altDepok - Berdasarkan pemantauan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat (Jabar), tayangan televisi di bulan Ramadan ini dinilai masih didominasi unsur hiburan seperti sinetron dan komedi, dibandingkan informasi. Ketua KPID Jawa Barat, Neneng Athiatul Faiziyah menyampaikan, program acara dan iklan televisi mendadak islami saat bulan Ramadan. Namun kemasan tayangan tersebut sama sekali tidak islami. Dalam program tersebut masih marak terdapat tayangan yang menampilkan kekerasan, saling ledek dan dorong, serta caci maki.

Padahal, program acara bernuansa islami tidak cukup hanya diwakili dengan menggunakan kerudung serta menampilkan simbol masjid dan kiai. Namun substansi dari acara tersebut harus memiliki nilai agama, edukasi serta memberikan pemahaman pada masyarakat. “Jangan sampai ada sinetron yang para pemainnya menggunakan kerdudung, tapi isinya masih penuh dengan caci maki,” ujarnya.

Hal itu juga diamini Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, M. Rafani Akhyar. Menurut dia, saat ini terjadi fenomena salah kaprah memaknai Ramadan secara tidak tepat sehingga bermunculan acara-acara televisi yang sebenarnya tidak bernafaskan islami. Padahal esensi puasa hakikatnya tidak hanya menahan haus dan lapar melainkan juga mengendalikan diri dari hal-hal-hal yang tidak bermanfaat. Termasuk di antaranya lebih memilih menghabiskan waktu dengan menonton komedi atau sinetron dibandingkan dengan melakukan kegiatan ibadah.

"Sekarang, semua kembali ke pemirsa, toh remote televisi ada di tangan pemirsa. Jika merasa menonton televisi tak ada manfaatnya, ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat yang bisa dikerjakan bukan?" kata Rafani. Red dari Tribun