Manado – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) diminta mengaktifkan kelompok-kelompok pemerhati media di berbagai daerah,  untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat ikut berkontribusi mengawasi kualitas siaran. Hal tersebut disampaikan Max Rembang, Akademisi dari Universitas Sam Ratulangi, dalam acara Literasi Media yang diselenggarakan KPI di Manado, (1/2). 

Max menjelaskan eksistensi media ditentukan oleh khalayaknya. “Jadi kalau media hadir tidak seperti yang diharapkan oleh khalayak, maka akan tiba waktunya media tersebut mendapatkan masalah,” ujar Max. Lebih jauh lagi, Max yang juga merupakan Humas dari Unsrat Manado menjelaskan bahwa sesungguhnya khalayak media tidaklah pasif, bahkan dapat dikatakan sebagai eksekutor.

Oleh karena itu, dia menilai perlu ada komunitas dari khalayak untuk menjadi agent social change, sekaligus melakukan kritisi atas kerja media, baik itu iru media siaran, ataupun media mainstream dan media baru. “Dengan menyiapkan komunitas pemerhati media ini  mereka yang akan menjadi garda terdepan menjaga eksistensi bangsa ini,”ucapnya. 

Pentingnya komunitas pemerhati media dari khalayak, menurut Max, karena media merupakan sarana sosialisasi.  Dalam artian bagaimana menanamkan nilai-nilai dari generasi sekarang ke generasi selanjutnya. “Yang saya khawatirkan kalau khalayak tidak aktif, pada akhirnya khalayak hanya menerima apa yang diagendasettingkan oleh media”,ujarnya. Sementara kalau khalayak aktif, dia akan menjadi kritis dalam memberikan masukan-masukan pada pengelola media sehingga memunculkan hubungan yang saling menguntungkan antar khalayak dan media. 

Max berharap, KPI dan KPID dapat melakukan inisiatif membentuk kelompok-kelompok masyarakat di berbagai daerah yang menjadi pemerhati media. Kemitraan KPI dengan masyarakat yang merupakan khalayak media merupakan langkah strategis yang perlu dikembangkan ke depan. Termasuk dengan memberikan pemahaman literasi media kepada masyarakat sehingga mereka cerdas dalam memilah dan memilih media yang layak ditonton dan dikonsumsi. Secara khusus untuk kebutuhan anak-anak, Max melihat dengan hadirnya khalayak media yang cerdas dan kritis, dapat memenuhi kebutuhan anak-anak agar tetap kokoh pada nilai-nilai kebangsaan yang tidak terkooptasi nilai asing. “Tentunya selain membantu kerja KPI dan KPID, juga membantu bangsa dan negara lebih kuat menghadapi serbuan nilai melalui media,” pungkas Max. 

 

Hak Cipta © 2019 Komisi Penyiaran Indonesia. Semua Hak Dilindungi.