Andy F. Noya menjadi narasumber di Sekolah P3SPS KPI Angkatan XXIV

 

Jakarta“Tidak perlu menunggu untuk bisa menjadi cahaya bagi orang-orang disekelilingmu. Lakukan kebaikan, sekecil apapun, sekarang juga.”

Sepenggal kalimat penuh makna dan menohok tersebut dituliskan Andy Flores Noya, praktisi penyiaran sekaligus jurnalis senior, dihalaman pertama buku biografinya yang berjudul “Andy Noya Kisah Hidupku”. Kalimat pendek yang tidak lebih dari 17 kata itu kembali diulang Andy saat dirinya menjadi narasumber Sekolah P3SPS KPI Angkatan XXIV yang berlangsung di ruangan rapat minimalis Kantor KPI Pusat, Selasa (21/11/2017).

“Apa yang bisa anda lakukan untuk mengisi hidup anda. Anda ingin dikenal seperti apa?” kata Andy ke para peserta sekolah dengan suara lantang khasnya, persis seperti yang kita dengar di TV saat nonton acara “Kick Andy” di Metro TV, tidak sumbang tak juga fals.

Menurut Andy, setiap orang harus bermanfaat untuk orang lain dan itu tidak perlu menunggu esok. Setiap orang memiliki kelebihan. Kelebihan itu harus berguna bagi hidup orang lain. Jika kelebihan itu hanya dibatasi untuk dirinya, hal itu menjadi sia-sia.

Andy yang dilahirkan di Surabaya, 57 tahun silam, berbagi cerita ketika bekerja di media. Dia pernah bekerja sebagai wartawan di surat kabar, majalah, radio dan televisi. Pengalaman tersebut menempa dirinya dan menjadikan dirinya lebih sensitif melihat sisi-sisi kemanusiaan yang menurutnya perlu diperjuangkan dan disampaikan.

“Dulu, bed news is good news. Kalo ada berita bagus, dianggap tidak penting. Sekarang, berita baik dan positif itu sangat penting. Ini untuk menginspirasi orang untuk berbuat baik dan berpikir positif dalam menjalankan kehidupan,” kata Andy.

Andy yang semasa kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (STP), sekarang IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Politik) Jakarta,  pernah berjualan kartu ucapan untuk menutup biaya hidup sehari-hari. Tidak hanya berjualan kartu ucapan, Andy pun gesit menulis artikel atau cerpen serta membuat kartun untuk surat kabar atau majalan.

Andy juga menceritakan saat menjadi pemimpin redaksi di Metro TV dan seringkali beradu argument dengan pemiliknya mempersoalkan idealisme dan prinsip. Menurutnya, hal-hal yang sangat prinsip dan juga penegakan aturan harus di kedepankan. Meskipun terkadang, keputusan yang diambil harus menyakitkan dirinya dan orang lain.



Dalam bukunya itu diceritakan, saat di Metro TV, Andy menerima laporan bahwa reporternya menerima amplop saat liputan. Setelah melakukan investigasi dan menyidangkan kasus tersebut, dia mendapat pengakuan sang reporter bahwa amplop tersebut diterimanya karena merasa kasihan kepada sopir mobil operasional Metro TV yang anaknya sedang sakit.

Sikap Andy ketika itu, reporter, sopir dan camera person semuanya diberhentikan. Sepintas orang melihat Andy kejam karena niat reporter tersebut untuk membantu sopir yang kesusahan. Tapi yang dilakukannya adalah untuk menegakan prinsip. Meskipun pada akhirnya Andy setengah mati menghubungi temannya di stasiun televisi lain dan memohon agar menampung tiga orang yang diberhentikannya.

Pencapaian hidup bagi Andy adalah ketika orang lain datang meminta tolong kepadanya dan dia bisa menolong, itulah pencapaian hidup bagi diri Andy F. Noya. Hal itu menimbulkan kenikmatan dan membuat kita nyandu. “Nyandu untuk menolong orang,” katanya.

Demikianlah ringkasan pengalaman yang Andy sampaikan ketika mengisi kegiatan Sekolah P3SPS KPI Angkatan XXIV. Di dalam bukunya setebal 418 halaman tersebut, kita bisa membaca ratusan keping sketsa hidup yang pernah dilaluinya. “Jangan pernah menunda untuk berbuat baik,” pungkasnya. ***

Hak Cipta © 2017 Komisi Penyiaran Indonesia. Semua Hak Dilindungi.