Menyambut Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke 84 pada 1 April nanti. Redaksi kpi.go.id mengajak para pembaca mengenal tokoh-tokoh dunia yang berperan besar dalam perkembangan dunia penyiaran.

Kita mulai dari Guglielmo Marconi, tokoh dunia penemu radio. Lahir pada tahun 1874 di Bologna, Italia. Marconi yang lahir dari kalangan keluarga berada ini mendapatkan  pendidikan privat dari seorang guru. Pada tahun 1894, tatkala usianya menginjak dua puluh, Marconi mulai membaca percobaan-percobaan yang dilakukan oleh Heinrich Hertz beberapa tahun sebelumnya.

Percobaan-percobaan yang dilakukan Marconi mendemonstrasikan adanya gelombang elektromagnetik yang tak tampak oleh mata, bergerak lewat udara dengan kecepatan suara.

Marconi muda lantas tergugah dengan ide bahwa gelombang ini bisa dimanfaatkan mengirim tanda-tanda melintasi jarak jauh tanpa lewat kawat yang menyediakan banyak kemungkinan berkembangnya komunikasi yang tak bisa dijangkau telegram. Misalnya, dengan cara ini berita-berita dapat dikirim ke kapal di tengah laut.

Kerja keras Marconi tidak butuh lama hingga ia berhasil menciptakan peralatan yang diperlukan. Tahun 1896 dia memperagakan alat penemuannya di Inggris dan memperoleh hak paten pertamanya untuk penemuan ini.

Marconi bergegas mendirikan perusahaan dan “Marconi” pertama dikirim tahun 1898. Tahun berikutnya dia sudah sanggup kirim berita tanpa lewat kawat menyeberang selat Inggris. Meskipun patennya yang terpenting diperolehnya tahun 1900, Marconi meneruskan pembuatan dan mempatenkan banyak penyempurnaan-penyempurnaan atas dasar penemuannya sendiri. Di tahun 1901 dia berhasil mengirim berita radio melintasi Samudera Atlantik, dari Inggris ke Newfoundland.

Makna penting dari penemuan barunya secara dramatis dilukiskan di tahun 1909 tatkala kapal S.S. Republic rusak akibat tabrakan dan tenggelam ke dasar laut. Berita radio amat membantu, semua penumpang bisa diselamatkan kecuali enam orang. Pada tahun yang sama Marconi berhasil meraih Hadiah Nobel untuk penemuannya. Dan pada tahun berikutnya dia berhasil mengirim berita radio dari Irlandia ke Argentina, suatu jarak yang lebih dari 6000 mil. Red dari berbagai sumber

Bandung – Bukti bahwa media penyiaran, Radio dan TV, memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan di berbagai sektor kehidupan ternyata benar adanya. Salah satu negara di benua Afrika yaitu Gambia sudah membuktinya. Gambia mengalami peningkatan signifikan pada sektor pertanian dan kesehatan akibat pengaruh siaran dari TV dan radio di sana.

“Stasiun televisi nasional Gambia menayangkan banyak program edukasi untuk kesehatan, pertanian dan pendidikan. Sejak itu, terjadi perubahan besar akibat dampak yang ditimbulkan program edukasi tersebut. Tingkat pertanian di Gambia terus meningkat dari tahun ke tahun . Tingkat penerimaan di sekolah pun terus naik khususnya perempuan dan di sektor kesehatan perubahan besarnya adalah masyarakat jadi lebih sadar akan kesehatan terutama pada periode serangan Ebola,” kata Yankuba Jatta, Manager SDM Pelayanan TV dan Radio Gambia dalam presentasinya yang disampaikan di rapat tahunan IBRAF di Bandung, Kamis, 23 Februari 2017.

Menurut Yankuba, lembaga penyiaran khususnya radio di Gambia dapat menjalankan usahanya dengan baik karena mereka mendapatkan income lumayan sehingga mereka bisa beroperasi normal. Program siaran yang paling banyak disiarkan lebih didominasi program kesehatan, pendidikan, pertanian, budaya dan tidak ketinggal hiburan.

“Kami memiliki sembilan stasiun radio milik perorangan dan tiga radio komunitas. Gambia juga memiliki lembaga yang dibentuk pemerintah untuk memantau dan mengatur semua ranah penyiaran termasuk radio,” jelasnya.

Migrasi digital

Sama hal dengan Indonesia, Gambia pun sedang asyik-asyiknya sibuk melakukan perpindahan teknologi penyiaran dari analog ke digital. Gambia melalui pemerintahannya telah mengambil langkah-langkah menuju era digitalisasi. “Baru-baru ini Pemerintah telah menandatangani kemitraan dengan perusahaan Cina menyebutnya Startimes untuk melaksanakan studi kelayakan mengenai migrasi digital,” kata Yankuba. ***

Tokyo - Komite Etika Penyiaran Jepang (BPO), Jumat pekan lalu, menyatakan pelanggaran hak asasi manusia khususnya terhadap Haruko Obokata mantan peneliti Riken yang telah dilakukan TV NHK pada penyiaran "NHK Special" yang ditayangkan Juli 2014 silam.

Laporan sains Obokata pada "British Journal Nature" bulan Januari 2014, yang memuat cara baru produksi stem cell lewat proses yang dijuluki akuisisi stimulus, dipicu dari pluripotensi, atau STAP cells, kemudian laporan tersebut Juli 2014 ditarik balik karena dianggap pemalsuan.

Pada program penyiaran "NHK Special," diperlihatkan Obokata membuat STAP cells menggunakan embryonic stem cells atau ES cells di mana dia memperolehnya dari sesuatu atau mencuri milik orang lain. Tetapi BOP meragukan kredibilitas informasi tersebut.

"Penyiaran tersebut terlihat telah melanggar hak asasi manusia dari pelapor Obokata," kata seorang anggota BOP.

Oleh karena itu BOP mengharapkan hal itu dapat ditanggapi NHK dengan mengambil langkah-langkah yang perlu agar tidak terulang lagi di masa mendatang.

"Kami telah membuat program tersebut dengan peliputan yang sangat baik dan obyektif. Namun kami juga akan memperhatikan hasil kesimpulan BOP tersebut. Kami tidak merasa telah melanggar hak asasi manusia," kata pihak NHK.

Laporan BOP menuliskan bahwa Obokata dianggap NHK telah mencuri ES cells, yang dibuat seorang mahasiswa asing yang dilakukan di laboratori Teruhiko Wakayama, seorang co-author dari naskah STAP cell.

Kesalahan dianggap BOP lebih kepada masalah editing (redaksional) ketimbang aktivitas pengambilan dan pengumpulan berita itu.

Institut penelitian Riken di mana dulu Obokata bekerja, menyimpulkan 2014 bahwa STAP cell itu sebenarnya sangat mirip dengan ES Cells.

Panel BOP juga menyalahkan wartawan NKK karena mengejar Obokata yang sudah tak mau memberikan komentar apa pun.

Obokata mengajukan komplain kepada BOP karena dituduh mencuri ES Cells sehingga dia merasa hak asasinya telah diinjak-injak oleh NHK.

Tanggal 25 Maret 2016 Obokata membuka situs http://stap-hope-page.com/ sendiri (sebagian dalam bahasa Inggris) yang menjelaskan dan selalu meng-update perkembangan STAP cells nya yang dianggap dia yang mengembangkannya. Red dari Tribunnews.com

Tokyo - Komite Etika Penyiaran Jepang (BPO), Jumat pekan lalu, menyatakan pelanggaran hak asasi manusia khususnya terhadap Haruko Obokata mantan peneliti Riken yang telah dilakukan TV NHK pada penyiaran "NHK Special" yang ditayangkan Juli 2014 silam.

Laporan sains Obokata pada "British Journal Nature" bulan Januari 2014, yang memuat cara baru produksi stem cell lewat proses yang dijuluki akuisisi stimulus, dipicu dari pluripotensi, atau STAP cells, kemudian laporan tersebut Juli 2014 ditarik balik karena dianggap pemalsuan.

Pada program penyiaran "NHK Special," diperlihatkan Obokata membuat STAP cells menggunakan embryonic stem cells atau ES cells di mana dia memperolehnya dari sesuatu atau mencuri milik orang lain. Tetapi BOP meragukan kredibilitas informasi tersebut.

"Penyiaran tersebut terlihat telah melanggar hak asasi manusia dari pelapor Obokata," kata seorang anggota BOP.

Oleh karena itu BOP mengharapkan hal itu dapat ditanggapi NHK dengan mengambil langkah-langkah yang perlu agar tidak terulang lagi di masa mendatang.

"Kami telah membuat program tersebut dengan peliputan yang sangat baik dan obyektif. Namun kami juga akan memperhatikan hasil kesimpulan BOP tersebut. Kami tidak merasa telah melanggar hak asasi manusia," kata pihak NHK.

Laporan BOP menuliskan bahwa Obokata dianggap NHK telah mencuri ES cells, yang dibuat seorang mahasiswa asing yang dilakukan di laboratori Teruhiko Wakayama, seorang co-author dari naskah STAP cell.

Kesalahan dianggap BOP lebih kepada masalah editing (redaksional) ketimbang aktivitas pengambilan dan pengumpulan berita itu.

Institut penelitian Riken di mana dulu Obokata bekerja, menyimpulkan 2014 bahwa STAP cell itu sebenarnya sangat mirip dengan ES Cells.

Panel BOP juga menyalahkan wartawan NKK karena mengejar Obokata yang sudah tak mau memberikan komentar apa pun.

Obokata mengajukan komplain kepada BOP karena dituduh mencuri ES Cells sehingga dia merasa hak asasinya telah diinjak-injak oleh NHK.

Tanggal 25 Maret 2016 Obokata membuka situs http://stap-hope-page.com/ sendiri (sebagian dalam bahasa Inggris) yang menjelaskan dan selalu meng-update perkembangan STAP cells nya yang dianggap dia yang mengembangkannya. Red dari Tribunnews.com

Jakarta – Program khusus untuk anak-anak di radio belum mendapat tempat utama dikalangan lembaga penyiaran radio. Walaupun ada, itupun hanya sedikit dan siarannya hanya di radio publik. Kebanyakan radio dan siarannya lebih menargetkan pendengar dari kalangan remaja ke atas. Padahal, kebutuhan siaran khusus anak-anak di radio sangat penting dalam membantu tumbuh kembang mereka secara normal.

Seto Mulyadi biasa disapa Kak Seto menilai siaran radio yang segmentasi untuk remaja dan dewasa jika di dengarkan anak-anak dapat mempengaruhi perkembangan fsikologis mereka. Pola pikir anak-anak pun yang harusnya tumbuh secara layak atau normal dengan mendengarkan lagu atau siaran dewasa jadi ikut-ikutan menua atau seperti dikarbit.

“Hampir tidak ada radio yang menyiarkan program anak-anak karena radio lebih kepada remaja dengan bahasa-bahasa remaja. Anak-anak yang mendengarkan siaran yang bukan untuk mereka menjadi cepat matang,” jelas Kak Seto usai jumpa pers di kantor KPI Pusat jelang acara Anugerah KPI 2016.

Dulu, kata Kak Seto, siaran RRI banyak menyiarkan lagu-lagu anak ciptaan Pak dan Ibu Kasur. Arti lagu anak tersebut lebih mudah di tangkap anak-anak dan itu normal sejalan dengan perkembangan mereka. “Anak-anak itu paling mudah menangkap dan menirukan apa saja lagu yang mereka dengar. Mereka mudah mempersepsinya. Karena itu, saya sangat berharap siaran anak di radio agar lebih diperbanyak,” pintanya .

Terkait hal ini, Seto Mulyadi berharap supaya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menambahkan kategori program yang diperlombakan dalam Anugerah KPI berikutnya yakni kategori program siaran anak di radio. Menurutnya, dengan ada kategori baru yang diperlombakan untuk radio akan memicu munculnya program siaran anak di setiap lembaga penyiaran radio, baik itu publik maupun swasta.“Saya harap Anugerah KPI berikutnya kategori baru ini sudah diperlombakan,” harapnya.

Dalam kesempatan itu, Seto mendorong semua lembaga penyiaran menciptakan program-program siaran yang edukatif, berkualitas dan layak bagi anak. ***

Hak Cipta © 2018 Komisi Penyiaran Indonesia. Semua Hak Dilindungi.