt. Selain menghadirkan pembicara dari KPI Pusat seperti Mochamad Riyanto (Ketua KPI Pusat), Azimah Subagijo dan Idy Muzayyad, juga menghadirkan Hery Margono selaku Ketua Bidang Perundang-undangan dari Persatuan Pengusaha Periklanan Indonesia.