Jakarta - Bagi para praktisi, akademisi, dan rekan-rekan KPI nama Victor Menayang, sebagai Ketua KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang pertama, tentu tidaklah asing lagi. Victor adalah akademisi, pakar ilmu komunikasi di FISIP Universitas Indonesia, yang setelah terlahirnya UU Penyiaran menjadi Ketua KPI Pusat pertama.
Victor, menurut banyak rekan dekatnya, merupakan personal yang enak diajak berteman. Orangnya murah senyum dan tidak banyak basa-basi. Wajahnya selalu terlihat segar dan cerah. Dalam seminar, rapat, atau pembicaraan lepas, ucapannya sesekali diwarnai humor. Hal itu juga berlaku dalam kesehariannya di kantor KPI Pusat. Semua orang di lingkungan KPI Pusat merasa nyaman dan tidak canggung ketika ngobrol-ngobrol ataupun saat bekerja dengan beliau.
Terhadap pertumbuhan industri media, Victor memiliki harapan industri ini bisa memberikan manfaat pada masyarakat banyak, bukan sekadar entitas bisnis yang semata-mata mengejar profit.
Victor, yang menyelesaikan program doktoral bidang jurnalismenya di University of Texas, Austin, Amerika, juga kritis menyikapi berbagai perkembangan yang terjadi dalam masyarakat, serta dampak pemberitaan media. Misalnya, dalam kasus bencana Tsunami, yang melanda kawasan Aceh, Sumatra Utara, dan Pulau Simeuleue, dan memakan korban lebih dari 100.000 jiwa, Desember 2004.
Kekuatan media dalam memberitakan bencana Tsunami itu telah mengundang rasa kemanusiaan dan simpati dari berbagai penjuru dunia, sehingga berbondong-bondong masyarakat dunia memberi bantuan untuk korban Tsunami. Namun, ada juga kritik dari sejumlah kalangan bahwa media di Indonesia (khususnya televisi) telah mengeksploitasi penderitaan para korban bencana itu. Sehingga muncul tayangan yang menunjukkan mayat-mayat yang bergelimpangan, membusuk, dan teronggok di jalanan.
Victor mengatakan, ukuran-ukuran kepantasan pemberitaan korban Tsunami tidak bisa disamaratakan dengan ukuran budaya penayangan televisi dari luar. Karena, kepantasan berita sangat ditentukan faktor-faktor sejauhmana pekerja media memiliki ukuran nilai-nilai kemanusiaan dalam memberitakan suatu bencana.
Tentang dinamika politik di Indonesia, terkait dengan politik pencitraan yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Victor juga punya pendapat tersendiri. Menurut Victor, SBY dan Soeharto sama-sama berusaha tampil berwibawa, santun dan penuh kasih. Gaya verbal dan nonverbal kedua presiden itu juga serba rapi dan tertata, untuk menunjukkan kewibawaan sebagai pemimpin negara. "Bedanya, pencitraan Soeharto muncul karena intervensi media oleh pemerintah atau dengan cara-cara otoriter. Sedangkan, pencitraan SBY tampil dengan cara-cara demokratis," ujar Victor.
Sayangnya, kesibukan membangun citra ini tidak bisa dipertahankan terus-menerus. Maka, Victor menyarankan, "SBY sebagai kepala pemerintahan harus berani tidak populer di mata masyarakat, karena mau tak mau akan banyak kebijakan tidak populer yang akan dia buat."
Victor mengatakan hal ini pada Januari 2005. Siapa menyangka, bahwa ucapannya itu akan menjadi kenyataan pada tahun 2008 ini, ketika popularitas SBY sudah merosot jauh, karena berbagai kebijakan tidak populis yang dilakukan pemerintahannya. Yakni, mulai dari kenaikan harga BBM dan melonjaknya harga kebutuhan pokok lain, sampai kasus lumpur Lapindo Brantas di Jawa Timur, yang sampai saat ini belum juga tuntas, dan telah merusak ekonomi warga yang terkena dampak lumpur tersebut.
Mengenai penyakitnya, Victor terserang stroke dan pendarahan di batang otak, pada 31 Mei 2005. Serangan stroke itu terjadi sekitar pukul 18.30 WIB, di salah satu ruang dosen di kampus UI Salemba, tak lama sehabis Victor menguji mahasiswa program S3.
Victor langsung dilarikan ke Unit Gawat Darurat RS St. Carolus, yang tak jauh dari kampus UI Salemba. Kemudian, menjelang tengah malam, Victor dipindahkan ke ICU rumah sakit Siloam Gleneagles, Karawaci, Tangerang. Ia seperti lumpuh, tak bisa bicara meski masih mengenali teman-teman yang menjenguknya.
KPi, dunia penyiaran dan akademis, khususnya mereka yang bergelut di studi media dan ilmu komunikasi, tentunya merasakan kehilangan dengan ketidakaktifan Victor. Apalagi Victor terkena serangan stroke dalam usia produktif yang relatif muda, dan diharapkan masih bisa menyumbangkan pemikiran dan tenaga yang berharga, bagi kemajuan dunia media dan ilmu komunikasi di Indonesia. RG dari tulisan Satrio Arismunandar