Manado - Perlindungan kepentingan anak dan remaja merupakan salah satu perhatian utama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam mengawasi setiap program siaran baik di televisi dan radio. Konsep Children See Children Do, seharusnya menjadi pertimbangan dalam setiap pengelolaan program siaran. Jika anak-anak menonton televisi dan mengonsumsi media dengan bebas tanpa memahami  apa yang mereka konsumsi, maka akan mudah bagi anak-anak melakukan duplikasi dan peniruan. Prof Obsatar Sinaga, Komisioner KPI Pusat Koordinator Bidang Kelembagaan mengingatkan berbagai kasus yang menimpa anak-anak lantaran menonton tayangan kekerasan di televisi. “Bagaimana pun juga, anak adalah masa depan negeri ini,”ujarnya. 

Dalam pelaksanaan Literasi Media di Manado (1/2), Prof Obsatar menilai sosialisasi Literasi Media merupakan cara kita untuk menjaga eksistensi bangsa ini. Jika masyarakat tidak diedukasi tentang bagaimana memanfaatkan media dan dampak negatif yang muncul dari media, dirinya mengkhawatirkan suatu hari nanti akan tinggal cerita saja, bahwa dulu pernah ada negeri yang bernama Indonesia. “Ini hanya karena kita tidak pernah mengerti bagaimana mencintai negeri ini,”tutur Prof. 

Untuk itulah, menurut pria yang kerap dipanggil Prof Obi ini, Literasi Media perlu disosialisasikan secara massif.  Meskipun media saat ini sudah menjadi salah satu kebutuhan utama, tapi masyarakat masih butuh diedukasi tentang konten-konten media serta pengaruh yang dapat ditimbulkan terhadap kehidupan berbangsa. Selain itu, masyarakat juga harus dilatih untuk membentengi diri atas dampak negatif media. Dia berharap, peserta Literasi Media di Manado dapat menjadi  agent of change dalam sebuah penyampaian pesan bahwa Indonesia adalah negeri yang layak diperjuangkan dan layak dicintai. “Sehingga media yang hadir di tengah masyarakat juga dapat berkontribusi menguatkan bangsa ini di antara bangsa lain di dunia,” pungkasnya.  

 

 

Hak Cipta © 2019 Komisi Penyiaran Indonesia. Semua Hak Dilindungi.