Denpasar - Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis menyatakan, kondisi pandemi sekarang berdampak kurang baik pada beberapa sektor kehidupan, salah satunya hiburan dan pariwisata. Kenyataan yang dihadapi para pengusaha di bidang ini, mereka harus berpikir ulang tentang usaha dan menyiapkan strategi yang cermat guna menyisiasati kehidupannya.

Merujuk data dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia tercatat hingga akhir 2020, total kerugian sektor pariwisata Indonesia akibat pandemi Covid-19 yang dibarengi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kurang lebih mencapai 10 trilyun Rupiah. 

"Di tahap awal pandemi tahun 2020, terlihat penurunan drastis jumlah wisatawan. Meskipun sekarang secara perlahan sektor pariwisata sudah mulai dibuka kembali, butuh waktu dan proses agar kenaikan wisatawan bisa seperti sedia kala," ungkap Yuliandre saat menjadi pemateri dalam kegiatan Desiminasi Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Tahun 2020 dengan tema "Peran Penyiaran Untuk Kebangkitan Pariwisata Bali" di Westin Hotel, Bali, Kamis (22/4/2021). 

Terkait hal itu, lanjut Yuliandre, salah satu upaya yang dapat dipakai membantu kenaikan ekonomi pariwisata adalah dengan memanfaatkan media penyiaran. Peranan media sebagai wadah untuk melakukan aktifitas promosi obyek wisata dirasa sangat tepat sasaran. Beberapa program yang ada di lembaga penyiaran harus terus dikembangkan dengan tujuan mempromosikan wisata budaya di Indonesia. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh KPI Pusat, salah satu kategori program yang dinilai dalam Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV adalah kategori program siaran wisata budaya. Dari beberapa riset tersebut, kualitas program televisi untuk kategori ini mengalami kenaikan. Pada riset 2020 lalu, kategori program wisata budaya mendapat angka indeks sebesar 3,44. Ini membuktikan secara umum semua TV telah mencapai angka indeks yang telah ditentukan KPI yakni di atas angka 3.00.

Yuliandre mencontohkan Stasiun TV dengan indeks tertinggi adalah TVRI dengan indeks sebesar 3.77, diikuti oleh Metro TV dengan indeks sebesar 3.66. "Pemanfaatan lain untuk meningkatkan pariwisata adalah dengan siaran iklan layanan masyarakat yang ditayangkan di media penyiaran khususnya TV," tutur Yuliandre.

Dalam kesempatan itu, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bali, Pande Agus Permana Widura, mengatakan kondisi pandemi membuat menurunkan angka pendapatan pengusaha di Bali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, pertumbuhan ekonomi Bali pada 2020 menjadi yang terendah. Pada 2020, laju pertumbuhan ekonomi kumulatif Bali berada pada level minus 9,31 persen.

Pandemi yang memukul sektor pariwisata ini menjadi bahan evaluasi guna menggenjot sektor alternatif atau lainnya. Salah satu yang harus digarap lebih serius adalah pertanian. Untuk menggairahkan sektor pertanian, Pemerintah Provinsi Bali mendorong pemanfaatan teknologi. Sementara itu, tiga pelaku usaha yang paling terdampak wabah ini antara lain, pelaku usaha sektor akomodasi dan makanan-minuman yang turun hingga 87 persen. Pelaku usaha sektor transportasi dan pergudangan turun sebesar 85 persen serta pelaku usaha sektor jasa turun sebesar 85 persen.

“Kita juga perlu untuk melakukan inovasi dengan produk jasa yang bisa cepat beradaptasi. Kondisi seperti ini diharapkan dapat menyeimbangkan sektor ekonomi. Kini Bali harus mengembangkan industri alternatif untuk pemulihan ekonomi dan nilai produk Bali,” tandas Pande.

Disela-sela acara tersebut, KPI dan Universitas Udayana menandatangani kelanjutan kerjasama pelaksanaan Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV untuk tahun 2021. Penandatanganan MoU perpanjangan itu diwakili Komisioner KPI Pusat, Yuliandre Darwis dan Rektor Universitas Udayana. **/Man

 

Denpasar - Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi 2021 kembali digelar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. Riset yang melibatkan 12 Perguruan Tinggi yang ada di 12 Kota, dapat menjadi acuan bagi industri penyiaran dan masyarakat saat memilih sebuah tayangan itu layak atau tidak untuk ditonton. Metodelogi yang dipakai dalam riset atau survei ini lebih mengutamakan sudut pandang kualitas.

Dalam salah satu kota kegiatan workshop Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi tahun 2021 bersama Universitas Udayana ini dilaksanakan sebagai bentuk perjuangan KPI Pusat demi melahirkan tayangan yang sehat dan berkualitas.

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis mengatakan, workshop ini untuk menyamakan persepsi sebelum pelaksanaan riset . Dari hasil riset ini, dirinya berharap tingginya rasa kepedulian masyarakat untuk bisa memilih tayangan yang dirasa perlu.

“Tujuan dari wokshop ini adalah memperkukuh integrasi nasional dan watak jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, ” kata Yuliandre saat membuka acara Workshop Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Tahun 2021 di Westin Hotel, Denpasar, Bali (21/4/2021).

Lebih lanjut, Pria yang biasa disapa Andre ini, perkembangan industri media sekarang harus disikapi oleh pihaknya dengan sebuah tanggung jawab moral yang besar agar dapat mewujudkan marwah media yakni mengedukasi setiap elemen bangsa.

Ia menilai, riset yang bekerja sama dengan 12 perguruan tinggi di Indonesia dan banyak melibatkan ahli di dalamnya, perlu untuk dilakukan secara berkelanjutan. Sedangkan hasil dari riset diharapkan dapat menjadi rujukan lembaga penyiaran agar dapat selalu meningkatkan kualitas program tayangannya.

“Saya secara pribadi pun merasa perlu jika kita bisa menilai suatu kualitas program siaran televisi untuk masyarakat,” tutur Andre.

Perlu diketahu pula, Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi ini merupakan program prioritas nasional bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan harapan ketergantungan lembaga penyiaran kepada rating tidak begitu tinggi.

Pada kesempatan itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana, Prof. Rai Maya Temaja dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Udayana mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan riset indeks kualitas program siaran televisi masih dapat dilaksanakan. Ditambah Universitas Udayana masih mendapatkan tempat untuk bisa berkontribusi memberikan pandangan serta penilaian terhadap kuliatas penyiaran televisi di Indonesia.

“Hal-hal seperti yang kita kerjakan bersama dengan KPI sejak tahun 2015 merupakan bagian arah kebijakan dari penelitian yang ada di Universitas Udayana,” katanya. **/Man

 

Banjarmasin -- Penyiaran memiliki pengaruh besar terhadap penguatan karakter serta kemajuan bangsa. Untuk  mewujudkan hal besar itu, penyiaran harus menjadi teladan dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan yang ada di negeri ini melalui sajian siaran yang mendidik, baik dan berkualitas. Hal itu disampaikan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Sutarto Hadi, di sela-sela pembukaan Workshop Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV 2021 yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Banjarmasin, Sabtu (17/4/2021).

Menurut Sutarto, peningkatan kualitas penyiaran khususnya siaran TV mesti dilakukan dengan berbagai cara dan salah satunya lewat program riset yang diselenggarakan KPI. Upaya ini harus terus dilakukan agar peningkatkan dan pengembangan kualitas siaran tetap terjaga. 

"Pelaksanaan riset ini harus terus berjalan dan berkelanjutan. Riset ini dapat menyadarkan kita untuk meningkatkan kualitas siaran karena ini penting bagi bangsa dan negara Indonesia. Saya mengapresiasi apa yang dilakukan KPI melalui riset ini," katanya di depan peserta Workshop Riset yang sebellum acara telah melewati tes swab antigen.

Selain apresiasi, Sutarto menyampaikan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan KPI kepada ULM atas keterlibatan pelaksanaan riset indeks kualitas siaran TV yang telah berjalan sejak tujuh tahun lalu. 

Koordinator Bidang Isi Siaran KPI Pusat, Mimah Susanti, berharap kerjasama dengan perguruan tinggi dalam riset yang diselenggarakan di 12 Kota termasuk dengan ULM tetap terjalin. Menurutnya, riset ini bertujuan menciptkan konten siaran TV yang berkualitas dengan berbasis data. 

"Program riset ini didasari dari kegelisahan yang dialami oleh masyarakat mengenai kualitas program televisi. Sebagai pengawas, kami juga menilai perlunya pembenahan agar kualitas siaran televisi tidak hanya bergantung atau mengedepankan rating dan iklan yang masuk saja. Upaya ini agar kualitas siaran tidak menurun yang dapat berakibat pada tidak adanya essensi edukasi yang terkandung di dalam siaran tersebut," jelas Santi penuh harap.

Sementara itu, Koordinator Bidang Komunikasi Bappenas, Dewi Sri Setyaningsih, berharap program riset indeks kualitas siaran TV ini dapat mencapai target lebih dari yang ditetapkan yang sesuai dengan arah kebijakan RPJPN 2005-2025. Menurutnya, salah satu arah kebijakan RPJPN adalah meningkatkan kualitas siaran. 

"Lembaga penyiaran harus memenuhi standar dan memperhatikan pengaduan masyarakat mengenai tayangan-tayangan yang meresahkan. Jangan hanya mengejar rating saja tanpa diimbangi kualitas yang mumpuni," katanya.

Berdasarkan hasil riset mulai dari tahun 2017-2020, kualitas tayangan televisi terus mengalami perbaikan. Menurut Dewi, hal yang perlu diperbaiki dalam siaran yakni nilai edukasi dalam setiap program. "Masih banyak siaran televisi yang mengarah kepada entertainmen dan hiburan semata sehingga hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah untuk KPI," tuturnya.

Setelah kegiatan workshop, acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU (memorandum of understanding) atau perjanjian kerja sama antara Universitas Lambung Mangkurat dengan KPI. Penandatangan kerjasama ini dilakukan langsung Rektor ULM Prof. H. Sutarto Hadi, dan Komisioner KPI Pusat, Mimah Susanti. Turut hadir konsultan Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi, Dekan FIKOM IISIP Jakarta, Dr. Mulharnetty Syas. **

 

 

 Ambon - Peningkatan kualitas siaran televisi berdasar pada Riset Indeks Kualitas Siaran Televisi yang digelar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selama tahun 2020 menunjukkan adanya upaya dari lembaga penyiaran, untuk senantiasa meningkatkan kualitas konten yang disampaikan di hadapan publik. Dalam riset yang dilakukan dua kali di tahun 2020, secara agregat nilai indeks yang didapat mengalami peningkatan yakni 3,14 dan 3,21. Komisioner KPI Pusat Bidang Kelembagaan Hardly Stefano Pariela menyampaikan hal tersebut saat membuka acara Workshop di Universitas Pattimura dalam rangka Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi periode 1 tahun 2021, (20/4). 

Capaian hasil riset indeks di tahun 2020 ini, menurut Hardly merupakan hal yang menggembirakan. Persaingan industri televisi yang semakin ketat, tentu menuntut kreativitas tinggi dalam rangka merebut perhatian pemirsa. Namun di saat bersamaan, lembaga penyiaran tetap memiliki kewajiban untuk menjaga agar konten siarannya selaras dengan arah dan tujuan terselenggaranya penyiaran, sebagaimana amanat undang-undang. “Jadi, dengan capaian indeks melampaui angka tiga, tentu layak untuk diberikan apresiasi,” ujarnya. 

Sebelum workshop yang mengikutsertakan kalangan akademisi, digelar pula penandatanganan perpanjangan nota kesepahaman antara KPI dengan Universitas Pattimura. Secara khusus Hardly berharap kerja sama ini dapat dikembangkan lebih luas, termasuk kerja sama literasi media dan sosialisasi penyiaran digital. 

Dalam undang-undang nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja, terdapat amanat untuk melakukan perpindahan sistem penyiaran dari sistem analog ke digital paling lambat pada November 2022. Hardly berharap melalui penyiaran digital, seluruh wilayah di maluku dapat menerima siaran televisi Free To Air (FTA) terrestrial secara gratis. Karena selama ini dengan karakteristik wilayah kepulauan, infrastruktur penyiaran televisi analog belum bisa menjangkau seluruh wilayah. Selama ini, sebagian besar masyarakat Maluku harus menggunakan televisi berlangganan atau antena parabola untuk mendapatkan siaran televisi FTA yang seharusnya gratis. KPID dan pemerintah provinsi Maluku diharapkan memiliki kepedulian terkait agenda digitalisasi penyiaran ini. Selain itu diperlukan sosialisasi  secara massif kepada seluruh masyarakat maluku agat mengetahui dan dapat berpartisipasi dalam agenda digitalisasi penyiaran. “Masyarakat harus diberikan pemahaman jika perangkat televisi yang dimiliki tidak mendukung siaran digital, maka pada November 2022 tidak dapat lagi menonton siaran televisi,”ujarnya. 

 

 

 

 

Penyiaran digital, ujar Hardly, selain memberi tantangan juga menghadirkan peluang besar yang harus memberi kemanfaatan bagi kesejahteraan masyarakat.  Dirinya berharap, seminar dan sosialisasi tentang siaran digital dapat menjadi salah satu ruang lingkup kerja sama antara KPI dan Unipatti. 

“Masyarakat harus terus disosialisasikan tentang penyiaran digital,” ucapnya. Tanpa sosialisasi memadai dan tanpa partisipasi seluruh pemangku kepentingan penyiaran, mungkin saja agenda digitalisasi ini berjalan tepat waktu. “Namun kemanfaatannya bagi masyarakat tidak didapat secara optimal. Bahkan berpotensi merugikan masyarakat di beberapa wilayah tertentu,” pungkasnya. Hadir dalam workshop tersebut Rektor Unipatti Prof. Dr Sapteno, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpatti Prof Dr Tonny Pariela, dan Ketua KPID Maluku Mutiara Dara Utama.

 

 

Semarang -- Program riset indeks Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terhadap kualitas program siaran televisi yang sudah dicanangkan tujuh tahun lalu diharapkan dapat mengurai ketergantungan lembaga penyiaran TV pada rating. Selain itu, riset yang bekerjasama dengan 12 Perguruan Tinggi Negeri di 12 Kota ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas program siaran televisi. 

Hal itu disampaikan Wakil Ketua KPI Pusat, Mulyo Hadi Purnomo, di sela-sela pembukaan Workshop Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV Tahun 2021 di Semarang, Sabtu (17/4/2021). Kegiatan riset indeks di Semarang, KPI bekerjasama dengan Universitas Diponegoro (Undip).

"Program riset ini merupakan program prioritas KPI dengan Bappenas dengan maksud mengurai ketergantungan penyiaran TV dengan rating. Riset ini pun menjadi salah satu masukan bagi KPI untuk membuat bahan panduan bagi pemirsa. Masukan dari akademisi menjadi bahan kami untuk bicara dengan pemangku kepentingan dan lembaga penyiaran," jelas Mulyo kepada peserta workshop.

Pertimbangan lain diselenggarakannya riset ini, selain sebagai bahan masukan serta untuk meningkatkan kualitas siaran adalah salah satu bentuk penilaian KPI pada seluruh program siaran yang diawasi. Sekarang ini, ada 18 siaran televisi berjaringan yang diawasi atau dipantau langsung KPI. 

Terkait penilaian program tersebut, KPI menjadikan hasil riset ini sebagai bahan pertimbangan membuat kebijakan terutama terkait tiga kategori program siaran yakni infotainmen, variety show dan sinetron. Misalnya, untuk sinetron yang kerap kali tayang tanpa perencanaan matang. Memang ada pengecualian untuk beberapa sinetron, tapi jumlahnya tak siginifikan. 

"Kebanyakan tayangan sinetron seperti tidak ada ujung ceritanya dan kejar tayang setiap hari. Bagaimana bisa berharap kualitas dari sinetron seperti itu. Kecuali sinetron Para Pencari Tuhan yang  perencanaan cerita dan penggarapannya sangat baik dan disiapkan sudah jauh-jauh hari. Karena itu, kami mencoba membuat kebijakan dengan LSF supaya yang masuk ke lembaga tersebut dalam bentuk satu musim tayang. Jadi yang masuk dapur sensor paket yang telah jadi dari hasil yang direncanakan dengan matang dan jelas. LSF juga ingin melibatkan kementerian dan lembaga lain agar sinetron kita dapat berubah dalam produksinya," kata Mulyo Hadi.

Komisioner bidang Isi Siaran ini juga menyampaikan bahwa riset ini sebagai instrumen untuk masyarakat dalam memilah dan memilih siaran televisi. Selain itu, hasil riset juga dapat dijadikan basis data penelitian dan pengawalan isi siaran. "Hasil riset ini pun penting bagi civil society dan kelompok-kelompok atau komunitas pemantau penyiaran dalam mendorong perbaikan konten televisi. Saya berharap penilaian evaluatif atas program yang menjadi sample riset dapat dimunculkan agar pelaku industri bisa menjadikannya sebagai referensi perbaikan program" ujar Mulyo.

Sementara itu, Rektor Undip, diwakili Dekan FISIP, Hardi Warsono mengatakan, riset ini merupakan bagian dari Tri Darma kalangan perguruan tinggi yakni sebagai pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Menurutnya, penelitian ini merupakan bentuk pengayaan materi yang dapat disampaikan ke mahasiswa. "Hasil riset ini akan membentuk konsentrasi yang terang bagi masyarakat. Dengan pakar-pakar yang kredibel, termasuk dari kampus di luar Undip dan lembaga pemerhati penyiaran, maka hasilnya akan dapat dipertanggungjawabkan," katanya.

Selain itu, kegiatan penelitian terhadap segala masalah yang berkembang akan menciptakan hasil yang nyata dan menghasilkan inovasi serta solusi yang dapat memberikan manfaat langsung dalam pebagai bidang termasuk penyiaran.

"Memang dalam hal ini ada tarikan antara rating dan kualitas siaran. Belum tentu yang ratingnya bagus berkualitas. Undip sendiri dengan visinya mendukung riset yang unggul dan tentunya mendukung riset KPI ini," tegasnya.

Hardi juga menyatakan riset yang ditawarkan KPI dinilai sebagai riset terapan yang hasilnya dapat diterima langsung oleh masyarakat yang tujuan utama memajukan penyiaran di tanah air.

Di awal acara, dalam sambutannya, Ketua KPI Pusat, Agung Suprio, menyampaikan terimakasih kepada perguruan tinggi khususnya Universitas Diponegoro atas keterlibatannya dalam kegiatan riset indeks KPI di tahun ini.  Menurutnya, Undip merupakan salah satu mitra yang luar biasa dalam sumbangsih pemikiran terhadap pengembangan kualitas penyiaran di negeri ini. 

"Kita sudah lakukan kerjasama ini selama tujuh tahun dan Undip telah memberikan kontribusi yang luar biasa," tutur Agung. ***

Hak Cipta © 2021 Komisi Penyiaran Indonesia. Semua Hak Dilindungi.