Jakarta - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meminta media agar jangan terlalu berlebihan dalam menyiarkan pemberitaan mengenai musibah jatuhnya pesawat Sukhoi SJ 100 di Gunung Salak, Sukabumi, Kamis, 10 Mei 2012 lalu.
"Terkait pemberitaan masif atas tragedi yang memilukan ini, AJI Indonesia mengimbau rekan-rekan jurnalis peliput dan kantor media yang menayangkan pemberitaan agar senantiasa berpedoman pada kode etik jurnalistik, pedoman pemberitaan media online, dan standar perilaku penyiaran yang berlaku.
AJI menyayangkan model peliputan sensasional yang mengekploitasi korban, seperti: menayangkan secara berulang kondisi korban dan keluarga dengan mengeksploitasi kesedihan, menampilkan foto korban secara berlebihan, histeria keluarga korban, membuat berita spekulatif-konspiratif (telah dilakukan beberapa media) atas terjadinya peristiwa musibah tersebut," kata Eko Maryadi, Ketua Umum AJI melalui siaran pers yang diterima salah satu media lokal di Sumatera (Aceh Post), Sabtu, 12 Mei 2012.
AJI mengajak media yang memberitakan musibah jatuhnya pesawat buatan Rusia ini mempertimbangkan perasaan keluarga korban dalam melakukan pelaporan jurnalistik.
"Mereka yang sedang berduka ialah bagian dari publik yang memiliki hak untuk mendapatkan informasi secara proporsional, tidak hanya semata sebagai objek berita."
Selanjutnya, AJI juga meminta pemimpin redaksi media hendaknya tidak mengabaikan aspek peliputan berperspektif korban, sebagai tanggung jawab moral jurnalistik profesional dan beretika.
"Tidak sepantasnya media menjual produk jurnalistik dari tangisan dan penderitaan korban, apakah lewat oplah, page view, atau rating," lanjutnya.
"AJI mendorong Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia berperan aktif mengawasi pemberitaan yang cenderung provokatif dan melanggar kode etik jurnalistik."
Namun, pada prinsipnya, AJI Indonesia tetap menyampaikan simpati dan bela sungkawa sedalamnya atas musibah jatuhnya pesawat Sukhoi SJ 100 yang kemungkinan menewaskan seluruh penumpangnya, termasuk lima orang jurnalis. Red