altJakarta - Beberapa tahun terakhir ini perkembangan pertelevisian dan multimedia, baik di China maupun negara lainnya termasuk Indonesia sangat cepat. Situasi ini turut mendasari kerja sama Indonesia dan China di bidang penyiaran.

“Kami 100 persen mendukung kerja sama tersebut, karena kedua negara ini memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia,” kata Vice Director of Divison of Audiovisual of MIIT, RRC, Zhou Haiyan pada pembukaan acara kegiatan Broadcast and Multimedia Show (BMS) 2012 di Jakarta, Senin, 4 Juni 2012.

Ia mengemukakan, pada bulan Maret kemarin, Presiden RRC Hu Jintao sudah bertemu dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, “Pertemuan tersebut melahirkan komitmen untuk memperkuat hubungan kerja sama kedua negara, termasuk memperluas hubungan di bidang penyiaran dan kerja sama lainnya.”

Menyinggung proses pembangunan jaringan penyiaran di China, menurutnya tahapan pembangunan jaringan sudah hampir selesai. Zhou Haiyan juga secara terbuka menyatakan keinginannya bertukar pengalaman.

Kegiatan BMS 2012 yang dilaksanakan di Jakarta, pada 4-6 Juni 2012, merupakan kelanjutan dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara China Radio & Television Equipment Industrial Association (CRTA) dan pihak Indonesia yang diwakili oleh PT Projaya Exhindo, yang menandai peningkatan kerja sama investasi antara China dengan Indonesia di bidang informasi dan komunikasi pada tanggal 22 September 2010 di Shanghai, China.

Peserta kegiatan BMS 2012 adalah pelaku industri penyiaran (lembaga penyiaran dan industri pendukung), pofesional di bidang penyiaran, asosiasi-asosiasi di bidang penyiaran, regulator di bidang penyiaran dan regulator terkait lainnya, perguruan tinggi dan akademisi yang terkait dengan bidang penyiaran.

Dari industri penyiaran China peserta sekitar 20 perusahaan, sedangkan industri penyiaran Indonesia juga 20 perusahaan antara lain RCTI, Global TV, MNC TV, Indovision, SCTV, Telkomvision, Firstmedia, LinkNET, Akari, LEN, dan lain-lain. Red dari berbagai sumber