Sinergi DPRD dan KPI Pusat dalam Penguatan Tata Kelola KPID Sumsel
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 2186

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menerima kunjungan kerja Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatra Selatan (Sumsel) dalam rangka peningkatan pemahaman sekaligus koordinasi terkait mekanisme seleksi dan penguatan kelembagaan KPID. Pertemuan berlangsung di Kantor KPI Pusat, Jakarta, dihadiri Komisioner KPI Pusat, Komisi I DPRD serta perwakilan KPID Sumsel, Rabu (28/05/2025).
Ketua Komisi I DPRD Sumsel, Meilinda menyampaikan rencana rekrutmen Anggota KPID Sumsel masa bakti berikutnya. Menurutnya, berlandaskan amanat UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, menempatkan DPRD sebagai fasilitator dalam proses seleksi anggota KPID, pengusulan nama calon, serta pengawasan kinerja lembaga tersebut.
Terkait hal ini, Dia berharap mendapat pemahaman komprehensif terkait mekanisme seleksi ideal, struktur kelembagaan, serta peran strategis DPRD dalam mengawal independensi KPID.
Menanggapi hal ini, Komisioner Bidang Kelembagaan, I Made Sunarsa menyampaikan, proses seleksi KPID diatur dalam PKPI Nomor 1 Tahun 2024 dan KKPI Nomor 3 Tahun 2024. Pihaknya juga menekankan pentingnya seleksi yang transparan dan menghindari kekosongan jabatan.
Soal kekhawatiran adanya kekosongan jabatan ini, Made Sunarsa menyampaikan bisa diatasi melalui perpanjangan sementara masa jabatan KPID hingga terpilihnya anggota baru (berdasarkan SK Gubernur atas usulan DPRD), merespon kekhawatiran Wakil Ketua Komisi I, Anwar Al Syadat, atas berakhirnya periode kepengurusan KPID pada Juli 2025.
“Kami sudah pernah mendatangi KPID di wilayah lain, ternyata ada perbedaan masa periode dan ada yang diperpanjang, tapi kami tidak ingin salah langkah”.

Sejumlah Anggota Komisi I DPRD ikut mengangkat isu lain terkait independensi calon anggota KPID, potensi intervensi politik, perlunya standar kompetensi yang tegas bagi calon anggota, pentingnya uji kelayakan yang objektif dan seleksi yang tidak didominasi oleh kepentingan politik. Bahkan, disampaikan wacana peran KPI dalam mengawasi media sosial yang kini lebih masif dibandingkan televisi dan radio.
Untuk bisa menghadirkan Komisioner KPID yang baik, KPI Pusat menyoroti pentingnya pembentukan tim seleksi yang terdiri dari unsur akademisi, tokoh masyarakat, perwakilan pemerintah, agar proses seleksi berjalan kredibel.
Mengenai persyaratan usia dan domisili, I Made Sunarsa menegaskan tidak terdapat batasan khusus yang diatur dalam undang-undang, berbeda dengan lembaga seperti Komisi Informasi. KPI tidak memiliki kewenangan untuk menambahkan syarat teknis secara sepihak, namun kualitas calon tetap bisa diuji melalui forum FPT (fit and proper test) yang dilaksanakan DPRD.
Kunjungan ini menjadi momen penting dalam membangun tata kelola penyiaran daerah yang profesional, bebas intervensi politik, serta adaptif terhadap perkembangan media digital dan sosial media yang semakin kompleks.
“Kami percaya, dan KPI Pusat punya keinginan kuat (komisioner) yang terpilih punya kredibilitas dan mumpuni. Pertarungan berjalan ketat karena revisi menuntut KPI punya kualitas untuk berurusan dengan media baru,” pungkas Komisioner Bidang Kelembagaan, Mimah Susanti. **/Anggita Rend

Penyiaran Pilar Utama Cerdaskan Kehidupan Bangsa
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 2026

Mamuju -- Penyiaran tidak hanya sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi pilar penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Mohamad Reza, dalam sambutan di kegiatan KPID Expo Penyiaran 2025 yang digelar KPID Sulawesi Barat (Sulbar) di Mall Matos, pekan lalu.
Dalam sambutannya, Reza juga menyinggung perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini bisa memanfaatkan foto seseorang untuk membuat gambar bergerak atau video.
Ia juga mengingatkan potensi penyalahgunaan teknologi tersebut yang dapat merugikan individu.
“Kita perlu waspada terhadap perkembangan teknologi seperti AI. Sekarang hanya dengan foto, orang bisa membuat video seolah-olah itu kita. Ini tentu bisa membahayakan,” ujarnya.
Reza turut mengapresiasi pelaksanaan KPID Expo yang menurutnya merupakan kegiatan positif dimana terdapt pulah kegitan lomba Baca berita yang menututnya sangat baik.
“Ini kegiatan pertama yang digelar KPID Sulbar dan saya sangat mengapresiasinya, dimana ada satu lomba baca berita yang menurut saya sangat baik, Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut untuk meningkatkan literasi penyiaran di masyarakat,” tutupnya. **
Pemenang Anugerah Syiar Ramadan 2025
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 5331

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama (Kemenag) kembali menyelenggarakan ajang Anugerah Syiar Ramadan (ASR) 2025/1446 H. Tema ASR tahun ini “Siaran Ramadan untuk Meneguhkan Ketahanan Bangsa”. Para pemenang ASR 2025 telah diumumkan pada Jumat malam (23/5/2025) di Auditorium H.M. Rasjidi Kementerian Agama (Kemenag). Berikut pemenang ASR 2025:
PEMENANG ANUGERAH SYIAR RAMADAN (ASR) TAHUN 2025:
1. DAKWAH NON TALKSHOW (CERAMAH) METRO TV Khazanah Islam
2. DAKWAH NON TALKSHOW (KULTUM) SCTV Mutiara Hati
3. DAKWAH TALKSHOW (DIALOG) CNN Indonesia Gapai Kemuliaan Ramadhan
4. WISATA BUDAYA TRANS TV Tanah Air Beta
5. HIBURAN (FILM/FTV RELIGI/SINETRON) TVRI Marbot Ali
6. AJANG BAKAT INDOSIAR Aksi 2025 Kemenangan
7. FEATURE TRANS7 Jalur Langit
8. DOKUMENTER TRANS7 Jejak Al-Qur’an
9. LIPUTAN RAMADAN RCTI Seputar iNews Siang
10 ILM RAMADAN TRANS7 Ghibah
11 DAKWAH RADIO (KULTUM) ELSHINTA Kultum Ramadan
12 DAKWAH RADIO (TALKSHOW/DIALOG) RASI FM MAGETAN Khidmat Ramadhan
13 LIPUTAN RAMADAN (RADIO) RRI JAKARTA ROS Menjelang Berbuka Puasa Bulan Ramadhan
14 WISATA BUDAYA (RADIO) RRI BATAM Potensi Daerah Ramadhan 2025
15 FEATURE (RADIO) RRI SAMARINDA Cerita Ramadan
16 ILM RAMADAN (RADIO) RRI TERNATE Belajar Puasa
PENGHARGAAN KHUSUS MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)
1. PROGRAM PENDUKUNG EDUKASI HALAL LIFESTYLE KOMPASTV Cerita Rasa
2. PROGRAM PENDUKUNG LITERASI EKONOMI SYARIAH TVONE Ayat-Ayat Santri Ramadhan
3. PROGRAM PENDUKUNG LITERASI DIGITAL ISLAMI PRO 2 RRI BANDAR LAMPUNG Tanya Ustadz
“Etika Bermedsos untuk Wanita Muslimah di Era Sekarang”
PENGHARGAAN KHUSUS KEMENTERIAN AGAMA RI
1. KATEGORI DAI WILAYAH 3T INSPIRATIF
1. Atropal Asparina, S.Th.I.,M.Ag. Kabupaten Keerom, Provinsi Papua
2. Abdul Latif, S.Pd Desa Wayabula Kec. Morotai Selatan Barat
Kab. Pulau Morotai Prov. Maluku Utara
3. Aji Suprapto, S.Hum., MA Kampung Zakat, Desa Selajambe, Kec. Selajambe Kabupaten Kuningan, Prov. Jawa Barat.
2. KATEGORI MODERAT MILENIAL AGENT INSPIRATIF
1. Saviera Zulykha Ajeng Fauqii Nuura MMA II Daerah Istimewa Yogyakarta
2. Selamat Ariga MMA I Aceh
3. Lusi Ayudaningsih MMA II Jawa Barat
Syiar Ramadan sebagai Upaya Bersama Menjaga Umat dan Bangsa
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 2691

Jakarta -- Wakil Presiden RI periode 2019-2024 sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Ma’ruf Amin menilai tayangan ramadan merupakan bagian dari visi dan misi menjaga serta melindungi umat dari cara berpikir maupun perilaku yang menyimpang. Menurutnya, pikiran dan perilaku menyimpang bisa berujung pada kerusakan masyarakat secara luas. Oleh karena itu, media dan penyiaran memiliki peran strategis dalam mencerdaskan umat dan mengarahkan mereka pada jalan pikir yang lurus sesuai tuntunan agama.
Hal itu disampaikannya saat memberikan kata sambutan di acara puncak Anugerah Syiar Ramadan (ASR) yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bersama Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jumat, (23 Mei 2025).
Beliau mengingatkan penyiaran harus dijauhkan dari kepentingan sesaat atau hawa nafsu yang menyesatkan. “Dalam era post-truth saat ini, di mana batas antara kebenaran dan kebohongan menjadi samar, media justru harus hadir sebagai penjernih dan penuntun.
Ditekankan pula bahwa komitmen keagamaan dan kebangsaan harus menjadi pilar utama dalam pembangunan karakter bangsa. Ma’ruf Amin menyampaikan 2 amanah yang dipegang MUI yaitu, perjanjian dengan Tuhan (MUI sebagai pewaris tugas kenabian untuk menjaga umat), serta perjanjian kebangsaan dengan komitmen terhadap Pancasila, UUD 1945, dan keutuhan NKRI. Kedua komitmen ini saling menguatkan, bukan bertentangan.
Syiar Ramadan melalui media adalah bagian dari tanggung jawab besar tersebut. Oleh karena itu, seluruh lembaga penyiaran diajak untuk terus menjaga semangat ini demi ketahanan bangsa. “Malam ini harus jadi momentum untuk bekerja lebih keras, karena tantangan ke depan akan semakin berat,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, mengatakan kegiatan ini menjadi wujud komitmen kolektif menjaga kemuliaan bulan Ramadan melalui siaran publik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan membangun karakter bangsa.

“Ramadan bukan sekadar momentum spiritual, tetapi juga ruang kebudayaan dan edukasi di mana nilai-nilai keislaman bertemu dengan media, seni, dan kesadaran kolektif bangsa. ASR 2025 hadir sebagai sarana menjaga etika siaran publik serta memberi apresiasi kepada karya-karya syiar Islam yang menginspirasi,” ujar Abu Rokhmad.
Ketua KPI Pusat Ubaidillah menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan kompetisi tahunan untuk program-program siaran televisi dan radio terbaik selama bulan Ramadan. “Kami ingin memberikan apresiasi terhadap karya-karya Ramadan terbaik yang diproduksi insan media penyiaran. Melalui anugerah berkelanjutan ini kami berharap dapat mendorong industri penyiaran untuk terus berkarya menghasilkan program-program Ramadan terbaik dari waktu ke waktu,” kata Ubaidillah dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa siaran Ramadan yang berkualitas dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Ubaidillah juga berharap program-program tersebut dapat menjadi pedoman bagi umat Islam.
“Kami juga menginginkan dan mendorong media penyiaran, baik TV maupun radio, menjadi medium utama bagi masyarakat dalam menerima informasi serta hiburan yang baik dan positif di tengah kegaduhan yang datang dari media baru,” ujarnya.
Ketua MUI Bidang Infokom, Masduki Baidlowi menyampaikan bahwa MUI menambahkan penghargaan di tiga bidang penting, yakni literasi ekonomi syariah, literasi dan edukasi halal life style, serta literasi media digital. Ketiga penghargaan ini, menurut MUI, sejalan dengan ruh MUI yang berakar pada fatwa, dakwah, dan pendidikan publik.
Selain mencerminkan semangat kolaborasi pentahelik antara pemerintah, masyarakat, lembaga agama, dan media, ASR 2025 juga dipandang sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas lembaga penyiaran nasional, di tengah tantangan industri media yang sedang mengalami disrupsi besar dan gelombang PHK.
Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Phil H. Kamarudin Amin berkata, “Dakwah hari ini tidak cukup dipahami sebagai ceramah mimbar semata, melainkan sebagai aktivitas peradaban yang membina spiritualitas individu sekaligus memperkuat kesatuan sosial. Dakwah tidak sekedar menyampaikan teks, tapi menafsirkan konteks. Rasulullah membangun masyarakat dengan akhlak dan keteladanan, bukan sekadar retorika”.

Beliau mengidentifikasi ada tiga tantangan utama dakwah media. Pertama, menjangkau generasi digital (Gen Z dan Alpha) dengan pendekatan yang komunikatif dan relevan; meningkatkan kualitas pengamalan ajaran Islam di tengah dominasi konten hiburan; serta menjadikan agama sebagai pendorong pembangunan manusia, bukan hanya pembangunan fisik.
Kementerian Agama RI menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem dakwah moderat dengan mengembangkan pelatihan dai digital, meningkatkan literasi dakwah media, dan menerapkan kurikulum cinta yang mengusung nilai kasih sayang, toleransi, dan penghormatan. Syiar Ramadan diharapkan menjadi kanal utama penyebaran nilai-nilai tersebut ke ruang publik.
Pada kesempatan yang sama perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital, Staf Ahli Bidang Teknologi, Mochamad Hadiyana menyampaikan "Ramadan bukan hanya momen ibadah, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai kemanusiaan dan peran kita dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Siaran Ramadan tidak boleh hanya menjadi hiburan musiman, tapi harus membawa pesan yang membentuk pola pikir, sikap, dan moral publik”. ASR 2025 menjadi pengingat bahwa siaran berkualitas yang selaras dengan nilai agama adalah pilar penting dalam memperkokoh ketahanan sosial dan identitas bangsa.
Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, serta harapan agar ASR terus menjadi sarana memperkuat ketahanan moral dan komitmen keimanan umat di tengah tantangan zaman. **/Anggita Rend/Foto: Agung R

(Siaran Pers KPI Pusat) ASR 2025: “Siaran Ramadan untuk Meneguhkan Ketahanan Bangsa”
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 3732

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama (Kemenag) kembali menyelenggarakan ajang Anugerah Syiar Ramadan (ASR) 2025/1446 H. Tema ASR tahun ini “Siaran Ramadan untuk Meneguhkan Ketahanan Bangsa”.
Ketua KPI Pusat, Ubaidillah mengatakan, anugerah ini merupakan agenda rutin tahunan KPI bersama MUI dan Kemenag. Kegiatan ini merupakan ajang kompetisi program-program siaran TV dan radio terbaik selama bulan Ramadan di setiap tahunnya.
“Kami ingin memberikan apresiasi terhadap karya-karya ramadan terbaik yang diproduksi insan media penyiaran. Melalui anugerah berkelanjutan ini kami berharap dapat mendorong industri penyiaran untuk terus berkarya menghasilkan program-program ramadan terbaik dari waktu ke waktu,” jelas Ubaidillah.
Selain itu, lanjut Ubaidillah, hadirnya siaran Ramadan yang baik dan berkualitas akan memberikan pengaruh positif bagi khalayak. Harapan terbesarnya adalah siaran Ramadan ini menjadi tuntunan masyarakat khususnya umat Islam.
“Kami juga menginginkan dan mendorong media penyiaran, TV dan radio, menjadi medium utama bagi masyarakat menerima informasi serta hiburan yang baik dan positif di tengah kegaduhan yang datang dari media baru. Soalnya yang perlu kita khawatirkan sekarang adalah konten-konten dari media baru yang belum diatur secara hukum,” jelasnya.
Sementara itu, Penanggung Jawab kegiatan ASR 2025 sekaligus Komisioner KPI Pusat, Aliyah, menjelaskan bahwa tema “Siaran Ramadan untuk Meneguhkan Ketahanan Bangsa” merupakan perwujudan dari upaya semua pihak menciptakan program tayangan Ramadan yang berkualitas sekaligus memperkuat dan meningkatkan kemampuan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Ketahanan bangsa kita begitu penting dan krusial di tengah kondisi saat ini dan kita berharap hal besar ini dapat diwujudkan yang salah satunya melalui program-program siaran Ramadan berkualitas dan sehat,” ujar Aliyah.
Dalam kesempatan ini, Aliyah melaporkan, jumlah lembaga penyiaran yang mengikuti lomba di ASR 2025 mengalami kenaikan cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pada 2024 lalu, jumlah lembaga penyiaran yang terlibat di ASR hanya 80. Adapun tahun ini, jumlahnya peserta mencapai 111 lembaga penyiaran yang terdiri atas 21 lembaga penyiaran TV dan 90 lembaga penyiaran radio.
Peningkatan jumlah lembaga penyiaran yang terlibat ASR 2025 juga diikuti kenaikan jumlah program siaran yang dilombakan. Aliyah melaporkan, jumlah program siaran yang diterima panitia mencapai 536 program yang terdiri atas 166 program acara TV dan 370 program radio. Adapun pada tahun lalu hanya 394 program.
“Kami sangat mengapresiasi antusiasme dari lembaga penyiaran yang mengikuti anugerah syiar ramadan tahun ini. Meskipun situasi media penyiaran lagi sulit, peningkatan ini menandakan niat lembaga penyiaran untuk menyajikan program siaran ramadan berkualitas terbilang tinggi,” ujar Aliyah.

Kemudian, dalam menilai tayangan yang diperlombakan, tim seleksi dari KPI Pusat menerapkan kriteria yang ketat antara lain; Setiap program acara merupakan produksi dalam negeri. Program pun harus selaras dengan spirit Ramadan dan surat edaran KPI tentang Program Siaran Ramadan. Program harus sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI dan tidak pernah mendapatkan sanksi. Program siaran merupakan produksi baru atau sekurang-kurangnya repackage dari program yang pernah tayang sebelumnya (bukan semata-mata program rerun).
“Itu dasar penilaian dari tim seleksi awal kami untuk kemudian bagi yang lolos akan diserahkan ke dewan juri yang sudah ditetapkan. Dewan juri berasal dari KPI, MUI dan Kemenag,” jelas Aliyah.
Komisioner sekaligus Koordinator bidang Pengawasan Isi Siaran KPI Pusat, Tulus Santoso menambahkan, ASR 2025 memperlombakan sebanyak 21 kategori yang terdiri atas 10 kategori untuk lembaga penyiaran TV, 6 kategori untuk lembaga penyiaran radio dan penghargaan khusus.
“Kategori penghargaan untuk TV antara lain kategori Program Dakwah Non Talkshow (Ceramah), kategori Program Dakwah Non Talkshow (Kultum), kategori Program Dakwah Talkshow (Dialog), kategori Program Wisata Budaya, kategori Program Hiburan (Film/FTV Religi/Sinetron), kategori Program Ajang Bakat, kategori Program Feature, kategori Program Dokumenter, kategori Program Liputan Ramadan dan ILM Ramadan,” jelasnya.
Kemudian 6 kategori penghargaan untuk Radio yakni kategori Program Dakwah Radio (Kultum), kategori Program Dakwah Radio (Talkshow/Dialog), kategori Program Liputan Ramadan, kategori Program Wisata Budaya, kategori Program Feature dan kategori ILM Ramadan.
“Adapun untuk penghargaan khusus antara lain penghargaan untuk Dai Wilayah 3T Inspiratif, Moderat Milenial Agent Inspiratif, Program Pendukung Edukasi Halal Lifestyle, Program Pendukung Literasi Ekonomi Syariah dan Program Pendukung Literasi Digital Islami,” tutur Tulus.
Rencananya, pengumuman pemenang dan penyerahan penghargaan ASR 2025 akan digelar pada Jumat malam (23/5/2025) di Auditorium H.M. Rasjidi Kementerian Agama Republik Indonesia. Acara ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube media center KPI Pusat, MUI TV dan Bimas Islam TV mulai pukul 19.00 WIB. Acara penghargaan juga akan dihadiri Wakil Presiden RI Periode 2019-2024, KH. Ma’ruf Amin dan jajaran pejabat Komdigi, Kemenag, KPI dan MUI. ***/Foto: Agung R




