Dinamika Penyiaran Digital Indonesia: Antara Peluang, Ancaman, dan Tantangan Regulasi
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 3311

Jakarta -- Transformasi digital tidak hanya melulu soal ekonomi, tetapi juga menyangkut hal lain termasuk yang tak kalah penting menyoal kepentingan publik di dalamnya. Hal ini dikemukakan Komisioner KPI Pusat, Tulus Santoso, dalam Diskusi Publik bertajuk “Platform Digital dan Penyiaran: Peluang atau Ancaman?” yang diselenggarakan KPI Pusat bekerjasama dengan Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Kantor Sekretariat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persatuan Alumni GMNI, Jumat (22/08/2025) di Jakarta Pusat.
“Kita mendukung perkembangan penyiaran digital, tetapi harus tetap berpihak pada kepentingan publik serta menjaga nilai-nilai Pancasila,” kata Tulus di depan ratusan peserta yang hadir.
Sekretaris Jenderal DPP PA GMNI, Abdy Yuhana menambahkan, peran penyiaran sangat vital dalam membangun kesadaran masyarakat di tengah berbagai persoalan bangsa, mulai dari gizi buruk hingga obesitas. Ia menekankan pentingnya kolaborasi.
“Tidak ada superman, yang ada adalah superteam. Tantangan digital hanya bisa dihadapi dengan kerja bersama,” ujarnya.
Dalam sambutan selanjutnya, Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, menyoroti kehadiran internet mengubah cara masyarakat mendapatkan informasi, membawa dampak besar bagi dunia penyiaran, namun pengawasan terhadap platform digital belum memadai.
Mengawali diskusi, Komisioner KPI Pusat Bidang Pengawasan Isi Siaran, Aliyah, menyatakan penyiaran digital membawa dua dampak. Di satu sisi menjadi peluang memperluas jangkauan, tetapi di sisi lain menjadi ancaman karena belum ada regulasi pengawasan yang jelas.
Dicontohkannya, seperti persoalan lambatnya proses take-down konten bermasalah di platform global dibanding mekanisme pengawasan KPI pada televisi dan radio.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR RI, Yulius Setiarto, mengungkapkan pembahasan RUU Penyiaran masih berlangsung dan terbuka terhadap masukan publik. Ia menilai regulasi perlu diperbarui agar tidak tertinggal dari perkembangan teknologi. “Media adalah instrumen strategis. Kita butuh regulasi yang tidak hanya memenangkan satu pihak, tetapi mampu mengkolaborasikan semua pihak,” tegasnya.
Yulius juga menyinggung perdebatan apakah platform digital harus diatur dalam RUU Penyiaran atau melalui undang-undang tersendiri. Menurutnya, hal ini memerlukan political will yang kuat serta pembelajaran dari praktik negara lain.
Dari perspektif GMNI, Ketua Bidang Komunikasi dan Media Sosial, Jan Prince Permata, menekankan pentingnya literasi digital di kalangan generasi muda, yang bisa menjadi penggerak. Dengan 80% dari populasi masyarakat sudah terkoneksi internet, ia menilai pemuda harus tampil sebagai produsen konten, bukan sekadar konsumen.
“Pemuda harus mempertajam kemampuan kritisnya sehingga tidak mudah terjebak dalam arus negatif, maupun konten destruktif,” imbuh Jan.
Sekjen Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Gilang Iskandar, menyoroti tantangan berat industri televisi akibat pergeseran penonton ke platform digital. Ia menekankan empat strategi penting: kolaborasi, monetisasi multi-platform, penguatan konten lokal, serta kesetaraan regulasi antara media nasional dan platform global. Gilang juga menyoroti ketidaksetaraan aturan akan melemahkan daya saing industri dalam negeri.

Pada kesempatan yang sama, beberapa peserta diskusi menyampaikan pandangan mereka. Hardly Stefano, Komisioner KPI Pusat selama 2 periode yang turut hadir menekankan pentingnya equal public protection.
“Dalam pengaturan media, perdebatan biasanya selalu muncul karena teknologi, akses, dan platform yang berbeda. Tetapi sesungguhnya, dilihat dari sisi konten, semuanya sama-sama menghadirkan visual dan audio, bisa diakses publik, bahkan seringkali gratis,” katanya.
Hardly menitikberatkan pada bagaimana menjamin perlindungan terhadap publik melalui pengelolaan konten dari media apapun. “KPI juga sebaiknya berpikiran terbuka, bisa mendekatkan diri dengan publik dan juga ekosistem digital,” imbuhnya.
Peserta lain menyampaikan kekhawatiran bahwa pengawasan digital bisa membatasi kebebasan berekspresi, meski hoaks dan ujaran kebencian menjadi tantangan tersendiri. Maka dari itu, literasi digital perlu diperkuat agar masyarakat memahami tujuan regulasi. Salah satu peserta mengusulkan perlunya membentuk organisasi profesi content creator untuk menciptakan kode etik, tata tertib, dan ruang pengaturan yang lebih sehat.
Diskusi publik ini ditutup dengan ajakan untuk memperkuat ekosistem penyiaran dan digital yang sehat, berpihak pada kepentingan masyarakat, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi. **/Anggita

Gelar Dialog Partisipasi Masyarakat, KPI Ajak Kolaborasi Perkuat Media Penyiaran Sahabat Pelajar
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 2760

Jakarta -- Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Sholeh, menegaskan bahwa media penyiaran memiliki peran penting sebagai alat komunikasi yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga pendidikan dan hiburan. Menurutnya, media penyiaran yang baik harus mampu mendukung proses belajar para pelajar dengan menyajikan konten yang edukatif dan positif.
“Media penyiaran sahabat pelajar adalah media yang menyajikan berita dan informasi yang edukatif serta ramah anak, memberikan program-program yang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pelajar, serta menghindari konten negatif seperti kekerasan, kata-kata kasar, atau hal yang tidak sesuai dengan norma pendidikan,” ujar Oleh Sholeh saat memberi kata sambutan pembukaan acara Dialog Partisipasi Masyarakat Indonesia dengan tema “KPI dan Media Penyiaran Sahabat Pelajar”, di Gedung PBNU, Jakarta (21/8/2025).
Ia menambahkan, di era digital saat ini, tanggung jawab media penyiaran semakin besar dalam menciptakan ruang siaran yang sehat dan mendukung tumbuh kembang generasi muda. Oleh karena itu, kolaborasi antara lembaga penyiaran, pemerintah, dan masyarakat diperlukan untuk mewujudkan tayangan yang benar-benar bermanfaat bagi pelajar.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Ubaidillah, menegaskan pentingnya masyarakat untuk tetap menjaga daya kritis di tengah derasnya arus informasi saat ini. Menurutnya, kedekatan dengan informasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan sikap bijaksana dalam menanggapi berbagai konten yang disampaikan melalui televisi, radio, maupun platform media baru.
“Tidak semua informasi itu layak dikonsumsi. Kita harus tetap menjaga jarak agar lebih bijaksana dalam merespon,” ujar Ubaidillah

Ia menambahkan, menghadapi tantangan sekaligus peluang di era informasi, perlu ada upaya bersama dalam menciptakan informasi yang lebih berkualitas, membangun, konstruktif, dan edukatif. Dalam hal ini, peran masyarakat termasuk organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, menjadi sangat penting. “Peran masyarakat diperlukan, tentu dengan cara-cara yang kreatif, kolaboratif, dan inovatif,” jelasnya.
Ubaidillah juga menekankan kegiatan peningkatan literasi media harus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini untuk memastikan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebenaran informasi tetap hidup di ruang-ruang media. “Kegiatan ini perlu berkesinambungan agar partisipasi masyarakat dalam menjaga informasi yang benar, faktual, dan aktual tetap eksis,” tegasnya.
KPI Pusat berharap masyarakat dapat semakin bijak dan kritis dalam mengonsumsi serta menyebarkan informasi, sehingga ruang media di Indonesia dapat terus sehat dan bermanfaat bagi publik.
Pada kesempatan yang sama, Komisioner KPI Pusat bidang Pengawasan Isi Siaran, Aliyah, yang juga penanggung jawab kegiatan Dialog Partisipasi Masyarakat menyatakan forum ini dimaksudkan sebagai upaya kolaborasi antara KPI, lembaga penyiaran, dan masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat diwakili oleh Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Ia menjelaskan, dialog ini memiliki tujuan penting memperkuat peran media penyiaran di tengah tantangan perubahan lanskap media. Ia menilai, saat ini masyarakat cenderung lebih banyak mengakses media digital dibandingkan televisi.
“Tantangan KPI tidak hanya pada perubahan media mainstream, tetapi juga dengan merebaknya media digital. Bahkan, saya yakin masyarakat sekarang lebih banyak mengakses media baru dibanding menonton TV,” tuturnya.
Melalui dialog ini, KPI mengajak peserta yang hadir untuk memberikan masukan, pandangan, serta strategi agar televisi dan radio tetap relevan dan tidak tertinggal dari media baru, termasuk layanan Over the Top (OTT). “Kami ingin mendengar langsung dari masyarakat, terutama generasi muda, tentang kiat-kiat apa saja agar televisi dan radio dapat terus bertahan dan memberikan manfaat, meskipun media baru semakin dominan,” jelas Aliyah.
KPI berharap, melalui forum partisipatif ini, lahir berbagai gagasan kreatif dan kolaboratif demi terciptanya media penyiaran yang ramah pelajar, edukatif, sekaligus mampu bersaing dengan platform digital yang kini semakin mendominasi ruang konsumsi informasi masyarakat. Syahrullah

Anggota KPI Pusat Periode 2019-2022 Aswar Hasan Berpulang
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 4073

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kehilangan salah satu putra terbaiknya Aswar Hasan yang wafat pada Rabu (13/8/2025) sore di Rumah Sakit (RS) Primaya, Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau merupakan Komisioner KPI Pusat Periode 2019-2022.
Semasa hidupnya, Beliau merupakan sosok yang sarat pengalaman. Menjadi dosen tetap di Universitas Hasanudin (Unhas) dengan kualifikasi keilmuan di bidang komunikasi dengan konsentrasi media massa. Bahkan, sebelum mengemban amanah sebagai Anggota KPI Pusat bidang Pengelolaan Kebijakan dan Struktur Penyiaran (PKSP), Almarhum pernah menjadi Ketua KPID Sulawesi Selatan pertama, serta Ketua Komisi Informasi Sulawesi Selatan.
Beliau pernah menyatakan bahwa penyiaran itu sangat penting karena kontribusi besarnya dalam menghadirkan informasi yang sehat di tengah masyarakat. Ini menurutnya, menjadi dasar untuk memajukan kehidupan bangsa dan menjaga kepentingan negara.
Selain sebagai regulator, Aswar pernah ambil bagian mendirikan komunitas tentang analisa dunia perfilman bernama “Liga Film Makassar”. Pria yang lahir di Palopo tahun 1963 ini, juga pernah tercatat sebagai anggota Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), serta pengurus Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sulsel.
Sekarang beliau telah meninggalkan kita semua. Kendati demikian, jejak pikir dan legitimasinya tentang penyiaran tetap tinggal. Selamat jalan Aswar Hasan. Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terbaik, dan semoga semangatmu terus hidup dalam perjalanan panjang dunia penyiaran di negeri ini. ***/Foto: Agung R
Semarakkan HUT ke-80 RI, KPI: Televisi dan Radio Jaga Semangat Kemerdekaan
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 2117

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengapresiasi lembaga penyiaran TV dan radio yang telah menyiarkan berbagai rangkaian program acara terkait peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia (RI). Menurutnya, radio dan televisi terus merawat semangat kemerdekaan melalui sajian informasi yang beragam.
Berdasarkan hasil tim pemantauan isi siaran KPI Pusat, menjelang peringatan HUT sampai setelahnya, lembaga penyiaran yang dipantau melakukan imbauan yang diminta KPI untuk menyemarakkan siaran berisikan pesan-pesan kemerdekaan.
“Kami mengapresiasi upaya yang telah dilakukan lembaga penyiaran dalam menyemarakkan peringatan hari kemerdekaan ke-80 negeri kita dalam berbagai bentuk program siaran maupun segmen program. Upaya ini tentunya sangat berarti dalam rangka kita menjaga nilai kemerdekaan dan nasionalisme terhadap negeri yang kita cintai ini,” kata Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, Selasa (19/8/2025).
KPI melihat kreatifitas yang dilakukan lembaga penyiaran agar siaran terkait peringatan HUT ke-80 RI jadi lebih variatif dan menarik tampil di layar kaca dan pendengar pemirsa. Dengan keberagaman acara, publik bisa memilih tontonan yang pas sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Program siarannya sangat beragam. Mereka menujukkan kreativitas agar publik dari segmentasi apapun bisa merasakan euforia peringatan kemerdekaan. Kreatifitas merupakan salah satu nilai yang melekat dalam insan penyiaran. Melalui kreatifitas ini, siaran yang disajikan maupun yang diperdengarkan dapat diterima dan disenangi oleh semua segmen masyarakat,” kata Ubaidillah.
Dalam pantauan KPI Pusat, lembaga penyiaran televisi dan radio menyiarkan upacara Peringatan HUT RI dan penurunan bendera di Istana Negara, termasuk penayangan iklan layanan masyarakat (ILM) HUT Kemerdekaan RI. Kegiatan karnaval kemerdekaan dan kegiatan lain terkait peringatan kemerdekaan turut disiarkan.
“Antusiasme lembaga penyiaran dalam menyemarakkan peringatan kemerdekaan tahun ini sangat tinggi. Kita menemukan beragam acara-acara yang secara khusus dipersiapkan untuk menyambut HUT ke-80 RI. Bahkan, kegiatan-kegiatan peringatan kemerdekaan di masyarkat, tingkat RT misalnya, ikut diliput media penyiaran,” jelas Ubaidillah.
Sebelumnya, KPI telah mengimbau seluruh lembaga penyiaran baik televisi dan radio agar menyiarkan program siaran yang berisikan pesan-pesan perjuangan dan kemerdekaan untuk menyemarakkan HUT ke-80 Republik Indonesia. Siaran semarak peringatan kemerdekaan ini dalam bentuk program siaran berita, dokumenter, hingga hiburan. ***
Pemenang Anugerah Penyiaran Ramah Anak 2025
- Detail
- Ditulis oleh RG
- Dilihat: 4592

Jakarta -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menggelar Anugerah Penyiaran Ramah Anak (APRA) 2025. Tema APRA tahun ini, “Siaran Tangguh, Anak Tangguh: Melindungi dan Menginspirasi Generasi Penerus Bangsa”. Para pemenang anugerah diumumkan dalam acara puncak APRA yang disiarkan secara langsung oleh LPP (Lembaga Penyiaran Publik) TVRI dan youtube media center KPI Pusat pada Jumat (8/8/2025).
Dalam APRA 2025, terdapat 15 (lima belas) kategori penghargaan yang akan diberikan. Adapun para pemenang gelaran APRA 2025 sebagai berikut:
1. Program Animasi Indonesia oleh Mentari TV dengan judul program Wakakibo Komodo
2. Program Animasi Asing oleh Mentari TV dengan program Bluey Session
3. Program Feature/ Dokumenter Nusantara TV dengan program Abraham
4. Program Variety/Reality Show Anak oleh Trans 7 program Arisan Liburan episode farmer
5. Program Keluarga Indonesia oleh TVRI program Buah hatiku sayang: Belajar budi pekerti melalui dongeng klasik
6. Program Pendidikan Anak oleh GTV program Dunia Hand Made Siput
7. Program Anak Inspiratif oleh Trans 7 program si Bolang episode cerita bocah pendamping Timnas
8. Program Anak Radio oleh RRI Bukit Tinggi - Anak cerdas edisi TK Restu Ibu
9. Program Dongeng Radio oleh Radio Sonora Jakarta program DoRa (Dongeng Sonora)
10. Program Anak Terfavorit 2025 oleh TVRI dengan program Mari Menggambar
Selain itu, KPI juga memberikan enam penghargaan terhadap lembaga penyiaran dengan kategori sebagai berikut:
1. Radio Terbaik APRA 2025: RRI
2. Radio Peduli Anak Indonesia: RRI Denpasar
3. Lembaga Penyiaran Publik Lokal Peduli Anak: Radio Suara Lumajang
4. Televisi Ramah Anak 2025: TVRI
5. Televisi Peduli Pendidikan Anak Indonesia: TVRI. **/Foto: Agung R



